JNEWS ONLINE
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
No Result
View All Result
JNEWS Online
No Result
View All Result
Home Liputan Khusus Gelitik

Adu Mekanik

Kang Maman, Penulis Buku dan Pegiat Literasi

by Redaksi JNEWS
17 August 2023
kolom kang maman berjudul adu mekanik

Foto: Pixabay.

Share on FacebookShare on Twitter

DI KOTA besar seperti Jakarta, jalan raya kerap jadi ajang “adu mekanik” — meminjam istilah penggemar game, tapi maknanya sudah dibelokkan ke arah negatif. Semacam perseteruan dan pertarungan untuk membuktikan siapa yang terkuat, siapa yang paling berani menyerobot, adu klakson sampai adu keras-kerasan teriakan, cacian, makian, hinaan, bahkan sampai adu fisik segala. Semua merasa benar, atau setidaknya tidak boleh terlihat salah dan kalah, karena berisiko dituntut ganti rugi, dirundung ramai-ramai, hingga dilaporkan ke polisi.

Amarah pun dilangitkan dengan beragam bentuk. Suara digeletarkan seolah hendak mengalahkan lengking petir dan gemuruh guntur. Amok dibumikan dengan merusak kendaraan orang lain atau bahkan dengan ringannya melayangkan tangan dan bogem ke tubuh orang lain. Tak peduli orang itu lemah, tua renta atau masih balita, yang belum stabil mengayuh sepeda mininya, dan karenanya tak sengaja menyenggol Sang Tuan dan Sang Puan yang sedang berjalan, berolahraga pagi di tepian jalan.

Sejatinya, itu bukan cuma terjadi di jalan raya ibukota. Lihat saja video hasil rekaman tersembunyi atau terang-terangan, yang tersebar di media sosial, entah itu twitter, instagram atau facebook. Bagaimana orang-orang “adu mekanik” di jalanan kampung, di gang sempit, di ruang pelayanan publik, di rumah makan, di warung kopi, antartetangga di perumahan karena urusan parkir kendaraan di jalanan sempit dan lain sebagainya.

Hal itu sebenarnya kurang tepat juga untuk disebut “adu mekanik”, karena yang terjadi bukan pertarungan, melainkan seseorang atau sekelompok orang yang melampiaskan amarahnya kepada orang lain atau kelompok lain yang lebih lemah, lebih kecil dan lebih tak punya kuasa dibanding dirinya. Hanya karena menyenggol meja catur, seorang balita pun dihajar oleh seorang dewasa yang bergelar sarjana, misalnya. Relasi kuasa dipertontonkan di mana-mana, meski mulut-mulut mereka bisa bertutur manis tentang kesetaraan, keadilan, kasih dan sayang.

Kolom-kolom komentar di media sosial pun sama saja, sebagaimana juga yang terjadi di acara bincang-bincang layar kaca. Semua nama pengisi kebun binatang disebutkan untuk menyerang liyan, sebagaimana nada suara menggelegar disertai tarikan napas memburu seperti hendak menerkam liyan, yang dipertontonkan narasumber di layar kaca.

***

BANYAK alasan yang jadi penyebab kemarahan tersulut. Merasa diremehkan, diperlakukan tidak adil dan setara, disakiti, terancam, diserang, gagal mencapai tujuan, frustrasi, tidak berdaya, atau juga karena putus asa.

Selain itu, ada sejumlah faktor fisik dan mental yang menjadi penyebab orang mudah marah. Kurang tidur yang menyebabkan emosi jadi susah dikelola dan dikendalikan, gangguan kecemasan dan masalah kesehatan mental, adalah beberapa di antaranya.

Jadi, kira-kira begini sederhananya, kalau mau menjadi narasumber sebuah acara bincang-bincang dan sudah jelas temanya “panas”, sebaiknya tidur lebih awal dari biasanya. Jangan sampai kurang tidur! Atau, setidaknya, marah boleh dan wajar apalagi terhadap kesemena-menaan, kejahatan dan ketidakadilan, tapi tekankan sedari dini untuk memelihara dan merawat jenis marah “Level 1”: diam, menarik diri, atau mengabaikan biang kemarahan.

Pertahankan prinsipmu, yang kepala dan hatimu yakini kebenarannya dengan didukung oleh data dan fakta yang kuat serta akurat. Baca berulang-ulang hingga diyakini betul, sebelum disampaikan. Setelah itu, paparkan setenang mungkin, kelola intonasi suaramu. Percayalah, “bisikan” itu lebih cepat sampai ke hati, tinimbang teriakan membabi-buta. Karena bisikan dilakukan oleh dua orang yang “jaraknya berdekatan”, dan mudah merasuk sampai ke hati. Sementara teriakan dilakukan oleh dua orang yang “jaraknya berjauhan”, dan karenanya harus saling teriak untuk bisa terdengar. Itu pun sangat mudah terdistraksi oleh gabungan gaung dan gangguan emosional kedua pihak.

Marah, tetapi bisa mengelolanya, juga bisa menjauhkan diri dari beragam penyakit yang ditimbulkan oleh “hobi” marah yang meledak-ledak tak terkendali. Menurut penelitian, marah meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, tukak lambung, hingga stroke.

Ini sejalan dengan apa yang pernah diingatkan seorang sahabat. “Jangan marah-marah melulu, Man. Kendalikan dengan baik. Perjuangan menegakkan keadilan masih panjang, kami butuh kamu panjang umur. Jangan cepat mati, hanya karena memanjakan kemarahanmu.”

Selain itu, katanya, ketika kamu menampilkan ekspresi negatif — marah, cemberut, dan kesal — 43 ototmu harus bekerja keras untuk menunjukkan ekspresi tersebut. Sebaliknya, saat kamu menunjukkan ekspresi positif, hanya 14 otot yang dibutuhkan untuk membentuk lengkungan senyum di bibirmu. Ia sejatinya mau bilang, “Aku lebih senang melihatmu awet muda daripada cepat tua, berkerut peot karena suka marah-marah.”

Bahasa gaulnya, kalau menghadapi Si Tukang Amuk, “Senyumin aja.” Ini sebenarnya sudah banyak dipraktikkan oleh manusia-manusia hebat di layar kaca. Ekspresi senyum mereka kerap mewarnai layar kaca, kala narasumber tukang ngotot, hobi amuk, maki, hina dan marah-marah sedang beraksi, berisik tanpa berisi.

Aku jadi teringat sosok mulia yang pernah mengingatkan:

Jangan marah

Jangan marah

Jangan marah

Berkata yang baik atau diam.

Post Views: 232
Tags: connecting happinessJakartakedamaian batinsenyumin aja
Share214Tweet134
Next Post
Menginap di Hotel Murah di Jakarta Kota: Alternatif Menarik untuk Wisatawan Backpacker

Menginap di Hotel Murah di Jakarta Kota: Alternatif Menarik untuk Wisatawan Backpacker

TERKINI

kepala cabang JNE di Denpasar

Tekad I Made Singgih Besarkan JNE di Pulau Dewata

30 September 2026
Tempat Wisata di Brussel yang Menarik untuk Dijelajahi

8 Rekomendasi Tempat Wisata di Brussel yang Menarik untuk Dijelajahi

30 September 2026
Menjelajahi Lubang Buaya, Destinasi Wisata Sejarah di Jakarta

Menjelajahi Lubang Buaya, Destinasi Wisata Sejarah di Jakarta

30 September 2026
Urutan Pengiriman JNE: Mengenal Proses Paket dari Pengirim hingga Tujuan

Urutan Pengiriman JNE: Mengenal Proses Paket dari Pengirim hingga Tujuan

30 September 2026
pasar klithikan pakuncen

Menggapai Asa Baru di Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta

29 September 2026
jne x snada indonesia

Dukung Musik Nasional, JNE Jadi Official Logistics Partner Konser SNADA Indonesia 2026

29 September 2026

POPULER

Cara Menghadapi Overthinking dan Berhenti Terjebak dalam Pikiran Sendiri

Cara Menghadapi Overthinking dan Berhenti Terjebak dalam Pikiran Sendiri

by Penulis JNEWS
3 September 2026

pasar klithikan pakuncen

Menggapai Asa Baru di Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta

by Redaksi JNEWS
29 September 2026

Gunung Rinjani: Keindahan Alam dan Fakta Menarik tentang Gunung Ikonik di Lombok

Gunung Rinjani: Keindahan Alam dan Fakta Menarik tentang Gunung Ikonik di Lombok

by Penulis JNEWS
10 September 2026

Morning Routine Orang Sukses yang Bisa Ditiru

10 Morning Routine Orang Sukses yang Bisa Ditiru

by Penulis JNEWS
1 September 2026

Kuliner Pasar Ngasem yang Menggoda Selera, Wajib Masuk Wishlist

9 Kuliner Pasar Ngasem yang Menggoda Selera, Wajib Masuk Wishlist

by Penulis JNEWS
15 September 2026

JNEWS Online

©2020 - Your Trusted Logistic Portal

Navigate Site

  • About
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1

©2020 - Your Trusted Logistic Portal