JNEWS ONLINE
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
JNEWS Online
No Result
View All Result
Home Traveling

Sejarah Letusan Gunung Tambora: Mengubah Peta Dunia pada Tahun 1815

by Penulis JNEWS
28 November 2024
Sejarah Letusan Gunung Tambora: Mengubah Peta Dunia pada Tahun 1815
Share on FacebookShare on Twitter

JNEWS – Gunung Tambora memiliki sejarah yang tak hanya penting bagi masyarakat NTB, tetapi juga Indonesia dan dunia, terutama yang berkecimpung dalam bidang geologi. Gunung Tambora memegang dua rekor, yaitu salah satu gunung dengan letusan terbesar di dunia dan gunung yang memiliki kaldera terluas di Asia akibat letusan tersebut. Ini merupakan fakta sejarah yang dahsyat bagi Indonesia.

Gunung Tambora Sebelum Letusan 1815

Gunung Tambora terletak di dua kabupaten, yaitu Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dua ratus juta tahun yang lalu, gunung ini hanya berupa aliran lava kawah pusat yang membentuk gunung api perisai setinggi 1.800 mdpl (meter di atas permukaan laut) dengan volume 200 m³. Pada tahun 1815, ketinggian gunung tunggal ini mencapai 4.300 mdpl dengan volume hingga 650 km³.

Dikutip dari Konsepsi, pada masa itu terdapat 3 kerajaan di kaki Gunung Tambora, yaitu Sanggar, Tambora, dan Pekat. Tanah vulkanik yang terkenal subur membuat ketiga kerajaan ini hidup makmur dari hasil pertanian dan perkebunan. Hasilnya mereka perdagangkan sehingga memicu perdagangan produk lainnya.

Ketiga kerajaan tersebut sudah terbiasa menghadapi letusan-letusan Tambora sebagai gunung aktif. Mereka menggunakan kearifan lokal untuk melihat tanda-tandanya. Namun letusan di tahun 1815 itu sungguh berbeda.

Baca juga: 7 Wisata Kawah Terindah di Indonesia yang Wajib Dikunjungi Pencinta Alam

Letusan Gunung Tambora Tahun 1815

7 Wisata Kawah Terindah di Indonesia yang Wajib Dikunjungi Pencinta Alam

Tanda-tanda Gunung Tambora akan meletus sebenarnya sudah dirasakan tahun sebelumnya dengan terdengarnya bunyi gemuruh dan turunnya hewan-hewan. Namun tidak ada yang tahu kapan dan seberapa besar gunung ini akan meletus.

Pada tanggal 11 April 1815 waktu subuh, Gunung Tambora benar-benar meletus dengan dahsyat. Lava yang menyembur meluluhlantakkan Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat yang berada di barat laut dan utara gunung. Tak ada yang sempat menyelamatkan diri. Sedangkan sebagian masyarakat Kerajaan Sanggar sempat menyelamatkan diri karena letaknya agak jauh.

Nantinya, tepatnya di tahun 2004, keberadaan kerajaan yang makmur tersebut terbukti dengan ditemukannya jejak peninggalan oleh para arkeolog berupa artefak mewah, keramik, dan sebagainya. Penemuan ini dikenal dengan julukan Pompeii dari Timur karena kemiripan nasib sebuah kota yang makmur tetapi kemudian terkubur oleh letusan gunung api di Italia.

Letusan tersebut berlangsung selama tiga hingga lima hari, menghancurkan seluruh area di timur, utara, dan barat gunung akibat lontaran batu pijar dan awan panas. Diperkirakan kekuatan letusan itu berada pada 7 dari 8 skala VEI (Volcanic Explosivity Index), dan hanya kalah dari Yellowstone dan Long Valley Caldera di Amerika Serikat ratusan ribu tahun lalu.

Letusan Gunung Tambora mengakibatkan perut gunung tersebut kosong. Rongga tersebut membuat dinding gunung yang menjulang tidak kuat bertahan sehingga retak dan jatuh ke dalam membentuk kaldera. Tinggi gunung tersebut menyusut dari 4.300 mdpl menjadi 2.851 mdpl.

Diperkirakan garis tengah kaldera tersebut 7 km, sedangkan bagian dasarnya sepanjang 4 km. Saat ini di tengah kaldera telah muncul gunung api baru bernama Doro Api To’i, yang artinya gunung api kecil. Sedangkan pada kalderanya sudah berisi air.

Dampaknya terhadap Iklim Global

Kedahsyatan letusan Tambora pada tahun 1815 menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar yang pernah tercatat. Suaranya terdengar hingga Pulau Sumatra yang berjarak 2.000 km dari pusat letusan. Abu vulkanik yang dihasilkan menyebar hingga jarak 1.300 km, menyelimuti Pulau Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Dampaknya mencemari kualitas udara dan air di berbagai wilayah Indonesia.

Efek letusan Tambora juga menyebar hingga ke Eropa dan Amerika Utara, yang jaraknya mencapai 15.000 km dari Pulau Sumbawa. Abu dan aerosol vulkanik yang terlempar ke atmosfer sebagian besar jatuh kembali atau terbawa angin seperti letusan vulkanik biasa. Namun, letusan Tambora menghasilkan material yang sangat besar hingga sebagian mengendap di stratosfer selama beberapa bulan. Material ini menyebar ke berbagai belahan dunia, menciptakan efek langit vulkanik yang spektakuler dengan spektrum matahari berwarna-warni. Fenomena ini menginspirasi seniman Eropa, salah satunya William Turner, yang mengabadikannya dalam lukisan.

Dampak iklim akibat letusan Tambora mulai dirasakan setahun kemudian, pada 1816, ketika perubahan musim terjadi secara drastis di Eropa dan Amerika Utara. Biasanya, wilayah ini mengalami empat musim yang teratur, yakni musim dingin, semi, panas, dan gugur. Namun, pada tahun tersebut, musim panas tidak terjadi sama sekali.

Abu vulkanik yang tertahan di atmosfer menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi. Fenomena ini menurunkan suhu global sebesar 0,4–0,7 °C. Musim dingin menjadi lebih panjang, dan salju bahkan turun di tempat yang tidak biasa, seperti Australia dan Afrika Selatan, selama musim panas. Tahun 1816 pun dikenang sebagai Tahun Tanpa Musim Panas.

Dampaknya terhadap Kehidupan Manusia

Sejarah Letusan Gunung Tambora: Mengubah Peta Dunia pada Tahun 1815

Letusan Gunung Tambora menelan korban 71.000 nyawa manusia, dengan 11.000 – 12.000 merupakan korban langsung ketika gunung meletus. Sedangkan korban yang selamat mengalami penderitaan panjang.

Tantangan berat menanti karena warga kekurangan makan dan minum, serta mulai diserang berbagai penyakit. Belum lagi warga yang terluka tidak bisa segera mendapatkan pertolongan karena kondisi saat itu serba terbatas.

Hutan di sekitar gunung tidak bersisa. Sedangkan yang agak jauh, banyak pohon tumbang dan masuk ke laut bersama batu apung yang terbentuk dari lava lalu mengapung seperti rakit. Rakit-rakit semacam itu ditemukan hingga Kolkata di India.

Darurat kemanusiaan menyebar secara global. Ketiadaan matahari membuat tumbuhan dan hewan tidak bisa hidup. Bencana kelaparan pun melanda. Masyarakat di berbagai belahan dunia tidak tahu apa yang sedang terjadi karena belum ada alat komunikasi yang memadai seperti sekarang.

Kondisi yang gelap dan dingin sehingga menyebabkan kemiskinan dan banyak orang kelaparan tersebut juga mengilhami Percy Shelley untuk menulis novel berjudul Frankenstein yang terkenal itu.

Baca juga: Mengenal Gunung Latimojong: Puncak Tertinggi di Sulawesi yang Menantang

Sekarang, kondisi sekitar Gunung Tambora sudah berbeda jauh dibandingkan setelah letusan tahun 1815. Pemandangan di sekitar gunung sudah menghijau.

Kaldera Tambora sudah menjadi obyek wisata alam di bawah pengelolaan Balai Taman Nasional Tambora. Lebarnya kaldera membuat tersedianya banyak opsi jalur pendakian. Namun PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) tetap menerbitkan peta mitigasi yang harus dipatuhi semua pihak.

Post Views: 9
Tags: kapan gunung tambora meletus?letusan gunung tamboralokasi gunung tamborasejarah gunung tambora
Share196Tweet122
Next Post
Strategi Promosi Offline yang Efektif untuk UMKM

6 Strategi Promosi Offline yang Efektif untuk UMKM

TERKINI

art toys indonesia

Kreator Art Toys Indonesia Menembus Pasar Korea Selatan

12 August 2026
jne di kota pacitan

Melongok Perkembangan JNE di Kota Kelahiran Presiden SBY

12 August 2026
jne dorong pelaku umkm manfaatkan teknologi AI

JNE Tanjungpinang Dorong Pelaku UMM Manfaatkan Teknologi AI

11 August 2026
Tempat Wisata di Jerman Paling Terkenal untuk Liburan Pertama ke Negeri Para Kastel

Tempat Wisata di Jerman Paling Terkenal untuk Liburan Pertama ke Negeri Para Kastel

11 August 2026
Ide Hadiah Lomba 17 Agustus yang Murah tetapi Bermanfaat

Ide Hadiah Lomba 17 Agustus yang Murah tetapi Bermanfaat

11 August 2026
lomba azan nasional jne

Sejak SD Belajar Autodidak, Sosok Arijal Juara 1 Lomba Azan Nasional JNE

11 August 2026

POPULER

Cara Membuat Brand yang Kuat untuk Bisnis Baru

Cara Membuat Brand yang Kuat untuk Bisnis Baru

by Penulis JNEWS
29 July 2026

Oleh-Oleh Khas Sidoarjo Populer

Wisata Belanja, Ini 11 Oleh-Oleh Khas Sidoarjo yang Layak Dibeli

by Penulis JNEWS
30 July 2026

Cara Tetap Fokus saat WFH agar Produktivitas Tetap Terjaga

Cara Tetap Fokus saat WFH agar Produktivitas Tetap Terjaga

by Penulis JNEWS
27 July 2026

Arc de Triomphe Paris Prancis: Sejarah, Arsitektur, dan Daya Tarik yang Mendunia

Arc de Triomphe Paris Prancis: Sejarah, Arsitektur, dan Daya Tarik yang Mendunia

by Penulis JNEWS
23 July 2026

Menara Pisa: Kisah di Balik Bangunan Miring Paling Terkenal di Dunia

Menara Pisa: Kisah di Balik Bangunan Miring Paling Terkenal di Dunia

by Penulis JNEWS
17 July 2026

JNEWS Online

©2020 - Your Trusted Logistic Portal

Navigate Site

  • About
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2

©2020 - Your Trusted Logistic Portal