Atiek, Sepenggal Kisah Perempuan Tangguh dari JNE*

perempuan tangguh dari jne

Suryo Wilawati, biasa dipanggil "Atiek" oleh teman-temannya, bekerja di JNE sejak tahun 2001

JNEWS – Atiek, biasa ia disapa. Nama lengkapnya adalah Suryo Wilawati. Saat ini Atiek bekerja di Departemen Promotion & Activation di bawah naungan dari Marketing Group, Kantor Pusat JNE. Tidak banyak bicara, namun gesit sat set dalam bekerja. Terbukti, Atiek pernah meraih dua kali penghargaan “Best Employee JNE” pada tahun 2006 dan tahun 2013.

Atiek bergabung di JNE sejak tahun 2001. Selama 25 tahun bekerja di JNE, Atiek pernah malang-melintang mengurusi administrasi di Departemen Logistik, menangani lembur dan klaim karyawan di Human Capital, dan saat ini mengurus distribusi merchandise di Marketing.

Lebih dari separuh usia Atiek dilewati di JNE. Tak heran, banyak peristiwa penting dalam hidup Atiek berkaitan dengan JNE. Pertama, tentu, bekerja dan mencari nafkah di JNE, bahkan mendapatkan pasangan hidupnya di JNE – yang kini telah almarhum.

Semangat Kartini

Sebagaimana kehidupan profesionalnya, Atiek menjalani peran di rumah sebagai single parent dengan semangat yang sama: tabah, sabar dan telaten. Di luar perannya sebagai seorang karyawati di luar rumah, ibu dua anak ini berperan sebagai “ayah” sekaligus “ibu” bagi si sulung yang kini menempuh pendidikan sarjana dan si bungsu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 6.

Bagi Atiek hidup harus terus berjalan. Seperti halnya Kartini mengajarkan semangat kemandirian bagi perempuan Indonesia, Atiek memilih untuk menjadi “Kartini” bagi dirinya sendiri dan anak-anaknya.

Atiek mengaku “peran barunya” ini banyak memberinya pelajaran dan pengalaman baru. Misalnya, ternyata mengendarai sepeda motor tak seseram yang ia bayangkan sebelumnya. Sebelumnya Atiek selalu pergi-dan-pulang bekerja bersama sang suami. Kini Atiek biasa pulang-pergi 1,5 jam perjalanan dengan sepeda motor dari daerah Kampung Makassar ke Tomang.

Di mata teman-teman baiknya, peran ganda Atiek baik sebagai seorang karyawan maupun seorang tulang punggung keluarga sangat menginspirasi, terutama daya juang dan pikiran positif yang selalu tertanam dalam kesehariannya. Lika liku dinamika dunia kerja, tak menjadikan ia berputus asa. Ia selalu berusaha menciptakan terobosan ataupun perbaikan sekecil apa pun dalam area pekerjaannya.

Di lingkungan kerjanya di Tomang, Atiek dikenal sangat memegang teguh disiplin waktu. Di kantor, ia tetap profesional, di rumah, ia adalah sosok yang hangat, tegas serta mengayomi. Atiek tidak hanya bekerja untuk mendapatkan uang, ia bekerja untuk membuktikan bahwa seorang perempuan yang menjadi single parent bagi anak-anaknya juga dapat menjadi kepala keluarga yang terhormat.

Jika Kartini menulis surat untuk menuangkan kegundahannya, sosok Atiek mencurahkan energinya demi memastikan masa depan anak-anaknya tidak ikut padam dengan cara bekerja yang tulus, menjunjung tinggi core value yang ditanamkan oleh JNE dan tentunya nilai-nilai moral yang diajarkan keluarganya.  Meskipun kerinduannya akan sang suami akan selalu hadir, namun baginya memberikan hasil yang luar biasa atas pencapaian kinerjanya sebagai bukti untuk menyampaikan pada sang suami bahwa ia bisa menjadi pengganti dirinya dan berperan sebagai kepala keluarga bagi anak-anak mereka.

Ketangguhan Atiek bukan lahir dari ketiadaan rasa takut, tapi dari kemampuannya berjalan berdampingan dengan rasa takut itu sendiri. Setiap pagi, saat ia mengenang kisah kehidupan dirinya dan sang suami, ia memberi hormat padanya dengan cara hidup sebaik-baiknya. Atiek adalah bentuk penggambaran dari pesan Kartini yang menyatakan bahwa perempuan memiliki kekuatan rahasia yang hanya akan muncul saat dunia mengujinya. Dia tidak lagi mencari pundak untuk bersandar, karena dia sadar, pundaknya sendirilah yang kini menjadi sandaran bagi kehidupan baru yang sedang ia perjuangkan bagi dirinya dan keluarga tercinta.

*Ditulis oleh Edvina Y.A

Exit mobile version