Desa Ketapanrame: Pesona Wisata Alam di Lereng Gunung Welirang

JNEWS – Desa Ketapanrame merupakan salah satu desa wisata yang berlokasi di lereng Gunung Welirang, tepatnya di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Desa ini sempat mendapat perhatian setelah meraih penghargaan dalam ajang desa wisata tingkat nasional, yang menilai pengelolaan potensi lokal dan keterlibatan warganya.

Letaknya berada di kawasan pegunungan dengan udara yang relatif sejuk dan lanskap yang masih didominasi hutan serta lahan pertanian. Akses menuju desa sudah cukup baik, sehingga mudah dijangkau dari kota-kota sekitar seperti Mojokerto maupun Surabaya. Kondisi ini membuat Ketapanrame berkembang sebagai tujuan singkat untuk melepas penat tanpa perlu perjalanan jauh.

Asal Mula Desa Ketapanrame

Desa Ketapanrame terbagi menjadi tiga dusun, yaitu Dusun Ketapanrame, Dusun Sukorame, dan Dusun Slepi. Mengacu pada laman resmi desa, ketiga dusun tersebut memiliki latar belakang sejarah yang berbeda satu sama lain. Di antara ketiganya, Dusun Ketapanrame dipercaya sebagai wilayah yang paling tua.

Nama Ketapanrame sendiri diyakini berasal dari gabungan kata “pertapaan” dan “ramai”. Konon, berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kawasan ini dahulu sering didatangi oleh para pertapa.

Dikisahkan, pada tahun 1367, sekelompok penghulu dari Kesultanan Mataram yang dipimpin Mbah Suronggolo mendapat tugas menumpas gerombolan Adipati Kahuripan yang membangkang. Ia berangkat bersama enam tokoh sakti, yakni Mbah Tambak Boyo, Mbah Ranu Boyo, Mbah Singo Boyo, Mbah Selo Boyo, Mbah Ngabei Ronggo Warsito, dan Mbah Teki-Teki Telik.

Saat memasuki wilayah Kahuripan, yang sekarang menjadi Pasuruan, tepat di perbatasan Sungai Bangkok (antara Pandaan dan Pasuruan), mereka diserang oleh prajurit setempat dengan berbagai senjata. Serangan itu memaksa mereka mundur hingga akhirnya berpencar.

Mbah Tambak Boyo menyelamatkan diri menuju lereng Gunung Welirang dan kelak membuka Desa Ketapanrame. Mbah Ranu Boyo dan Mbah Singo Boyo bergerak ke utara dan membuka wilayah Sumbersari, Kesiman, serta Kemlagi. Mbah Selo Boyo bersama Mbah Ngabei Ronggo Warsito menuju lereng Gunung Penanggungan dan membuka Desa Duyung. Mbah Teki-Teki Telik ke arah barat dan membuka Desa Belik. Sementara itu, Mbah Suronggolo menuju lereng barat daya Gunung Penanggungan.

Mbah Tambak Boyo lantas diketahui menetap di lereng Gunung Welirang yang saat itu masih berupa hutan lebat, dipercaya dihuni makhluk halus seperti jin, setan, dan dedemit. Ia mulai membabat hutan agar dapat dihuni manusia. Namun, setiap pohon yang ditebang dikisahkan mengeluarkan darah, sementara makhluk halus meratap karena tempat tinggal mereka terganggu. Hal ini sempat membuatnya kewalahan, hingga ia memilih bertapa di lokasi yang kini dikenal sebagai Punden Sendenan.

Usai bertapa, Mbah Tambak Boyo melanjutkan pembabatan hutan, dimulai dari wilayah timur, yang sekarang Tapan Wetan. Di tempat itulah ia menetap. Di sana Mbah Tambak Boyo mendirikan padepokan untuk mengajarkan ilmu kanuragan. Awalnya hanya dihuni 27 orang, lama-kelamaan semakin ramai karena banyak orang datang untuk belajar.

Dari situlah muncul nama Ketapanrame, yang bermakna tempat pertapaan yang kemudian menjadi ramai, karena didatangi banyak orang dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu.

Baca juga: Desa Ponggok, Klaten: Kolam Selfie, Ekowisata, dan Inovasi Warga Lokal

Daya Tarik Wisata Utama di Desa Ketapanrame

Selain letaknya yang mendukung, Desa Ketapanrama juga dikenal karena mampu mengelola berbagai potensi wisata dalam satu kawasan yang terhubung. Aktivitas wisata di desa ini berjalan berdampingan dengan kehidupan warga, sehingga suasananya tetap terasa alami. Pengelolaannya melibatkan masyarakat setempat, jadi perkembangan wisata tidak terlepas dari aktivitas sehari-hari mereka. Kombinasi ini membuat Ketapanrame punya karakter yang cukup jelas dibanding desa wisata lain di sekitarnya.

Berikut beberapa potensi wisata yang cukup dikenal berada di Desa Ketapanrame dan menjadi andalan.

Desa Ketapanrame: Pesona Wisata Alam di Lereng Gunung Welirang
Sumber: Perhutani

1. Air Terjun Dlundung

Air Terjun Dlundung jadi salah satu tujuan paling dikenal di Desa Ketapanrame, terutama karena lokasinya berada di lereng Gunung Welirang yang masih hijau dan cukup sejuk. Akses menuju lokasi relatif mudah, jalannya sudah tertata sehingga tidak terlalu menyulitkan pengunjung umum.

Air terjunnya tidak terlalu tinggi, tetapi debit airnya stabil dan alirannya cukup deras, jadi tetap menarik dilihat dari dekat. Area sekitarnya dipenuhi pepohonan tinggi yang membuat suasana terasa teduh. Fasilitas dasar seperti tempat istirahat dan area parkir juga sudah tersedia. Tempat ini sering dijadikan lokasi untuk camping, cocok untuk yang ingin menikmati alam yang masih asli.

2. Sumber Gempong

Sumber Gempong menawarkan suasana yang lebih terbuka dengan pemandangan sawah terasering yang luas dan rapi. Sering kali orang-orang membandingkan tempat ini dengan Ubud, Bali. Airnya berasal dari sumber alami.

Berbeda dengan Dlundung yang dikelilingi hutan, di sini pengunjung bisa menikmati lanskap pedesaan yang lebih terlihat jelas. Banyak orang datang untuk sekadar duduk di pinggir sawah sambil menikmati angin dan suasana tenang. Area ini juga sering dijadikan spot foto karena latarnya cukup menarik. Tersedia fasilitas tambahan seperti kereta sawah dan sepeda gantung.

3. Taman Ghanjaran

Taman Ghanjaran dikembangkan sebagai wisata buatan yang fokus pada kebutuhan rekreasi keluarga dan menjadi salah satu titik paling ramai di kawasan Trawas, terutama saat malam hari. Di dalamnya tersedia berbagai wahana seperti bianglala, kora-kora, hingga ATV yang bisa digunakan oleh pengunjung dari berbagai usia. Selain wahana, area ini juga dilengkapi tempat duduk dan pujasera dengan pilihan makanan yang cukup beragam, jadi tidak perlu keluar area untuk mencari makan.

Lokasinya strategis dan mudah diakses, sehingga sering jadi persinggahan setelah dari wisata alam di sekitarnya. Pengelolaannya dilakukan oleh BUMDes Mutiara Welirang. Tempat ini berfungsi sebagai one-stop entertainment, terutama untuk keluarga yang ingin menikmati hiburan tanpa berpindah lokasi.

4. Kebun Kopi dan Jeruk Nagami

Kebun kopi dan jeruk Nagami menjadi bagian dari wisata edukasi yang ditawarkan di desa ini. Pengunjung bisa melihat langsung proses budidaya, mulai dari perawatan tanaman hingga masa panen.

Dalam beberapa kesempatan, pengunjung juga diperbolehkan ikut memetik buah atau melihat pengolahan hasil kebun. Yang menarik, jeruk nagami adalah varietas jeruk yang bisa dimakan bersama kulitnya.

Aktivitas ini biasanya menarik untuk rombongan pelajar atau keluarga yang datang bersama anak-anak. Lingkungannya masih alami, pengelola juga sangat terbuka, sehingga pengunjung bisa bertanya langsung.

5. Seni Budaya Lokal

Selain wisata alam dan buatan, Desa Ketapanrame juga mempertahankan kesenian tradisional seperti Bantengan dan tari-tarian daerah. Pertunjukan ini biasanya digelar saat acara tertentu atau kegiatan desa.

Warga akan terlibat langsung dalam aktivitas pelestarian budaya ini. Gerakan dan iringan musiknya mencerminkan tradisi yang sudah lama berkembang di wilayah ini. Pengunjung yang datang di waktu yang tepat bisa menyaksikan langsung tanpa perlu acara khusus.

Ingin Berkunjung ke Desa Ketapanrame?

Sumber: Wikipedia Commons

Desa Ketapanrame berada di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dengan posisi yang cukup strategis karena berada di kawasan lereng pegunungan dan terhubung dengan jalur utama Pandaan. Lokasinya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari arah Surabaya atau Sidoarjo perjalanan bisa diarahkan ke Pandaan, lalu lanjut naik ke Trawas melalui jalur Prigen atau alternatif lewat Mojosari, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam. Dari arah Malang, rutenya melewati Karanglo menuju Pandaan, kemudian belok ke arah Trawas setelah melewati kawasan Masjid Cheng Hoo Pandaan.

Sementara itu, untuk transportasi umum, perjalanan bisa dimulai dengan bus jurusan Surabaya–Malang dan turun di Terminal Pandaan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan desa (Elf) menuju Trawas atau ojek lokal dan online untuk mencapai titik wisata di Ketapanrame.

Informasi tiket di Desa Ketapanrame berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp15.000 per orang, sesuai ketentuan masing-masing destinasi yang hendak dituju. Biaya ini hanya mencakup akses masuk area dan belum termasuk wahana tambahan, parkir, atau aktivitas lain.

Baca juga: 7 Desa Wisata Indonesia Terpopuler yang Wajib Dikunjungi

Jam operasional juga menyesuaikan jenis wisatanya. Destinasi alam seperti Air Terjun Dlundung dan Sumber Gempong biasanya buka sejak pagi hingga sore, sementara Taman Ghanjaran memiliki waktu operasional lebih panjang hingga malam hari. Untuk wisata edukasi seperti kebun dan area sawah, jam kunjungan umumnya mengikuti waktu siang. Karena tiap lokasi dikelola dengan sistem yang berbeda, ada baiknya mengecek detail terbaru sebelum berkunjung.

Exit mobile version