JNEWS – Bertahan hidup dengan gaji UMR sering kali terasa seperti menyeimbangkan banyak hal dalam ruang yang sempit. Penghasilan pas-pasan harus menutup kebutuhan pokok, biaya tak terduga, sekaligus tuntutan hidup sehari-hari yang terus berjalan.
Banyak orang tidak merasa boros, tapi uang tetap cepat habis tanpa tahu persis ke mana perginya. Dalam kondisi seperti ini, utang sering muncul bukan karena keinginan berlebihan, melainkan karena tidak ada ruang bernapas saat ada kebutuhan mendadak.
Situasi ini dialami banyak pekerja, dari yang baru mulai bekerja sampai yang sudah bertahun-tahun menerima upah minimum.
Bertahan dengan Gaji UMR, Ini Strateginya
Hidup dengan penghasilan terbatas memang sulit, hal ini harus diakui. Namun, bukan berarti tidak ada cara untuk bisa memenuhi kebutuhan. Jadi, yang perlu diperhatikan sekarang tak hanya nominal, tetapi cara mengelolanya.
Tapi, bagaimana bisa mengelola uang, kalau uangnya saja pas-pasan? Mari kita ubah sedikit mindsetnya. Kalau tidak dikelola dengan baik, bisa saja gaji UMR hanya bisa memenuhi sedikit kebutuhan. Namun, kalau bisa dikelola dengan baik, siapa tahu bisa sedikit lebih banyak kebutuhan yang bisa dipenuhi lagi. Bahkan, seiring waktu, syukur-syukur bisa menabung juga.
Jadi, apa saja yang perlu dilakukan?

1. Bedakan Kebutuhan Wajib dan Keinginan Rutin
Langkah ini terdengar klise, tapi sering gagal dilakukan karena semuanya terasa “perlu” dan “penting”, juga “urgent”. Padahal, kebutuhan wajib itu jumlahnya terbatas dan relatif sama setiap bulan.
Makan sehari-hari, tempat tinggal, transport ke kerja, listrik, air, dan pulsa atau internet dasar biasanya sudah cukup. Di luar itu, banyak pengeluaran yang sebenarnya hanya kebiasaan, bukan kebutuhan. Jajan karena capek, belanja karena diskon, atau langganan aplikasi yang jarang dipakai sering lolos tanpa disadari.
Kalau dua kategori ini tidak dipisahkan sejak awal, gaji UMR akan cepat habis tanpa terasa dan ujung-ujungnya cari utang.
Baca juga: Rekomendasi Aplikasi Keuangan untuk Catat Pengeluaran Harian
2. Tetapkan Batas Aman Pengeluaran Harian
Banyak orang gagal mengatur uang karena melihatnya dalam skala bulanan, bukan harian. Padahal, pengeluaran terjadi setiap hari.
Setelah semua kebutuhan bulanan dibayar, hitung sisa uang yang benar-benar bisa dipakai. Bagi jumlah itu dengan jumlah hari dalam sebulan atau hari aktif kerja.
Nah, dari situ, kita akan punya gambaran berapa batas aman yang bisa dikeluarkan per hari. Kalau suatu hari terpakai lebih banyak, besoknya harus lebih nahan. Pola ini lebih realistis dibanding janji “bulan ini harus hemat” yang seringnya cuma bertahan seminggu.
3. Masak Sendiri dan Kurangi Makan di Luar
Makan di luar memang menyenangkan. Nominalnya pun kecil per transaksi. Masalahnya, kalau dilakukan hampir setiap hari, jumlahnya bisa setara atau bahkan lebih besar dari biaya belanja bulanan.
Masak sendiri tidak harus ribet atau mewah. Menu sederhana yang dirotasi justru lebih mudah dikontrol dan lebih murah. Selain itu, kita jadi tahu persis uang makan kita habis untuk apa.
4. Hindari Cicilan Konsumtif Sekecil Apa Pun
Saat gaji UMR, setiap potongan rutin sangat berpengaruh. Sekali punya cicilan, uang bulanan langsung berkurang sebelum sempat diatur.
Masalahnya, sering kali yang terjadi adalah cicilan konsumtif itu jarang berhenti di satu item. Hari ini cicil barang A, bulan depan tergoda barang B. Kalau dibiarkan, kondisi ini membuat keuangan selalu kekurangan dan darurat sedikit langsung berutang lagi.
5. Sisihkan Tabungan di Awal, Bukan di Akhir
Menabung memang bisa jadi PR besar buat para karyawan gaji UMR. Namun, semua bisa diusahakan. Tidak mengapa kalau di awal tidak bisa menabung, yang penting niat dulu. Karena, kebutuhan utama memang harus lebih dahulu dipenuhi.
Jika suatu saat sudah cukup mampu, mulai menabung dengan menyisihkannya di awal, bukan menunggu sisa uang belanja. Mengapa? Menunggu sisa uang untuk ditabung hampir selalu berujung nol.
Karena itu, menabung perlu diposisikan sebagai kewajiban, bukan pilihan. Begitu gaji masuk, langsung sisihkan meski jumlahnya kecil. Ambil 5% atau bahkan 1% pun tidak masalah. Yang penting rutin dan konsisten.
Tabungan ini berfungsi sebagai penyangga ketika ada kebutuhan mendadak. Dengan adanya dana cadangan, kita tidak mudah panik dan tergoda pinjaman cepat.
6. Manfaatkan Fasilitas Gratis dan Subsidi
Banyak hal di sekitar kita sebenarnya bisa dimanfaatkan tanpa biaya, tapi sering diabaikan. Mulai dari fasilitas umum, acara gratis, sampai layanan yang sudah disubsidi.
Hal kecil seperti membawa air minum sendiri atau memanfaatkan Wi-Fi publik bisa menghemat pengeluaran harian. Kalau ada alternatif gratis yang kualitasnya cukup, tidak perlu memaksakan yang berbayar.
Bertahan hidup dengan gaji UMR bukan soal menahan diri terus-menerus, tapi soal memilih opsi yang paling masuk akal. Semakin cermat memanfaatkan fasilitas, semakin longgar ruang keuanganm kita.

7. Cari Tambahan Penghasilan yang Realistis
Tambahan penghasilan tidak harus langsung besar atau mengubah hidup. Yang penting, tidak menambah beban dan tidak butuh modal besar. Pilih yang sesuai kemampuan dan bisa dijalankan di sela waktu kosong.
Banyak orang gagal karena terlalu ambisius di awal, lalu kelelahan sendiri. Lebih baik tambahan kecil tapi stabil daripada besar tapi tidak konsisten. Dengan adanya pemasukan tambahan, tekanan dari gaji UMR jadi lebih ringan dan risiko berutang bisa ditekan.
8. Catat Pengeluaran untuk Evaluasi
Malas mencatat pengeluaran karena merepotkan atau bikin stres? Padahal, tujuan mencatat pengeluaan itu bukan untuk menghakimi diri sendiri. Catatan ini membantu melihat pola yang selama ini tidak disadari.
Dengan meligat catatan, kita bisa tahu pengeluaran mana yang paling sering bocor. Tidak perlu detail sampai ke receh, cukup kategori besar dan kebiasaan utama. Dengan evaluasi sederhana, keputusan keuangan berikutnya jadi lebih rasional dan bijak.
Baca juga: 13 Ide Usaha di Kampung dengan Modal 2 Juta yang Menguntungkan
Hidup dengan gaji UMR memang penuh batasan, tapi tetap bisa dijalani dengan lebih tenang kalau pengeluaran dikendalikan sejak awal dan keputusan keuangan dibuat secara sadar. Dengan kebiasaan yang lebih rapi dan realistis, risiko terjebak utang bisa ditekan tanpa harus merasa hidup serba kekurangan.












