Cerita Srikandi JNE Bogor, Aktif “Ngonten” Positif buat Berkreasi

Maulina Harris, Srikandi JNE Bogor yang aktif ngonten di medsos pribadi

JNEWS – Tak lagi dikungkung ketidaksetaraan, semangat Kartini kini bertransformasi pesat lewat canggihnya dunia maya. Kemudahan akses internet abad ini memberi peluang bagi setiap orang untuk berkreasi tanpa pandang gender. Salah satunya melalui media sosial. Banyak sekali saat ini perempuan yang mampu memanfaatkannya dengan baik dan memberi inspirasi pada jutaan pasang mata.

Hal ini tentunya menguntungkan bagi para Kartini masa kini untuk melanjutkan lentera semangat kesetaraan.

Bak gambaran Kartini masa kini, Srikandi JNE Bogor yang satu ini juga memiliki semangat berkarya yang luar biasa di era digital. Maulina Harris namanya. Srikandi JNE Bogor ini mampu memanfaatkan media sosial dengan sangat ciamik. Ia mulai aktif menghasilkan konten-konten menghibur sejak lima tahun silam. Baginya, membuat konten tidak hanya sekedar kesenangan melainkan sumber pendapatannya. Meski konten yang ia buat mengalami pasang surut, ia tetap konsisten menjalankannya di tengah kesibukannya bekerja di JNE yang sudah ia singgahi lebih satu dekade ini. “Bikin konten itu bikin kita berpikir kreatif dan melatih konsistensi. Bonusnya juga banyak. Pokoknya aku suka ngonten!” tegasnya saat diwawancarai.

Tidak hanya bekerja dan membuat konten hiburan, Srikandi JNE yang bekerja di bagian cash counter ini juga aktif bernyanyi di sebuah band indie asal Bogor bernama BILLKISS, yang membawakan lagu-lagu pop. Bahkan BILLKISS sendiri sudah merilis beberapa singel seperti 25 Jam, Tahta, Layar Hati, dan La Gila, yang dapat ditemukan pada platform musik seperti Spotify dan Youtube atau media sosial lainnya.

Maulina juga punya sebuah band bernama BILLKISS, yang telah merilis beberapa singel seperti “25 Jam”, “Tahta”, “Layar Hati”, dan “La Gila” di platform musik digital

Selain konten bermusik, ia juga kerap membagikan aktivitasnya saat manggung, bekerja, kata-kata motivasi, atau konten hiburan terkini. “Kita sebagai perempuan muda, yang sekarang banyak kebebasan harusnya memanfaatkan dengan baik. Kita harus memanfaatkan dong. Aku banyak belajar dari ngonten ini,” ujarnya.

Baru-baru ini ia sedikit bergeser dari kebiasaannya saat awal bermain media sosial dengan banyak membagikan konten bernyanyi. “Aku mau coba hal baru,” katanya.

Ia mulai tekun membuat konten keseharian berbumbu humor yang relatable dengan keseharian netizen. Pemilik akun Instagram @maulin2992 itu tak pernah menyangka, ternyata sambutan netizen terhadap konten-kontennya cukup tinggi. Ide kontennya datang dari mana saja, mulai dari hal-hal kecil yang berasal dari kesehariannya. Menurutnya, saat ini masyarakat lebih menyukai konten-konten sederhana dan relate dengan kehidupan mereka, terutama yang sifatnya menghibur.

Kini jumlah pengikut akun media sosial Maulina sudah mencapai puluhan ribu dan kontennya ditonton jutaan kali. Imbasnya, pundi-pundi rupiah mengalir melalui endorsement sebagai buah dari konsistensinya. Karya-karya musiknya pun kini semakin melejit karena traffic yang tinggi pada media sosialnya.

Baca juga: Cerita Kurir JNE Ciamis, Pelintas di Jembatan Cirahong yang Bersejarah

Menurutnya konsistensi adalah kunci utama dari seorang kreator. Konsistensi tersebut juga perlu didukung dengan kemampuan editing video, ide konten, analisis tren, dan juga kualitas tampilan konten yang mendukung. Selain itu, kepercayaan diri juga merupakan hal yang sangat penting. “Kalau mau jadi seorang konten kreator kita harus PD! Harus! Dengerin kata orang boleh untuk hal positif, tapi jangan terlalu berlarut. Nantinya bakal banyak banget deh netizen ngomong macem-macem,” tukasnya.

Selain itu, baginya manajemen waktu juga sangat penting untuk diperhatikan. Mulai dari manajemen pembuatan konten, editing, waktu upload, dan pengelolaan sosial media termasuk endorsement. Jika tidak dikelola dengan baik, maka media dapat menjadi pisau bermata dua. Bagi Maulina, sebagai perempuan kita seharusnya memanfaatkan warisan kebebasan dan kesetaraan yang sudah dinyalakan oleh Kartini. Media sosial kini adalah pena yang harus kita pakai untuk membuat guratan sebaik mungkin sebagai seorang perempuan untuk berkarya bukan sebaliknya.

 

Exit mobile version