JNEWS – Pernah merasa ingin membeli sesuatu setelah menjalani hari yang melelahkan? Kebiasaan emotional spending ini sebenarnya jamak dilakukan oleh siapa pun, terutama kalau kondisi atau suasana hati memang kurang baik.
Masalahnya, pengeluaran semacam itu bisa terus bertambah ketika belanja mulai sering dijadikan cara untuk mencari rasa senang atau mengusir pikiran yang tidak nyaman. Nominalnya mungkin kecil setiap kali transaksi, tetapi akumulasinya bisa mengganggu anggaran bulanan.
Karena itu, kebiasaan belanja perlu diperhatikan sebelum mulai memengaruhi keuangan sehari-hari.
Apa Itu Emotional Spending?

Dikutip bebas dari Psychology Today, emotional spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang sebagai respons terhadap kondisi atau dorongan emosional, bukan semata-mata karena kebutuhan.
Misalnya saja, kita sedang merasa stres, sedih, bosan, kecewa, kesepian. Lalu tiba-tiba saja sudah checkout dessert, baju, atau aksesori lucu-lucu. Tapi, ternyata kebiasaan ini tak hanya kita lakukan saat merasakan emosi negatif saja lho. Saat senang dan bahagia pun, dorongan untuk belanja juiga bisa meningkat.
Ada alasannya. Aktivitas membeli sesuatu ini memang dianggap dapat memberikan rasa nyaman atau kepuasan sesaat.
Dalam emotional spending, keputusan untuk membeli lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan pada saat itu daripada pertimbangan seperti kebutuhan, kemampuan finansial, atau rencana anggaran. Barang atau layanan yang dibeli pun tidak selalu benar-benar diperlukan.
Masalahnya, efek menyenangkan dari transaksi ini biasanya hanya berlangsung sementara, sementara uang tetap keluar. Akhirnya, kondisi keuangan jadi terdampak.
Baca juga: Mindful Spending: Belajar Belanja dengan Lebih Tenang
Tanda-Tanda Emotional Spending yang Harus Dikenali
Beberapa tanda emotional spending bisa muncul dalam kebiasaan belanja sehari-hari, bahkan saat pengeluarannya belum terlihat besar. Polanya dapat muncul dari alasan di balik pembelian, cara mengambil keputusan, sampai kebiasaan menggunakan uang di luar rencana.
Kenali beberapa tandanya berikut sebelum kebiasaan tersebut mulai mengganggu keuangan.
1. Belanja untuk Mengubah Suasana Hati
Saat sedang stres, sedih, bosan, atau kecewa, muncul dorongan membuka aplikasi belanja atau pergi ke toko, kemudian beli makanan, pakaian, kosmetik, atau barang lainnya. Perasaan pun jadi lebih enak.
Kenali pola ini. Kalau mulai sering terjadi, berarti kita sudah terjebak dalam emotional spending. Keputusan belanja kita terlalu dipengaruhi kondisi emosi.
2. Membeli Sesuatu secara Impulsif
Barang masuk keranjang dengan cepat, padahal tidak ada dalam daftar belanja atau kebutuhan. Keputusan bisa dibuat hanya dalam hitungan menit karena muncul dalam keinginan sesaat.
Setelah transaksi selesai, baru bisa berpikir. Ternyata, ada banyak barang serupa di rumah, atau barangnya ternyata bakalan jarang dipakai.
3. Merasa Lega setelah Berbelanja
Emotional spending biasanya memberikan rasa puas setelah belanja, terutama kalau sebelumnya kita sedang menghadapi masalah atau tekanan. Akhirnya, otak kita “mencatat”, bahwa belanja bisa jadi cara untuk menenangkan diri yang jitu. Nantinya, kalau ada dorongan yang sama muncul lagi, belanja pun kembali menjadi pilihan solusi.
4. Sering Menyesal setelah Beli
Namun, rasa lega itu tidak berlangsung lama. Beberapa waktu setelah transaksi, muncul rasa bersalah atau menyesal, karena uang sudah terpakai. Apalagi kalau ternyata barang yang dibeli tidak semenarik itu lagi, seperti saat pertama melihatnya. Penyesalan semacam ini patut diperhatikan kalau muncul berulang setelah belanja.
5. Pengeluaran Sulit Dikendalikan
Kalau sudah menetapkan batas belanja, tetapi selalu ada transaksi tambahan di luar rencana, itu juga bisa jadi tanda-tanda emotional spending yang harus diperhatikan.
Jumlah kecil yang dilakukan berkali-kali bisa membuat total pengeluaran membengkak tanpa disadari. Ketika saldo mulai cepat berkurang, pengelolaan keuangan pun jadi terganggu.
6. Menjadikan Promo sebagai Alasan untuk Membeli
Diskon bikin barang yang semula tidak diperlukan jadi terlihat seperti kesempatan yang sayang dilewatkan. Padahal, mau potongan harga berapa pun, tetap berarti uang keluar dari rekening. Ditambah lagi, promo dan diskon sekarang pun selalu ada setiap bulan, terutama di tanggal-tanggal cantik. Jadi, sebenarnya sudah tidak urgent lagi untuk mendapatkan barang murah, ya kan?
Kalau promo sering dipakai untuk membenarkan pembelian barang yang tidak dibutuhkan, kebiasaan ini perlu diperiksa, karena berarti kita sudah kena emotional spending.
7. Mulai Mengabaikan Anggaran
Anggaran bulanan sudah dibuat, tetapi dana untuk belanja keinginan terus mengambil porsi dari pos lain. Uang yang seharusnya disimpan atau dipakai untuk kebutuhan rutin ikut terpakai. Kondisi ini membuat perencanaan keuangan sulit berjalan sesuai tujuan.
8. Menyembunyikan atau Mengecilkan Jumlah Nominal Belanja
Kalau kita suka emotional spending, akan ada kecenderungan menutupi pembelian atau mengatakan nominalnya lebih kecil dari yang sebenarnya.
Hal ini sering muncul karena kita sebenarnya sadar kalau pengeluaran sudah berlebihan. Nah, jadi, kalau ada transaksi yang mulai sengaja dirahasiakan, artinya ada masalah yang perlu diperhatikan dalam kebiasaan belanja.
9. Sering Mencari Pembenaran
Tanda-tanda emotional spending juga akan terlihat ketika kita punya banyak alasan untuk membuat keputusan belanja terasa wajar. Seperti “Ah, enggak apa-apa. Sudah lama nggak belanja.” Atau mungkin, “Sekali ini saja deh!”
Alasan tersebut kemudian dipakai untuk menyingkirkan keraguan meski barangnya tidak dibutuhkan.
10. Pola yang Terus Berulang
Sebenarnya sesekali belanja untuk menyenangkan hati itu juga tidak terlalu salah. Apalagi sudah dibuktikan dalam penelitian Knutson dkk. yang diterbitkan di Neuron pada 2007. Bahwa aktivitas belanja dapat memicu pelepasan dopamin dalam sistem reward otak, terutama saat kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.
Tapi, kalau hal ini terjadi terlalu sering, dan bahkan menjadi pola berilang, maka kita harus waspada. Itu artinya, kita menganggap belanja sudah menjadi cara yang “jitu” untuk menghadapi perasaan, padahal tidak juga.
Baca juga: Tips Belanja di Bangkok agar Dapat Barang Bagus dengan Harga Miring
Emotional spending bisa terjadi pada setiap orang. Yang berbeda, cara mengatasinya. Saat belanja mulai dipakai untuk meredakan stres, mengusir bosan, atau memperbaiki suasana hati, kebiasaan ini perlu disadari sebelum ikut mengacaukan anggaran. Mampu mengenali pemicunya memberi ruang untuk berhenti sejenak dan menentukan apakah pembelian itu memang diperlukan atau hanya respons sesaat.