JNEWS – Nama Gunung Anak Krakatau kembali ramai diperbincangkan setelah aktivitas vulkaniknya meningkat pada September 2026. Pada awal bulan ini, gunung api di Selat Sunda tersebut mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB sampai 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Erupsi tersebut menghasilkan aliran lava dan kemudian diikuti beberapa erupsi Strombolian. Statusnya bahkan baru diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Awal Terbentuknya Gunung Anak Krakatau

Gunung ini punya sejarah yang cukup unik. Untuk memahaminya, kita perlu kembali ke peristiwa Letusan Krakatau 1883.
Letusan besar pada tahun tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung api yang berada di kawasan Selat Sunda ini, hingga akhirnya membentuk kaldera. Peristiwa itu juga memicu tsunami besar yang menerjang wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.
Setelah Gunung Krakatau hancur, beberapa dekade kemudian, aktivitas vulkanik muncul kembali di area kaldera tersebut. Pada 29 Desember 1927, terjadi rangkaian erupsi dari pusat kaldera. Saat itu, material vulkanik masih berada di bawah permukaan laut. Aktivitas tersebut tidak pernah berhenti dan terus berlangsung, hingga perlahan membentuk tubuh gunung api baru.
Pada 1929, material vulkanik yang dimuntahkan akhirnya terus menumpuk dan muncul ke atas permukaan laut. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Jadi, nama “Anak” memang menggambarkan posisinya sebagai gunung api baru yang tumbuh di kawasan bekas Gunung Krakatau yang asli.
Pertumbuhannya berlangsung cukup cepat. Erupsi berulang menyuplai material baru berupa lava dan material piroklastik sehingga kerucut gunung semakin tinggi. Data Badan Geologi menyebut aktivitas letusan pada masa awal dapat berulang dengan jeda sekitar satu sampai delapan tahun, dengan rata-rata sekitar empat tahun.
Menariknya, titik letusan juga tidak selalu berada di tempat yang sama. Pusat erupsi dapat berpindah di sekitar tubuh kerucut. Kondisi ini membuat bentuk gunung terus berubah seiring aktivitas vulkanik yang terjadi.
Karena proses tersebut masih berlangsung hingga sekarang, Gunung Anak Krakatau dapat dipandang sebagai gunung api yang masih berada dalam proses membangun tubuhnya. Bentuk yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil dari material vulkanik yang terus bertambah dan berkembang selama puluhan tahun.
Baca juga: Gunung Rinjani: Keindahan Alam dan Fakta Menarik tentang Gunung Ikonik di Lombok
Sejarah Letusan Gunung Anak Krakatau

Riwayat erupsi gunung ini cukup panjang sejak kemunculannya pada akhir 1920-an. Aktivitasnya juga tidak selalu berbentuk letusan besar. Ada erupsi Strombolian yang melontarkan material pijar, ada aliran lava, dan ada periode aktivitas yang berlangsung lebih tenang.
Berikut beberapa peristiwa penting dalam sejarah Gunung Anak Krakatau.
1. 1927 – 1929: Gunung Api Baru Muncul dari Laut
Peristiwa pertama sekaligus titik awal sejarahnya terjadi pada akhir 1927. Erupsi bawah laut mulai teramati pada 29 Desember 1927. Material vulkanik kemudian terus menumpuk hingga membentuk kerucut yang akhirnya muncul di atas permukaan laut pada 1929.
Pada masa ini, proses pembentukan gunung berlangsung sangat aktif. Air laut yang bertemu dengan material panas juga memengaruhi karakter erupsinya.
2. 1931 – 1960: Puluhan Kali Erupsi
Aktivitas vulkanik berlanjut setelah tubuh gunung muncul. Catatan Badan Geologi menunjukkan sekitar 47 kali letusan terjadi pada periode 1931–1960.
Pada masa tersebut, pusat letusan masih berasal dari danau kawah. Bentuk kawahnya menyerupai bulan sabit dan terbuka ke arah barat hingga barat daya. Air laut dapat masuk ke kawasan kawah sehingga terbentuk danau di dalamnya.
Memasuki 1961, danau kawah tersebut menghilang. Aktivitas berikutnya mulai menghasilkan aliran lava yang ikut membentuk tubuh gunung.
3. 1961 – 1988: Lava Membentuk Tubuh Gunung
Periode 1961 – 1988 mencatat sekitar sembilan kali letusan. Aktivitasnya menghasilkan lava dan material piroklastik.
Aliran lava menjadi bagian penting dalam pertumbuhan tubuh gunung. Material yang keluar dari pusat erupsi kemudian membeku dan menumpuk di sekitar kawah. Proses seperti ini berlangsung berulang selama gunung masih aktif.
4. 1992: Muncul Kepundan Baru
Aktivitas kembali meningkat pada November 1992. Sehari sebelum letusan utama, terjadi peningkatan cepat gempa-gempa dangkal. Pada 8 November, tercatat lebih dari 400 gempa gunung api dalam rentang sekitar 10 jam sebelum letusan pertama.
Erupsi tersebut kemudian membentuk lubang kepundan baru. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perubahan bentuk tubuh gunung dapat berlangsung bersamaan dengan peningkatan aktivitas kegempaan.
5. 2016 – 2017: Aktivitas Kembali Muncul
Setelah periode aktivitas yang panjang, erupsi kembali tercatat pada 20 Juni 2016. Setahun kemudian, pada 19 Februari 2017, terjadi erupsi Strombolian.
Erupsi Strombolian dicirikan oleh ledakan-ledakan vulkanik yang dapat melontarkan material pijar dari kawah. Pola semacam ini memang tercatat sebagai salah satu karakter erupsi Gunung Anak Krakatau.
6. 2018: Erupsi dan Tsunami Selat Sunda
Tahun 2018 menjadi salah satu periode paling penting dalam sejarah modern gunung ini. Aktivitas erupsi meningkat sejak Juni dan berlangsung hingga akhir tahun.
Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh gunung mengalami longsoran ke laut saat aktivitas vulkanik berlangsung. Peristiwa tersebut memicu tsunami di kawasan Selat Sunda dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan besar di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Setelah kejadian tersebut, bentuk tubuh gunung berubah drastis. Ketinggiannya ikut berkurang akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung.
7. 2022: Aktivitas Meningkat Lagi
Pada April 2022, pemantauan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik. Badan Geologi kemudian menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 24 April 2022 pukul 18.00 WIB.
Perubahan status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat meningkat kembali setelah periode yang lebih tenang. Aktivitas kegempaan, deformasi, dan kondisi visual menjadi hal penting untuk dipantau.
8. September 2026: Erupsi Menerus Selama 25 Jam
Di bulan September 2026, sebelum erupsi menerus terjadi, Gunung Anak Krakatau sudah berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Hingga 3 September, tercatat 224 kali erupsi.
Pada 4 September pukul 23.07 WIB, terjadi episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB. Pemantauan citra satelit menunjukkan adanya aliran lava dari pusat erupsi. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas berubah menjadi erupsi Strombolian dan kemudian menunjukkan kecenderungan menurun.
Setelah pemantauan tanpa henti, pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB, Badan Geologi menurunkan statusnya dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada). Penurunan tersebut didasarkan pada evaluasi aktivitas vulkanik dan data deformasi yang menunjukkan kecenderungan deflasi.
Baca juga: Sejarah Letusan Gunung Tambora: Mengubah Peta Dunia pada Tahun 1815
Meski status Gunung Anak Krakatau sudah turun menjadi Level II (Waspada), kewaspadaan tetap dibutuhkan. Penurunan status menunjukkan aktivitas sedang menurun, bukan berarti aktivitas vulkanik berhenti sepenuhnya. Saat ini masyarakat dan wisatawan masih diminta menjauhi area dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas serta mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG.
Status Gunung Anak Krakatau memang sudah turun, tetapi gunung ini belum berhenti bekerja. Aktivitas vulkanik dan perubahan kondisi bisa terjadi sewaktu-waktu.
Gunung yang tumbuh dari laut ini sudah berkali-kali mengubah bentuknya, dan sejarahnya menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik tidak bisa ditebak hanya dari apa yang terlihat di permukaan.












