JNEWS – Lamongan sering diingat karena sotonya yang legendaris. Namun, urusan buah tangan juga tidak kalah menarik. Pilihan oleh-oleh khas Lamongan cukup beragam, mulai dari camilan kering sampai jajanan tradisional.
Umumnya produk oleh-oleh Lamongan mencerminkan karakter daerah pesisir, terutama yang berbahan dasar ikan atau siwalan.
Pilihan Oleh-Oleh Khas Lamongan untuk Dibawa Pulang

Saat berkeliling Lamongan, ada banyak deretan toko oleh-oleh di jalur utama hingga pasar tradisional. Wisatawan akan dapat menemukan banyak produk oleh-oleh khas Lamongan dalam kemasan modern, ada juga yang tetap mempertahankan bentuk lama dengan bungkus daun atau kertas minyak. Wisatawan dapat memilih dengan menyesuaikan selera dan kebutuhan. Berikut daftar pilihan oleh-oleh selengkapnya.
1. Wingko Babat
Wingko Babat sering dikira berasal dari Semarang karena memang lebih dulu populer di sana. Padahal asalnya dari Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Nama Babat yang melekat pada wingko itu memang diambil langsung dari daerah asalnya tersebut.
Kue ini sudah dibuat sejak akhir abad ke-19 oleh keluarga perantau Tionghoa, salah satunya dikenal dengan nama Loe Soe Siang. Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1940-an ada anggota keluarga yang pindah ke Semarang dan mulai menjual wingko di sana. Dari situ, penjualannya makin luas dan lama-lama identik dengan Semarang, meskipun akarnya tetap dari Babat.
Di Lamongan sendiri, salah satu nama yang cukup dikenal adalah Wingko Babat Loe Lan Ing, yang masih mempertahankan resep lama. Lokasinya berada di jalur utama Babat.
2. Jumbrek
Jumbrek adalah jajanan tradisional khas wilayah pesisir Paciran, Lamongan. Bentuknya cukup khas, menyerupai kerucut atau terompet kecil, dibungkus daun lontar sehingga aromanya juga lebih wangi. Kue ini sudah dikenal sejak lama dan sering muncul dalam acara adat seperti sedekah bumi atau jamuan untuk tamu.
Bahan utamanya terdiri dari tepung beras, santan, dan gula siwalan atau legen yang memberi rasa manis khas. Ada juga yang menambahkan isian seperti potongan nangka, pisang, atau kelapa muda agar lebih variatif.
Pusat pembuatan jumbrek bisa ditemukan di Kecamatan Paciran, terutama di sepanjang jalur Pantura dekat kawasan Wisata Bahari Lamongan. Salah satu nama yang cukup dikenal adalah Jumbrek Bu Karmini, yang sudah berjualan sejak tahun 1960 dan masih dikelola oleh generasi berikutnya. Tempatnya berada di area Gang Sorasem, Paciran.
3. Marning
Marning adalah camilan khas Lamongan yang dibuat dari biji jagung tua yang dikeringkan lalu digoreng hingga renyah. Rasanya tidak cuma asin, sekarang sudah banyak varian seperti pedas, manis, sampai balado yang lebih kekinian.
Proses pembuatan oleh-oleh khas Lamongan ini cukup panjang karena jagung harus direndam, dijemur, lalu digoreng dengan teknik tertentu supaya hasilnya renyah merata. Di Lamongan, marning banyak diproduksi oleh usaha rumahan dan dijual dalam berbagai ukuran kemasan. Harganya juga relatif terjangkau, jadi sering diborong dalam jumlah banyak.
4. Gula Merah Siwalan
Gula merah siwalan merupakan pemanis alami khas Lamongan, terutama dari wilayah Paciran. Bahan dasarnya berasal dari nira pohon siwalan atau legen yang direbus hingga mengental lalu dicetak. Gula ini juga jadi salah satu bahan penting dalam pembuatan jumbrek karena memberi rasa manis yang khas dan tidak bisa digantikan gula biasa.
Dibanding gula merah pada umumnya, gula siwalan punya aroma yang lebih wangi dan rasa manis yang lebih dalam. Bentuknya biasanya bulat atau setengah lingkaran, mengikuti cetakan dari tempurung kelapa atau daun siwalan.
Gula merah siwalan cukup mudah ditemukan di Pasar Tradisional Paciran karena banyak dijual langsung oleh pengrajin. Selain itu, beberapa toko oleh-oleh di sepanjang jalur Pantura Lamongan–Tuban juga menyediakan produk ini dalam kemasan yang lebih rapi, jadi lebih praktis untuk dibawa pulang.

5. Jenang Rochis
Jenang rochis bentuknya mirip dodol dengan tekstur kenyal dan rasa manis yang pekat. Ciri khasnya ada pada penggunaan ketan hitam yang dicampur santan dan gula merah, sehingga warnanya lebih gelap dan aromanya juga lebih kuat dibanding jenang biasa.
Kalau ingin dibawa sebagai oleh-oleh khas Lamongan, jenang ini umumnya bisa bertahan sekitar beberapa hari di suhu ruang karena tidak banyak memakai bahan pengawet. Untuk mendapatkannya, Jenang Rochis cukup mudah ditemukan di deretan toko oleh-oleh di sepanjang jalur Pantura Paciran. Kalau ingin langsung ke tempat produksinya, ada toko Jenang Rochis yang berlokasi di Jalan K.H. Zen, Paciran, Lamongan.
6. Ental
Ental adalah sebutan lokal untuk buah dari pohon siwalan atau lontar yang banyak ditemukan di daerah Paciran hingga Tuban. Buah ini cukup dikenal sebagai oleh-oleh khas Lamongan karena identik dengan wilayah pesisir utara dan mudah ditemukan saat musim panen. Biasanya dijual dalam kondisi segar oleh pedagang di pinggir jalan atau pasar tradisional.
Ental muda punya daging berwarna putih bening dengan tekstur kenyal tapi lembut, mirip kolang-kaling namun lebih berair. Di dalamnya ada cairan manis yang rasanya segar, hampir seperti air kelapa muda. Sensasi ini yang bikin ental banyak dicari, terutama saat cuaca panas.
Meski menarik sebagai oleh-oleh, ental lebih cocok dikonsumsi langsung atau dibawa untuk perjalanan dekat. Daya tahannya terbatas dan perlu penanganan hati-hati supaya tidak cepat berubah rasa.
7. Keripik Sunduk
Keripik sunduk adalah camilan khas pesisir Lamongan yang dibuat dari olahan ikan laut segar yang disebut sunduk. Ikan ini banyak ditemukan di perairan utara Jawa. Bahan dasarnya diolah menjadi adonan tipis, lalu digoreng hingga kering dan renyah.
Teksturnya tipis dan garing, sekilas mirip keripik ikan atau kemplang, tapi rasa ikannya lebih terasa karena seratnya masih cukup kuat. Rasanya gurih dengan aroma laut yang khas.
Keripik sunduk cukup mudah ditemukan di Lamongan. Banyak dijual di pusat oleh-oleh, termasuk di area sekitar Wisata Bahari Lamongan. Kalau ingin yang lebih segar, biasanya tersedia di sekitar Pasar Ikan Brondong karena dekat dengan sumber bahan bakunya.
8. Rempeyek Cinta Rasa
Rempeyek Cinta Rasa dikenal sebagai salah satu peyek legendaris dari Lamongan, terutama dari daerah Babat. Ciri utamanya ada di tekstur yang tipis, sangat renyah, dan tidak terasa berminyak saat dimakan. Itu yang bikin banyak orang lebih suka dibanding peyek biasa.
Varian rasanya cukup beragam. Ada peyek kacang tanah, peyek ikan teri, dan peyek udang rebon dengan aroma yang lebih kuat. Rempeyek ini awet, sehingga cocok sebagai oleh-oleh khas Lamongan. Selama disimpan di wadah tertutup, kerenyahannya bisa bertahan cukup lama.
Produk ini diproduksi di sekitar Babat, tapi sekarang sudah mudah ditemukan di banyak toko oleh-oleh, terutama di jalur Babat–Surabaya atau gerai yang memang fokus menjual produk khas Lamongan.

9. Madu Mongso Ketan Hitam
Madu mongso ketan hitam adalah jajanan tradisional Jawa Timur yang juga cukup mudah ditemukan di Lamongan, terutama di wilayah Babat dan Paciran. Walaupun namanya memakai kata madu, bahan ini tidak menggunakan madu lebah. Rasa manisnya berasal dari proses fermentasi ketan hitam yang kemudian dimasak dengan gula hingga menghasilkan tekstur legit dan sedikit lengket.
Bentuknya biasanya kecil-kecil dan dibungkus kertas minyak warna-warni dengan ujung diplintir. Rasanya cenderung manis dengan sedikit sentuhan asam dari fermentasi.
Madu mongso termasuk awet karena kadar gulanya cukup tinggi dan melalui proses masak yang lama. Dalam kondisi baik, camilan ini bisa bertahan sampai beberapa minggu bahkan lebih. Untuk mencarinya, biasanya tersedia di toko oleh-oleh khas Lamongan sekitar Babat, termasuk di beberapa toko wingko yang juga menjual produk ini sebagai pelengkap.
Memilih oleh-oleh dari Lamongan sebenarnya tidak rumit, tinggal menyesuaikan dengan lama perjalanan. Kalau jaraknya jauh, lebih aman pilih yang tahan lama dan tidak mudah berubah rasa. Kalau perjalanannya dekat, pilihannya lebih bebas karena hampir semua jenis oleh-oleh masih aman dibawa. Jadi tidak perlu bingung, cukup sesuaikan saja dengan kondisi perjalanan dan kebutuhan.












