JNEWS – Desa Wisata Setulang berlokasi di Kabupaten Malinau, sekitar 32 km dari Kota Malinau dan 221 km dari Tanjung Selor, ibu kota Kalimantan Utara. Desa ini merupakan permukiman masyarakat adat Dayak Kenyah Oma Lung yang hingga kini masih mempertahankan cara hidup tradisional dalam keseharian mereka.
Sejak awal, warga desa wisata ini telah menjaga alam dan menjalankan aturan adat dengan ketat. Lingkungan desa masih dikelilingi hutan dan sungai yang menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat.
Desa Wisata Setulang dan 6 Daya Tariknya
Desa Wisata Setulang berawal dari pindahnya masyarakat adat Dayak Kenyah Oma Lung dari wilayah hulu sungai. Perpindahan ini dilakukan secara bertahap, mengikuti kebutuhan hidup, keamanan, dan ketersediaan sumber daya alam.
Sejak awal menetap di lokasi saat ini, masyarakat Setulang hidup dengan bergantung langsung pada hutan dan sungai di sekitarnya. Hutan tidak hanya menjadi sumber pangan dan obat-obatan, tetapi juga bagian penting dari sistem adat dan kepercayaan.
Berikut adalah beberapa daya tarik Desa Wisata Setulang yang membuat desa ini dikenal sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya di Kabupaten Malinau.

1. Budaya Adat Dayak Kenyah Oma Lung Masih Dijalani Sehari-hari
Budaya Dayak Kenyah Oma Lung di Desa Setulang dapat dilihat dengan jelas dalam aktivitas harian warga. Salah satunya di sini sering ada pertunjukan tari Kancet Ledo dan Kancet Lasan, yang biasanya ditampilkan dalam acara adat desa.
Selain tari, musik tradisional dengan alat petik seperti sape’ juga masih dimainkan, baik untuk mengiringi tarian maupun sebagai bagian dari kegiatan adat.
Dalam kehidupan sehari-hari, musyawarah adat masih menjadi cara utama warga mengambil keputusan penting, mulai dari pengelolaan hutan hingga urusan sosial desa. Tokoh adat memiliki peran besar, tetapi keputusan tetap diambil secara bersama, bukan sepihak.
Rumah adat dan balai pertemuan digunakan untuk kegiatan bersama, seperti rapat adat, upacara, atau penerimaan tamu. Pakaian adat juga masih dikenakan pada momen-momen tertentu, terutama saat upacara adat atau acara penting desa.
Budaya juga terlihat dari cara warga menjaga hubungan dengan alam, misalnya melalui aturan adat tentang kapan dan bagaimana hasil hutan boleh diambil.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Budaya dan Tradisi Masyarakat Adat di Kalimantan Utara
2. Hutan Adat Tane’ Olen
Hutan adat Tane’ Olen—yang kalau diterjemahkan secara bebas artinya adalah tanah yang dilarang—adalah hutan hujan tropis seluas 4.315 hektare yang menjadi jantung kehidupan Desa Wisata Setulang. Hutan ini merupakan contoh konkret bagaimana masyarakat menjaga alam dengan aturan adat.
Hutan ini tidak boleh ditebang sembarangan, karena ada kesepakatan bersama yang dijaga lintas generasi. Setiap bagian hutan punya fungsi, ada yang dilindungi penuh, ada yang boleh dimanfaatkan dengan batasan yang tegas.
Banyak jenis tanaman hutan yang masih tumbuh alami di area hutan ini, termasuk yang digunakan untuk obat tradisional. Warga desa memahami betul mana yang boleh diambil dan mana yang harus dibiarkan.
3. Sungai dan Permandian yang Alami
Selain hutan adat, keberadaan Sungai Malinau di sekitar Desa Wisata Setulang juga menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Sungai digunakan untuk mandi, mencuci, dan kadang menjadi jalur transportasi tradisional. Airnya relatif jernih karena kawasan hutan di hulu masih terjaga dengan baik.
Beberapa titik sungai membentuk kolam alami yang sering dimanfaatkan sebagai tempat berendam atau bermain air. Salah satunya adalah Air Panas Semolon. Pemandian ini berada di kawasan hutan dan memiliki aliran air hangat yang membentuk undakan alami seperti air terjun kecil. Sumber air panasnya bukan berasal dari gunung berapi, melainkan dari proses alami di dalam tanah, sehingga suhunya tidak terlalu ekstrem dan aman untuk berendam.

4. Warga Desa yang Ramah
Di Malinau, terdapat 4 desa wisata, dan Desa Wisata Setulang adalah salah satunya. Sebagai lokasi tujuan wisata, warga Desa Wisata Setulang sangat ramah menyambut tamu. Bahkan sering kali ditunjukkan tari-tarian penyambutan seperti Tari Perang.
Dalam banyak kasus, warga juga bersedia menjadi pemandu jika wisatawan ingin mengeksplorasi hutan adat, sungai, atau Air Panas Semolon. Keramahan warga di sini bukan layanan, tetapi kebiasaan sosial yang sudah lama terbentuk.
5. Kerajinan Tangan dengan Nilai Seni Tinggi
Desa Wisata Setulang memiliki beragam kerajinan khas yang dibuat dari rotan dan anyaman tradisional. Masyarakat setempat dikenal terampil mengolah rotan menjadi berbagai benda fungsional maupun hiasan.
Beberapa di antaranya adalah taket loong tong, yaitu topi tradisional yang biasa dikenakan dalam tarian dan kegiatan adat, serta tazeng, tikar anyaman dengan motif khas yang mencerminkan identitas budaya setempat. Selain itu, terdapat engen atau kerokang, bentuk anyaman lain yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, serta balanyat atau lanyet kalung, tas punggung tradisional berbahan rotan.
Seluruh kerajinan ini dibuat dengan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Keunikan dan nilai budayanya membuat produk-produk tersebut diminati oleh wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
6. Aktivitas Bertani dan Pola Hidup yang Masih Bergantung pada Alam
Sebagian besar warga Desa Wisata Setulang masih menjalani aktivitas bertani dan berkebun sebagai sumber penghidupan utama. Lahan pertanian dikelola secara sederhana, tanpa alat berat atau sistem industri. Jenis tanaman yang ditanam umumnya disesuaikan dengan kebutuhan keluarga dan kondisi alam sekitar. Pola tanam mengikuti musim dan pengalaman turun-temurun.
Selain bertani, warga juga memanfaatkan hasil hutan non-kayu seperti rotan, buah hutan, dan tanaman obat, dengan batasan yang jelas menurut adat. Tidak semua area hutan boleh dimasuki atau diambil hasilnya.
Baca juga: 10 Desa Terindah di Dunia dengan Pemandangan Memesona
Desa Wisata Setulang dikenal sebagai ruang hidup yang menyatukan alam, adat, dan aktivitas masyarakat dalam keseharian yang masih terjaga. Akses menuju desa ini dapat ditempuh dari Kota Tarakan ke Malinau melalui jalur udara sekitar 30 menit atau menggunakan speedboat, kemudian dilanjutkan perjalanan darat sejauh kurang lebih 32 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam menuju Setulang.












