Di Kota Sate Maranggi, JNE Purwakarta Kian Eksis

Karyawan JNE Purwakarta terus bekerja keras kejar target semester II-2020, walau pandemi Covid-19 belum berakhir

Karyawan JNE Purwakarta terus bekerja keras kejar target semester II-2020, walau pandemi Covid-19 belum berakhir

Kantor Cabang Utama JNE Purwakarta, Jawa Barat, baru setahunan menjadi kantor cabang mandiri setelah sebelumnya merupakan kantor perwakilan dari JNE Bandung. Namun, dalam setahun belakangan sudah mampu menunjukkan kinerja yang cukup baik dan menancapkan eksistensi sebagai perusahaan terdepan di kawasan yang terkenal dengan kuliner Sate Maranggi tersebut. Berikut obrolan JNEWS dengan Branch Manager JNE Purwakarta, Ridwan Zuhud, Jumat (7/8/2020).

 

Setelah diresmikan tahun lalu, bagaimana perkembangan JNE Purwakarta?

            Alhamdulillah dari waktu ke waktu JNE Purwakarta cukup mengalami kemajuan yang signifikan. Walau relatif kecil kotanya, Purwakarta sangat berpotensi untuk berkembang mengingat kota ini ada di persimpangan  Jakarta dan Bandung. Kemudian, wilayah Purwakarta – Subang juga banyak industri. Dari sisi letak, juga membantu mempercepat distribusi pengiriman paket baik via Jakarta Gateway maupun Bandung Gateway.

 

Meliputi wilayah mana saja, dan sudah berapa karyawannya?

Area kerja kita, meliputi Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang. Jumlah karyawan saat ini kurang lebih 300 orang dengan dukungan armada mobil operasional 27 unit. Selain itu kita memiliki dua kantor perwakilan dan dua kantor hub serta  21 keagenan (gerai penjualan) di Purwakarta dan 27 agen di Subang.

Baca Juga : Laju Kencang Pertumbuhan JNE di Kota Satelit Depok

Sudah berapa shippment baik outbound maupun inbound yang ditangani?

Saat ini kurang lebih untuk outbound sekitar 115 ribu dan untuk inbound sekitar 345.000 shipment. Beraneka ragam barang kiriman yang kita tangani namun salah satu yang mendominasi adalah fashion.

 

Pandemi Covid-19 memukul banyak sektor, apakah berpengaruh terhadap JNE Purwakarta?

Awal terjadinya pandemi Covid-19 di Purwakarta memang sangat terasa sekali pengaruhnya, karena banyak para pelaku usaha yang tutup termasuk sebagaian kawasan  industri yang tutup sementara. Namun, tidak berlangsung lama, berangsur-angsur dari sisi kiriman jumlahnya meningkat lagi. Salah satunya karena banyaknya kiriman APD, makanan, dan keperluan rumah tangga. Hal lainnya adalah munculnya para pemain atau pebisnis online baru yang membutuhkan jasa JNE untuk pengirimannya, ataupun para pelaku usaha yang awalnya jualan offline beralih ke online karena ada pembatasan seperti PSBB.

Baca Juga : JNE Cikarang, Terus Berlari Untuk Menjadi Market Leader di Kawasan Industri

Bagaimana kerjasama dengan UMKM?

Kami berkolaborasi dengan komunitas UMKM yang ada, baik di Purwakarta maupun Subang. Kami mengadakan workshop-workshop seperti mengenai digital online sehingga pasar yang digarap menjadi lebih besar dan bisnis para UMKM semakin berkembang. Banyak komoditas dari UMKM yang memang menjadi ciri khas di sini, seperti sate maranggi, simping, nasi liwet instan, kripik nanas serta aneka kerajinan termasuk produk fashion dan peralatan rumah tangga.

 

Seperti di kota lain, bagaimana peta persaingannya?

Purwakarta merupakan kota yang relatif kecil namun memiliki potensi yang cukup besar, sehingga persaingannya juga cukup ketat. Setiap pemain mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing serta memiliki pangsa pasar masing-masing. Dengan adanya pesaing membuat kita untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan yang terbaik bagi customer sehingga mereka senang dan loyal terus memakai JNE. *

Baca Juga : Begini Cara JNE Lampung Dukung UMKM

Exit mobile version