JNEWS – Harga bensin dan solar terus bergerak naik turun, sementara kendaraan tetap dipakai setiap hari untuk bekerja, mengantar barang, sampai perjalanan jarak jauh. Karena itu, alternatif bahan bakar lain mulai lebih sering dilirik, terutama yang biaya pemakaiannya tidak terlalu membebani. Selain kendaraan listrik, ada juga pilihan lain yang sudah cukup lama digunakan di berbagai negara, yaitu bahan bakar gas. Jenis bahan bakar ini dipakai pada kendaraan tertentu dan dikenal punya emisi yang lebih rendah dibanding BBM konvensional.
CNG atau Compressed Natural Gas termasuk salah satu jenis bahan bakar gas yang mulai digunakan lebih luas untuk kendaraan bermotor. Di Indonesia, pemakaiannya memang belum sebanyak bensin atau solar karena fasilitas pengisiannya masih terbatas di beberapa daerah. Meski begitu, CNG tetap menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan biaya operasional kendaraan, kondisi udara perkotaan, dan kebutuhan energi jangka panjang.
Apa Itu CNG dan Bagaimana Cara Kerjanya pada Kendaraan?

Di tengah harga BBM yang terus berubah dan isu polusi udara yang makin sering dibahas, banyak orang mulai mencari alternatif bahan bakar yang lebih hemat sekaligus lebih bersih. Salah satu yang cukup sering disebut adalah bahan bakar gas atau CNG, alias Compressed Natural Gas.
Meski namanya terdengar teknis, sebenarnya konsep bahan bakar ini cukup sederhana. CNG adalah gas alam yang dikompresi hingga tekanannya sangat tinggi supaya bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Gas alam tersebut sebagian besar terdiri dari metana, lalu disimpan dalam tabung khusus agar aman digunakan di kendaraan.
Kalau dibandingkan dengan bensin atau solar, bentuk CNG memang berbeda karena bukan cairan, melainkan gas. Namun fungsinya tetap sama, yaitu menghasilkan energi untuk menggerakkan mesin kendaraan.
Banyak orang juga sering mengira CNG sama dengan LPG karena sama-sama berbentuk gas. Tetapi sebenarnya keduanya juga berbeda. LPG berasal dari gas petroleum, sedangkan CNG berasal dari gas alam. Tekanan penyimpanan CNG juga jauh lebih tinggi dibanding LPG.
Baca juga: 10 Faktor yang Memengaruhi Konsumsi BBM pada Kendaraan
Cara Kerja CNG
Cara kerja CNG pada kendaraan sebenarnya tidak terlalu rumit. Gas disimpan di dalam tabung bertekanan tinggi yang dipasang pada kendaraan, lalu dialirkan ke mesin melalui sistem khusus.
Karena bentuk bahan bakarnya berbeda dengan bensin, kendaraan membutuhkan perangkat tambahan seperti converter kit agar mesin bisa mengatur pembakaran gas dengan baik. Pada kendaraan tertentu, sistem ini dipasang sebagai hasil modifikasi, tetapi ada juga mobil yang sejak awal memang dirancang khusus menggunakan CNG langsung dari pabrik.
Menariknya, beberapa kendaraan bisa menggunakan sistem dual fuel, artinya dapat memakai bensin sekaligus CNG. Pengemudi bisa berpindah bahan bakar sesuai kebutuhan atau kondisi di jalan. Sistem seperti ini cukup membantu, terutama di daerah yang stasiun pengisian gasnya belum terlalu banyak.
Meski masih belum sepopuler bensin atau solar, teknologi CNG sebenarnya sudah digunakan cukup lama di berbagai negara karena dianggap mampu menekan biaya operasional kendaraan sekaligus membantu mengurangi polusi udara di kota-kota besar.
Kelebihan CNG untuk Kendaraan Bermotor
Ada beberapa kelebihan CNG ini yang bisa didapatkan jika digunakan sebagai bahan bakar gas kendaraan bermotor. Berikut beberapa di antaranya.
1. Biaya Bahan Bakar Lebih Irit untuk Pemakaian Harian
Salah satu alasan CNG mulai dipakai pada kendaraan operasional ada di biaya pengisiannya yang lebih rendah dibanding bensin. Selisihnya cukup terasa kalau kendaraan dipakai setiap hari dengan jarak tempuh tinggi. Dengan begitu, pengeluaran bulanan bisa ditekan lumayan banyak. Efeknya makin kelihatan saat harga BBM naik. Pengguna kendaraan tidak terlalu cepat kena dampak lonjakan biaya bahan bakar.
Efisiensi itu juga berkaitan dengan karakter gas alam yang pembakarannya stabil di dalam mesin. Konsumsi bahan bakar bisa lebih terkontrol ketika kendaraan digunakan untuk rute panjang dan ritme jalan yang konsisten.
Karena alasan itu, CNG cukup cocok jika digunakan oleh bus kota atau kendaraan komersial yang jarang berhenti beroperasi. Penghematan kecil per hari bisa berubah jadi angka besar dalam hitungan bulan.
2. Emisi Gas Buang Lebih Bersih
Bahan bakar gas ini dikenal menghasilkan emisi yang lebih rendah dibanding bensin dan solar. Asap kendaraan tidak sepekat kendaraan diesel konvensional, terutama pada kendaraan besar yang aktif di jalan perkotaan. Kandungan sulfur dan partikel hasil pembakarannya juga lebih sedikit. Udara di sekitar kendaraan jadi tidak terlalu dipenuhi bau menyengat dari knalpot.
Hal seperti ini cukup berpengaruh di kota dengan lalu lintas padat. Kendaraan umum yang memakai CNG membantu mengurangi akumulasi asap hitam di jalan raya. Memang tidak membuat kendaraan bebas polusi sepenuhnya, tetapi tingkat emisinya lebih rendah.
3. Ruang Mesin Lebih Bersih dan Endapan Karbon Berkurang
Pada kendaraan berbahan bakar bensin atau solar, sisa pembakaran lama-kelamaan bisa meninggalkan endapan di beberapa komponen mesin. Kondisi itu dapat memengaruhi performa jika dibiarkan terlalu lama. Pada sistem CNG, penumpukan seperti itu lebih minim. Pembakaran CNG cenderung lebih bersih sehingga kerak karbon di dalam mesin tidak cepat menumpuk.
Oli mesin juga bisa bertahan lebih bersih dalam periode tertentu karena kontaminasi hasil pembakaran lebih sedikit. Mesin jadi lebih enak dipakai untuk perjalanan rutin. Perawatan tetap harus dilakukan seperti biasa, tetapi ruang pembakaran tidak cepat kotor. Untuk kendaraan operasional yang dipakai terus-menerus, kondisi ini membantu menjaga performa mesin lebih stabil.
4. Suara Mesin Cenderung Lebih Halus
Saat mesin menggunakan bahan bakar gas ini, proses pembakaran berlangsung lebih halus dibanding jenis BBM konvensional. Efeknya cukup terasa pada suara mesin yang tidak terlalu kasar ketika kendaraan dinyalakan atau dipakai dalam kecepatan rendah. Getaran pada kendaraan juga cenderung berkurang. Pengalaman berkendaranya jadi lebih nyaman, terutama untuk penggunaan harian di jalan kota.
Perbedaan ini memang tidak selalu sama pada semua kendaraan karena kondisi mesin dan sistem konversinya ikut berpengaruh.
Penggunaan CNG pada Kendaraan di Indonesia Masih Terbatas
Di Indonesia, kendaraan berbahan bakar CNG memang sudah ada dan sempat digunakan dalam beberapa program uji coba. Namun penggunaannya belum masuk tahap komersial massal, terutama untuk kendaraan roda dua. Sampai sekarang belum ada motor khusus CNG dari pabrikan yang dijual bebas secara resmi di pasar Indonesia. Teknologi ini masih lebih sering muncul dalam bentuk proyek konversi atau pengembangan terbatas.
Salah satu proyek yang cukup dikenal datang dari PGN bersama PT Gagas Energi Indonesia. Mereka pernah melakukan uji jalan menggunakan motor matic konvensional seperti Honda Vario dan Vespa matic yang dimodifikasi menjadi sistem dual-fuel. Motor tetap bisa memakai bensin, tetapi juga dibekali tabung CNG berukuran kecil. Posisi tabung ditempatkan di area dek kaki atau bagasi kendaraan. Dari hasil pengujian tersebut, biaya operasional motor berbahan bakar gas disebut lebih murah dibanding penggunaan BBM biasa.
Kalau pembahasannya diperluas ke kendaraan roda tiga, penggunaan CNG sebenarnya sudah cukup lama terlihat di Jakarta melalui armada bajaj. Sebagian kendaraan ini memakai sistem bahan bakar gas untuk menekan biaya harian pengemudi. Karena rutenya tetap dan titik pengisiannya lebih terarah, penggunaan CNG pada kendaraan seperti ini lebih mudah diterapkan dibanding kendaraan pribadi umum. Model seperti inilah yang sampai sekarang masih paling dekat dengan penerapan nyata CNG di jalanan Indonesia.
Sementara itu, perkembangan motor CNG dari pabrikan mulai terlihat di pasar internasional. Pabrikan Bajaj di India telah meluncurkan Bajaj Freedom 125, yang disebut sebagai motor CNG produksi massal pertama di dunia. Motor ini menggunakan tangki gas utama dan tetap memiliki tangki bensin cadangan.
Walaupun belum masuk pasar Indonesia, kemunculan kendaraan seperti ini menunjukkan bahwa teknologi CNG untuk roda dua memang sedang dikembangkan lebih serius oleh industri otomotif.
Baca juga: 7 Cara Mengemudikan Mobil Hemat BBM
CNG memang belum menjadi bahan bakar utama kendaraan di Indonesia, tetapi arahnya sudah mulai terlihat. Teknologinya ada, uji cobanya berjalan, dan kebutuhan akan bahan bakar gas yang lebih hemat terus bertambah. Tantangan terbesar bukan lagi soal apakah kendaraan bisa memakai gas, melainkan seberapa siap infrastrukturnya dibangun untuk dipakai lebih luas.