Abang Tukang Bakso

Kang Maman, Penulis Buku dan Pegiat Literasi

Kebajikan Abang tukang bakso

Source: Canva

JELANG siang, dia lewat depan rumah. Setiap hari, sambil mengetok-ngetok mangkuk menggunakan sendok sebagai pertanda kehadirannya.

Semangkuk bakso dijualnya dengan harga Rp 13.000. Isinya, mi atau bihun atau keduanya sesuai keinginan pembeli, satu tahu, dua bakso gepeng, satu bakso polos, dan dua bakso urat.

Suatu hari, saat sedang memilih, memasukkan buku-buku bacaan – fiksi dan nonfiksi — ke dalam amplop cokelat atau kardus kecil dan besar untuk kukirim ke taman bacaan di berbagai daerah melalui JNE, ia kembali melintas. Langsung kuhentikan sementara kegiatanku dan kupanggilnya. Berlari kecil, aku masuk ke dalam rumah, mengambil mangkuk, dan mencomot dua lembar lima ribuan plus selembar dua ribuan yang ada di atas meja makan. Biasanya, istri atau putriku menaruh recehan, uang kembalian belanja di atas meja, untuk diberikan kepada pengamen, peminta-minta yang berhenti di depan rumah, atau buat jajan bakso, bakwan Malang, bubur ayam.

“Jangan pakai mi, bihun aja,” ujarku seraya menyerahkan uang sejumlah dua belas ribu perak. “Saya utang seribu, ya,” ujarku.

Sekejap dia langsung nyamber. “Cukup, Pak. Minggu lalu Bapak beli bakso dan kasih saya 14.000, saya nggak punya kembalian waktu itu. Jadi, saya punya utang 1000 sama Bapak.” Saya mematung, tak membalas, berusaha mengingat-ingat kembali, tapi tetap saja tak ingat. “Ya, sudah,” gumamku dalam hati, “Bapak ini orang hebat, ia ingat utangnya, meski hanya 1000.”

Tiba-tiba, dua buruh lepas dengan pengki dan cangkul di tangan melintas. Mereka biasanya menawarkan diri untuk membersihkan halaman, taman atau memangkas pohon milik warga perumahan yang ranting, cabang dan dedaunannya sudah doyong ke jalan. Sang pedagang bakso, langsung menghentikan langkah keduanya. Menyuruhnya menunggu sejenak, lalu memberikan dua mangkok bakso kepada mereka, yang sudah dimasukkan ke dalam plastik. Keduanya langsung mengucap terima kasih dan berlalu.

“Kenal mereka?” tanyaku.

“Tidak” jawabnya datar, sambil menyerahkan mi bakso pesananku.

Langsung tercekat, aku menatap wajah orang baik ini. Tak ada perubahan di paras wajahnya. Biasa-biasa saja. Tak ada rasa bangga yang diperlihatkannya, setelah berbuat kebaikan.

Di hari-hari berikutnya, pemandangan serupa kulihat. Tak cuma kepada buruh lepas, kepada ibu-ibu pemulung pun ia lakukan hal yang sama. Memberi sebungkus mi bakso, bahkan dua. Ia berikan juga pada anak kecil yang ikut mendampingi sang ibu mengorek-ngorek tempat sampah.

*

ABANG tukang bakso” — begitu lirik lagu anak-anak yang masih terngiang di telingaku – sungguh telah menjadi guru kehidupanku. Tak banyak bicara, tapi memberi contoh nyata tentang kebaikan yang bagiku, sungguh luar biasa: ia tak pernah melupakan utangnya, sesedikit apa pun.

Ketika kuceritakan hal ini pada anak-istriku, mereka pun pernah mengalami hal yang sama seperti yang kualami. “Emang. Bapak itu selalu ingat kalau kita pernah bayar lebih dan dia tidak punya kembalian.” Tak cuma itu. “Lihat deh, kalau dia melayani pembeli. Selalu tersenyum, dan mengucap terima kasih,” kata putriku.

Tak cuma soal utang yang selalu diingatnya. Tapi, tentang kebaikan yang dilakukannya: berbagi kepada sesama. Ketulusan memberi kepada orang yang tak dikenalnya sekali pun. Sesuatu yang kerap terlupa kulakukan. Kalau pun kulakukan, kerap diiringi omelan kecil di hati, seperti saat memberikan koin seribuan kepada “Pak Ogah” di perempatan jalan tanpa lampu pengatur lalu lintas, atau di belokan jalan masuk ke perumahan tempat tinggalku. “Bukannya bikin lancar jalanan, malah bikin tambah macet!!!”

Tiba di rumah, membuka telepon genggam, mataku tertuju pada sebuah tulisan di Twitter yang dicuitkan seseorang:  “Ketika Allah menaikkan level kekayaanmu, jangan ikut naikkan gaya hidupmu, tapi naikkanlah level berbagimu agar semakin berkah hidupmu.”

Terima kasih ya, Allah, atas segala kasih sayangMu. Tak putus Engkau ingatkan aku, lewat Abang Tukang Bakso, lewat cuitan orang di media sosial, tentang indahnya berbagi.

Sungguh, dari senyum tulus Abang Tukang Bakso, kutahu persis bahwasanya berbagi itu tidak pernah mengurangi. Justru, sebaliknya.

Exit mobile version