JNEWS – Chichén Itzá menyimpan jejak peradaban besar yang hingga kini masih memikat dunia. Situs arkeologi ini merupakan saksi kejayaan peradaban Maya, sekaligus juga berkembang menjadi salah satu destinasi wisata paling banyak dikunjungi di Meksiko.
Pengakuan global pun datang ketika Chichen Itza resmi masuk dalam daftar New 7 Wonders of the World pada 7 Juli 2007, berdasarkan penetapan oleh UNESCO. Status tersebut semakin menegaskan nilai sejarah, budaya, dan arsitekturnya sebagai warisan dunia.
Chichén Itzá, Kota Suci dan Pusat Kehidupan Bangsa Maya
Chichén Itzá merupakan kota kuno suku Maya yang kini tinggal reruntuhannya. Luasnya sekitar 10 kilometer persegi, dan pada masa jayanya, kota ini diperkirakan dihuni hingga 35.000 orang.
Kota ini dulunya berfungsi sebagai pusat segala aktivitas orang-orang suku Maya, mulai dari keagamaan, militer, politik, hingga perdagangan. Pemukiman awal sudah ada sejak sekitar tahun 550 Masehi. Hal ini mungkin terjadi lantaran memiliki akses air yang relatif mudah lewat gua dan lubang alami di batu kapur yang disebut cenote.
Di kawasan yang cenderung kering ini, cenote jadi sumber air utama. Di dalam area Chichén Itzá sendiri ada dua cenote besar, yang membuat tempat ini layak dihuni.
Dikutip dari situs resminya, secara sederhana, Chichén Itzá secara harfiah diartikan sebagai “di tepi sumur tempat orang-orang bijak air tinggal”. Nama ini merujuk pada cenote dan suku Itzá yang menetap di lokasi tersebut.
Baca juga: Mengungkap Misteri Suku Maya: Sejarah, Mitologi, dan Teknologi Kuno
Struktur Kota dan Gaya Bangunannya

Kota ini mulai berkembang sekitar abad ke-6 dan dibangun oleh masyarakat Maya dari Semenanjung Yucatán. Bangunan-bangunan awalnya memakai gaya arsitektur Puuc, yang berbeda dari gaya Maya di wilayah selatan.
Struktur tua ini berada di sekitar selatan plaza utama, termasuk Akabtzib, Chichanchob, Iglesia, Casa de las Monjas, dan observatorium El Caracol.
Sekitar abad ke-10, ada dugaan Chichén Itzá didatangi oleh kelompok luar. Sampai dengan saat ini, belum ada penelitian pasti, tetapi kemungkinan masih penutur bahasa Maya dan kuat dipengaruhi budaya Toltec dari Meksiko tengah. Kelompok inilah yang kemudian sangat berperan dalam perubahan wajah kota.
Salah satu bangunan paling ikonik adalah El Castillo, piramida setinggi sekitar 24 meter dengan empat sisi dan tangga di tiap sisinya. Jumlah total anak tangganya 365, sama dengan jumlah hari dalam setahun.
Saat ekuinoks, bayangan matahari sore menciptakan ilusi ular yang “merayap” di tangga, simbol dewa Kukulcán. Di dalam piramida ini juga ditemukan struktur yang lebih tua, termasuk singgasana jaguar merah berhias batu giok.
Chichén Itzá juga punya lapangan permainan bola terbesar di Amerika kuno. Relief di dindingnya menggambarkan adegan permainan yang berujung brutal, yakni pemenang memegang kepala pemain dari tim kalah.
Di dekatnya ada Kuil Jaguar dengan mural peperangan. Di sini ada fenomena akustik unik, yakni bisikan dari satu ujung bisa terdengar jelas di ujung lain.
Ada pula bangunan lain seperti Makam Imam Besar, Kompleks Seribu Tiang, dan Kuil Prajurit dibangun terutama pada periode pascaklasik awal.
Memasuki abad ke-13, pengaruh Chichén Itzá mulai meredup seiring naiknya Mayapán. Meski sempat tergabung dalam aliansi politik bersama Uxmal dan Mayapán, tetapi kota ini akhirnya ditinggalkan. Saat Spanyol datang pada abad ke-16, kota-kota besar Maya umumnya sudah kosong.
Meski lama tersembunyi di balik hutan belantara, Chichén Itzá tetap dianggap suci oleh masyarakat Maya. Penggalian yang baru dimulai pada abad ke-19 menjadi awal perkembangannya menjadi salah satu kawasan arkeologi terpenting di Meksiko.
Salah satu kisah paling terkenal adalah ritual di Cenote Suci. Di tempat inilah dulu dilakukan beragam upacara persembahan, termasuk korban manusia yang dipersembahkan untuk dewa hujan Chaac. Penggalian pada awal abad ke-20 menemukan kerangka manusia dan benda berharga, yang menguatkan cerita tersebut.
Panduan Berkunjung ke Chichén Itzá

Chichén Itzá berada di negara bagian Yucatán, Meksiko bagian timur. Letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah antara Mérida, ibu kota Yucatán, dan Cancún di Quintana Roo yang dikenal sebagai kawasan wisata populer.
Karena posisi ini, Chichén Itzá sering dijadikan tujuan wisata sehari bagi wisatawan yang menginap di Cancún atau area Riviera Maya. Jaraknya memang tidak dekat, tapi masih sangat masuk akal untuk perjalanan pulang-pergi dalam satu hari.
Bagi pengunjung, cara paling praktis untuk datang ke Chichén Itzá adalah dengan ikut tur. Banyak operator wisata menawarkan paket perjalanan dari Cancún dan Riviera Maya, biasanya sudah termasuk transportasi dan pemandu. Opsi ini cukup membantu, terutama untuk wisatawan yang ingin perjalanan lebih simpel tanpa perlu memikirkan rute, parkir, atau waktu tempuh. Meski begitu, ada juga pengunjung yang datang secara mandiri menggunakan mobil sewaan atau transportasi umum.
Pengelolaan situs arkeologi Chichén Itzá berada di bawah Instituto Nacional de Antropología e Historia atau INAH. Lembaga inilah yang bertanggung jawab atas perlindungan, perawatan, dan pengelolaan situs-situs bersejarah di seluruh Meksiko. Karena itu, aturan kunjungan, jam operasional, hingga biaya masuk ditetapkan secara resmi dan berlaku sama untuk semua pengunjung.
Untuk masuk ke kawasan Chichén Itzá, pengunjung perlu membayar tiket sebesar 648 peso Meksiko, atau sekitar 31 dolar AS. Pembayaran dilakukan langsung di lokasi, jadi sebaiknya menyiapkan uang sejak awal. Situs ini buka setiap hari, dari Senin sampai Minggu, mulai pukul 08.00 pagi hingga 17.00 sore. Perlu dicatat, pintu masuk terakhir dibuka hingga pukul 16.00. Datang lebih pagi biasanya lebih nyaman, karena cuaca masih relatif sejuk dan area belum terlalu padat pengunjung.
Baca juga: 9 Kota yang Hilang Paling Terkenal dalam Sejarah
Berkunjung ke Chichén Itzá memberi gambaran nyata tentang bagaimana peradaban besar itu berkembang dan beradaptasi dengan lingkungannya. Bagi pembaca yang belum pernah datang, memahami konteks dan latar belakangnya saja sudah cukup untuk melihat bahwa situs ini layak mendapat perhatian dunia.











