JNEWS – Arc de Triomphe merupakan landmark paling ikonik di Paris sekaligus tujuan wajib bagi wisatawan yang pertama kali berkunjung ke ibu kota Prancis.
Berada di ujung Champs-Élysées, monumen ini bukan sekadar latar foto yang terkenal. Di balik ukurannya yang menjulang, monumen ini menyimpan kisah sejarah, arsitektur yang mengagumkan, hingga panorama kota Paris yang bisa dinikmati dari puncaknya.
Arc de Triomphe: Monumen yang Dibangun Selama Tiga Dekade

Pembangunan Arc de Triomphe dimulai atas perintah Napoleon Bonaparte pada tahun 1806 untuk mengenang kemenangan Prancis dalam Pertempuran Austerlitz sekaligus menghormati keberanian pasukan Grande Armée.
Monumen setinggi sekitar 50 meter ini berdiri di tengah Place Charles de Gaulle, berada tepat di ujung barat boulevard terkenal, Champs-Élysées di Paris. Dulunya, tempat ini bernama Place de l’Étoile.
Napoleon menunjuk arsitek Jean-François Chalgrin untuk merancang bangunan ini. Sang arsitek lantas mengambil inspirasi dari Arch of Titus, gerbang kemenangan peninggalan Kekaisaran Romawi. Batu pertama diletakkan pada 15 Agustus 1806, bertepatan dengan hari ulang tahun Napoleon.
Namun, pembangunan tidak berjalan mulus. Setelah kekuasaan Napoleon runtuh pada 1814 dan Prancis memasuki masa Restorasi Bourbon, proyek ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Pekerjaan baru kembali dilanjutkan setelah situasi politik negara lebih stabil.
Arc de Triomphe akhirnya rampung pada tahun 1836, sekitar tiga puluh tahun sejak peletakan batu pertama. Raja Louis-Philippe meresmikan monumen ini dan mempersembahkannya untuk seluruh prajurit yang berjuang pada masa Revolusi Prancis serta Kekaisaran Prancis.
Ironisnya, Napoleon sendiri tidak pernah sempat menyaksikan monumen yang ia gagas itu selesai dibangun.
Baca juga: Menara Eiffel: Fakta Unik di Balik Ikon Paris yang Tidak Banyak Diketahui Orang
Mengenal Arsitektur Arc de Triomphe
Arc de Triomphe dirancang sebagai simbol kemenangan Prancis, sehingga setiap lengkungan, relief, hingga ornamennya memiliki makna sejarah. Berikut beberapa fakta menarik tentang arsitektur monumen ini yang membuatnya ikonik.
1. Desain Megah Bergaya Romawi Kuno
Arc de Triomphe mengusung gaya arsitektur Neoklasik yang populer pada awal abad ke-19. Menariknya, monumen ini dibuat tanpa deretan kolom dekoratif sehingga tampil lebih kokoh dan tegas, sesuai dengan citra militer yang ingin ditonjolkan Napoleon Bonaparte.
Dari segi ukuran, bangunan ini memang luar biasa. Grande, dengan tinggi mencapai sekitar 50 meter, dengan lebar 45 meter dan kedalaman 22 meter.
Monumen ini memiliki satu lengkungan utama setinggi 29,19 meter serta dua lengkungan yang lebih kecil di sisi-sisinya. Di bagian paling atas terdapat teras observasi yang merupakan tempat terbaik untuk menikmati panorama Paris dari ketinggian.
2. Relief Raksasa yang Menceritakan Sejarah Prancis
Empat sisi pilar Arc de Triomphe dihiasi relief berukuran besar yang mengangkat berbagai peristiwa penting dalam sejarah Prancis. Salah satu yang paling terkenal adalah Le Départ de 1792 atau La Marseillaise, karya François Rude, yang menggambarkan semangat rakyat Prancis saat mempertahankan tanah air.
Relief lainnya adalah Le Triomphe de 1810 karya Jean-Pierre Cortot yang menampilkan Napoleon menerima mahkota kemenangan. Sementara itu, Antoine Étex membuat dua relief lain, yaitu La Résistance de 1814 yang menggambarkan perjuangan melawan pasukan koalisi, serta La Paix de 1815 yang melambangkan berakhirnya perang dan kembalinya perdamaian.
3. Dinding Monumen Dipenuhi Nama Pahlawan dan Pertempuran
Pada dinding lengkungan Arc de Triomphe, terukir 660 nama jenderal Prancis. Beberapa di antaranya diberi garis bawah, menandakan bahwa si empunya nama telah gugur di medan perang.
Sementara itu, bagian frieze di sisi atas monumen dipenuhi ukiran yang menggambarkan berbagai pertempuran pada masa Revolusi Prancis. Di area lain, terdapat pula kemenangan-kemenangan besar yang diraih pasukan Napoleon Bonaparte.
Di bawah lengkungan ikoniknya, juga terdapat Makam Prajurit Tak Dikenal yang diresmikan pada tahun 1921 sebagai bentuk penghormatan bagi tentara Prancis yang gugur tanpa identitas dalam Perang Dunia I. Makam ini dilengkapi dengan api abadi yang terus menyala hingga sekarang sebagai lambang penghormatan dan kenangan.
Tip Berkunjung ke Arc de Triomphe
Agar kunjungan ke Arc de Triomphe lebih nyaman, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan sebelum berangkat.
1. Pesan Tiket Online dan Perhatikan Jam Operasional
Untuk naik ke dek observasi, tiket masuk dibanderol sekitar €18 per orang. Harga ini bisa berubah sewaktu-waktu, jadi hendaknya cek dulu sebelum membeli. Anak-anak di bawah 18 tahun serta warga Uni Eropa berusia di bawah 26 tahun dapat masuk secara gratis. Sementara itu, area di bagian bawah monumen bisa dikunjungi tanpa membeli tiket.
Agar tidak menghabiskan waktu mengantre, sebaiknya beli tiket secara online sebelum datang. Arc de Triomphe buka setiap hari, mulai pukul 10.00 hingga 23.00 waktu setempat pada April hingga September, dan 10.00 hingga 22.30 waktu setempat selama Oktober hingga Maret.
2. Gunakan Terowongan Bawah Tanah untuk Masuk
Arc de Triomphe berada di tengah bundaran besar Place Charles de Gaulle yang lalu lintasnya sangat padat. Hindari menyeberang langsung di jalan karena cukup berbahaya. Akses yang aman adalah melalui terowongan bawah tanah (Passage Souterrain) yang terletak di dekat Champs-Élysées atau Avenue de la Grande Armée.
Jika menggunakan transportasi umum, naik Metro jalur 1, 2, atau 6, lalu turun di stasiun Charles de Gaulle-Étoile. Pilihan lainnya adalah RER A dengan tujuan stasiun yang sama.
3. Siapkan Tenaga dan Datang Menjelang Senja
Untuk mencapai puncak monumen, pengunjung harus menaiki 284 anak tangga berbentuk spiral. Kenakan sepatu yang nyaman agar aktivitas ini bisa dilakukan dengan lebih menyenangkan. Lift hanya tersedia bagi penyandang disabilitas, pengguna kursi roda, lansia, maupun pengunjung dengan keterbatasan fisik.
Kalau ingin menikmati pemandangan terbaik, datanglah menjelang matahari terbenam. Dari dek observasi, panorama Paris terlihat sangat indah, apalagi saat malam ketika lampu Menara Eiffel berkelap-kelip setiap pergantian jam. Jika tertarik melihat tradisi bersejarah, sempatkan datang sekitar pukul 18.30 untuk menyaksikan upacara penyalaan kembali api abadi di Makam Prajurit Tak Dikenal.
Baca juga: Mont Saint-Michel di Prancis: Destinasi Wisata yang Wajib Masuk Bucket List
Tak banyak tempat yang mampu menyatukan sejarah, seni, dan pemandangan kota dalam satu lokasi seperti Arc de Triomphe. Melihat detail arsitekturnya, mengenal kisah di balik pembangunannya, hingga menikmati panorama Paris dari atas monumen akan membuat kunjungan terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar berfoto.