JNEWS – Bulan suci Ramadan 1447 H/2026 sebentar lagi tiba. Kesibukan mulai terasa di masjid-masjid, termasuk masjid-masjid di Yogyakarta. Bersih-bersih untuk menyambut jamaah diintensifkan. Karpet dicuci. Sound system dicek ulang. Sebagian lainnya pasang AC, menjadi pemandangan yang menyejukkan.
Masjid bersolek menyambut bulan puasa. Jemaah dipastikan lebih banyak melakukan interaksi ibadah: mulai dari salat fardu lima waktu, salat sunnah tarawih hingga menunggu waktu berbuka bersama.
Pemandangan ini tidak dijumpai di bulan-bulan lainnya. Masjid yang rindu menunggu jamaahnya akhirnya segera datang juga.
Di sisi lain, ada amalan di bulan Ramadan yang sayang untuk ditinggalkan. 10 malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik meraih keutamaan Lailatul Qadar. Banyak jamaah yang melakukan iktikaf di dalam masjid untuk meneladani Rasulullah SAW.
Iktikaf berarti menetap, mengurung diri, atau tertahan pada sesuatu. Secara istilah dalam agama Islam, iktikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari kesibukan duniawi.
Tujuan dari iktikaf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), merenungi perbuatan diri (muhasabah), dan memutuskan hubungan sementara dari gangguan dunia agar hati bisa fokus sepenuhnya pada ibadah.
Baca juga: Deretan Masjid Termegah di Dunia yang Menjadi Ikon Arsitektur Islam
Iktikaf paling utama dilakukan pada 10 malam terakhir bulan Ramadan. Hal ini dilakukan untuk meneladani Rasulullah SAW dan untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Selama berdiam diri di dalam masjid, seseorang biasanya mengisi waktunya dengan salat sunnah, membaca dan mentadabbur Al-Qur’an, berzikir dan bersalawat serta berdoa dengan sungguh-sungguh.
Beberapa masjid di Yogyakarta menjadi jujugan jamaah yang ingin melakukan iktikaf. Bukan sekadar iktikaf, masjid-masjid ini mampu memberikan pengalaman spiritual yang khas, karena di antaranya memiliki manajemen kegiatan Ramadan yang sangat rapi dan nyaman.
Berikut adalah 10 rekomendasi masjid di Yogyakarta untuk melaksanakan iktikaf:
Masjid Kampus UGM
Salah satu pusat iktikaf paling populer di Yogyakarta. Program Ramadan di Kampus (RDK) UGM sangat terstruktur. Fasilitas lengkap, kajian rutin dari tokoh-tokoh nasional, dan biasanya disediakan menu sahur gratis (dengan kuota terbatas). Suasananya sangat hidup dengan mahasiswa dan masyarakat umum.
Masjid Jogokariyan
Terkenal dengan manajemen masjidnya yang mendunia. Iktikaf di sini memberikan nuansa kekeluargaan yang kental. Manajemen logistik (buka puasa/sahur) yang sangat profesional dan lingkungan yang sangat ramah terhadap pendatang. Masjid Jogokariyan juga menginisiasi Kampoeng Ramadan Jogokariyan (KRJ) di mana selama bulan puasa, kawasan di sekitar masjid berubah menjadi pasar kuliner yang sangat ramai.

Setiap hari selama Ramadan, masjid menyediakan sekitar 3.000 porsi takjil piringan untuk jamaah yang berbuka puasa.
Masjid Gedhe Kauman
Masjid bersejarah milik Keraton Yogyakarta. Iktikaf di sini memberikan sensasi kembali ke masa lalu. Arsitektur Jawa klasik yang megah dan area yang sangat luas. Cocok untuk jamaah yang menyukai ketenangan dalam sejarah. Suasana klasik, tenang, dan sakral.
Masjid Syuhada
Masjid bersejarah yang dibangun sebagai monumen perjuangan. Lokasinya sangat strategis di pusat kota. Memiliki program iktikaf yang terorganisir dengan bimbingan ibadah dan kajian yang mendalam. Suasana nyaman dengan sirkulasi udara yang baik.
Masjid Ulil Albab UII
Berada di lingkungan kampus terpadu UII Jalan Kaliurang. Suasana asri dan udara yang relatif lebih sejuk karena berada di area utara Yogyakarta. Sangat mendukung untuk fokus beribadah. Suasana akademis dan tenang.
Masjid Gede Mataram
Masjid tertua di Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1587 oleh Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam. Masjid ini adalah lokasi yang sangat favorit untuk iktikaf, terutama pada malam-malam ganjil di akhir Ramadan. Suasananya yang kuno, tenang, dan jauh dari kebisingan kota memberikan kekhusyukan tersendiri bagi jemaah yang ingin mendekatkan diri kepada Allah.
Masjid Quwaatul Islam
Terletak di Jalan Mataram Yogyakarta, timur kompleks Kantor Gubernur DIY di kawasan Malioboro. Masjid dengan perpaduan akulturasi budaya Banjar dan Jawa. Masjid berdiri megah di jantung kota. Suasana ramai dan religius.
Masjid Nurul Ashri
Masjid yang sangat akrab dengan kalangan pemuda dan mahasiswa di daerah Gejayan/Deresan. Program iktikaf “Full Day” dengan fasilitas yang baik dan pemateri kajian yang progresif. Suasana dinamis dan dipenuhi anak muda.
Masjid Suciati Saliman
Masjid dengan arsitektur menyerupai Masjid Nabawi di Madinah, terletak di Jalan Gito-Gati Sleman. Estetika bangunan yang indah dan fasilitas modern. Memberikan kenyamanan visual dan fisik saat beribadah. Suasana megah dan nyaman.
Masjid Pathok Negoro
Masjid bersejarah yang menjadi pilar pertahanan spiritual dan hukum bagi Kasultanan Yogyakarta. Dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, masjid-masjid ini melambangkan konsep Mata Angin yang melindungi keraton dari empat penjuru.
Ada 5 Masjid Pathok Negoro utama yang tersebar di wilayah Yogyakarta.
Masjid Pathok Negara Mlangi (Barat) terletak di Dusun Mlangi, Gamping, Sleman. Masjid Jami’ Pathok Negoro Ploso Kuning (Utara) terletak di Minomartani, Ngaglik, Sleman. Arsitekturnya dianggap paling terjaga keasliannya dan sangat mirip dengan Masjid Gedhe Kauman. Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan (Timur) berlokasi di Banguntapan, Bantul. Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan (Selatan) berada di Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Dan, Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (Sisi Selatan Jauh) terletak di Pleret, Bantul.
Beberapa masjid, seperti Masjid Jogokariyan membuka pendaftaran iktikaf dengan kuota 80 peserta yang terdiri 50 ikhwan dan 30 akhwat tercepat dengan usia minimal 9 tahun. Iktikaf dilaksanakan 10 hari pada 9-19 Maret 2026 dengan biaya pendaftaran Rp500 ribu. Peserta mendapatkan fasilitas makan buka puasa, sahur dan snack malam. Aula istirahat ber-AC, kasur, bantal, merchandise dan rangkaian kegiatan iktikaf.
Pastikan kondisi fisik prima karena jadwal ibadah di malam hari (Qiyamul Lail) biasanya cukup panjang. Jamaah bisa membawa alas tidur tipis, alat mandi, serta pakaian ganti yang cukup.