JNEWS – Gyukatsu adalah hidangan Jepang berbahan daging sapi yang digoreng. Tak sekadar digoreng, ada teknik khusus yang haqrus diterapkan agar hasil pengolahan daging sapinya menghasilkan gorengan daging yang renyah di luar dan juicy serta lembut di dalam.
Di Jepang, gyukatsu sering disajikan sebagai set menu. Biasanya ditemani nasi putih, sup miso, dan irisan kol segar. Penasaran dengan hidangan ini? Yuk, ikuti ulasan di bawah ini sampai selesai.
Gyukatsu Adalah Alternatif Tonkatsu untuk Pencinta Daging Sapi
Gyukatsu adalah hidangan khas Jepang yang berbahan dasar daging sapi. Potongan dagingnya tebal, mirip steak, lalu dilapisi tepung roti sebelum digoreng.
Dari luar, hidangan ini terlihat renyah dengan warna keemasan. Bagian dalamnya tidak digoreng sampai matang penuh. Biasanya dibiarkan setengah matang atau medium rare sehingga tekstur daging tetap lembut dan juicy. Setelah digoreng, daging dipotong kecil-kecil supaya mudah disantap.
Menurut keterangan TasteAtlas, Gyukatsu umumnya disajikan sebagai satu set menu. Di dalamnya ada nasi putih hangat dan sup miso. Sebagai pelengkap, sering ditambahkan irisan kol mentah yang segar. Kol ini membantu menyeimbangkan rasa gurih dari daging goreng. Selain itu, juga biasanya tersedia wasabi dan kecap asin. Jadi, mau pedas ringan, asin, atau rasa daging yang lebih menonjol, semua bisa diatur sendiri.
Jenis daging sapi yang dipakai untuk gyukatsu adalah sirloin, tenderloin, atau chuck steak. Bahkan ada juga yang menggunakan lidah sapi. Setiap potongan memberi sensasi makan yang berbeda. Itu sebabnya gyukatsu terasa tidak membosankan meski tampilannya sederhana.
Gyukatsu sering dibandingkan dengan tonkatsu. Namun, ada perbedaan besar di antara keduanya. Tonkatsu menggunakan daging babi sebagai bahan utama. Proses menggorengnya juga lebih lama. Suhu minyak biasanya berada di kisaran 160 hingga 180 derajat Celsius, sehingga daging matang sempurna hingga ke dalam. Hasil akhirnya tebal, lembut, dan benar-benar matang.
Gyukatsu berbeda, karena digoreng dengan waktu lebih singkat. Suhu minyaknya lebih tinggi, sekitar 180 hingga 200 derajat Celsius. Teknik ini dipakai agar bagian luar cepat renyah, sementara bagian dalam tetap setengah matang. Inilah ciri khas utama gyukatsu. Rasanya lebih “steak-like” dibanding tonkatsu.
Jadi, perbedaan gyukatsu dan tonkatsu tidak hanya soal jenis daging. Keduanya juga berbeda dari cara memasak. Mulai dari suhu minyak hingga lama penggorengan. Hasil akhirnya pun memberi pengalaman makan yang sangat berbeda. Gyukatsu cocok untuk yang suka daging sapi juicy. Tonkatsu pas untuk yang ingin daging matang dan gurih menyeluruh.
Baca juga: 14 Makanan Khas Jepang yang Paling Terkenal di Dunia dan Wajib Dicoba
Sejarah Gyukatsu

Gyukatsu adalah hidangan yang sejarahnya berawal pada awal periode Meiji. Di masa itu, masakan Jepang mulai banyak terpengaruh budaya Barat. Salah satunya adalah penggunaan daging sapi yang digoreng dengan balutan tepung.
Hidangan daging sapi goreng ini masih sederhana. Namun, dari sinilah cikal bakal gyukatsu mulai dikenal. Konsep daging sapi goreng perlahan diterima oleh masyarakat.
Memasuki periode Taisho, budaya makan katsu semakin berkembang. Tidak hanya daging sapi, daging babi juga mulai digunakan. Di wilayah Kanto, katsu berbahan daging babi menyebar dengan cepat. Hidangan ini kemudian dikenal sebagai tonkatsu. Seiring waktu, tonkatsu menjadi menu sehari-hari yang sangat populer. Hampir semua orang Jepang familier dengan tonkatsu hingga sekarang.
Berbeda dengan Kanto, wilayah Kansai punya cerita sendiri. Di kawasan ini, budaya menggoreng daging sapi sudah lebih dulu mengakar. Salah satu contohnya adalah kushi-katsu yang sering menggunakan daging sapi sebagai bahan utama. Selain itu, ada juga bifukatsu. Hidangan ini berupa daging sapi goreng ala Barat yang disajikan dengan saus demi-glace. Meski sama-sama berbahan daging sapi, bifukatsu berbeda dengan gyukatsu yang kita kenal sekarang.
Karena budaya makan daging sapi goreng sudah kuat di Kansai, gyukatsu adalah bentuk adaptasi baru dari kebiasaan tersebut. Konsepnya mengambil kebiasaan lokal, lalu dikemas dengan gaya Jepang yang lebih akrab. Bifukatsu yang bercita rasa Barat digeser ke arah set menu Jepang. Nasi putih dan sup miso dijadikan pendamping utama. Hasilnya adalah gyukatsu yang terasa lebih dekat dengan pola makan harian orang Jepang.
Dari sinilah gyukatsu mulai diposisikan sebagai pilihan baru dalam kuliner Jepang. Rasanya tetap menonjolkan daging sapi. Namun penyajiannya lebih sederhana dan akrab.
Memilih Restoran Gyukatsu di Jepang

Memilih restoran gyukatsu yang enak sebenarnya tidak serumit kelihatannya. Di Jepang, restoran gyukatsu bisa ditemukan dengan mudah, terutama di kota besar seperti Tokyo dan Kyoto. Tapi tidak semua rasanya sama.
Ada beberapa hal sederhana yang bisa diperhatikan supaya tidak salah pilih. Gyukatsu adalah hidangan yang benar-benar enak, jadi fokus saja pada tiga hal utama. Kualitas dagingnya, cara menggorengnya, dan cara menikmatinya.
1. Kualitas Daging
Restoran gyukatsu yang bagus biasanya akan menawarkan beberapa pilihan potongan daging. Hal ini bisa jadi tanda bahwa mereka paham karakter tiap bagian daging.
Waspadai daging yang terlihat sangat berlemak tapi rasanya hambar. Pasalnya, ada daging sapi yang disuntik lemak agar tampak marbling, tapi rasanya tidak sedalam daging asli.
Untuk gyukatsu yang benar-benar enak, wagyu asli sudah pasti merupakan pilihan terbaik. Coba lihat apakah restoran mencantumkan asal dagingnya. Informasi yang jelas biasanya menunjukkan kepercayaan diri terhadap kualitas bahan.
2. Cara Menggorengnya
Daging bagus saja tidak cukup kalau teknik menggorengnya asal-asalan. Gyukatsu adalah hidangan yang harus presisi cara menggorengnya. Kalau kurang matang, sari daging belum keluar maksimal. Kalau terlalu matang, jus daging justru hilang. Kunci kelezatannya ada di titik tengah kematangannya. Bagian luar harus renyah, tapi bagian dalam tetap juicy.
Lapisan tepung juga sangat berpengaruh. Komposisi tepung, telur, dan tepung roti harus seimbang. Cara melapisinya pun penting. Kalau terlalu tebal, rasa daging bisa tertutup. Kalau terlalu tipis, teksturnya kurang terasa. Restoran yang bagus biasanya konsisten soal ini.
3. Cara Penyajian
Restoran gyukatsu yang bagus umumnya memberi banyak pilihan cara makan. Ada saus, kecap asin, wasabi, sampai bumbu kering. Dengan beragam pilihan ini, pengalaman makan akan jadi lebih seru.
Urutan makannya, bisa mulai dari rasa paling simpel. Lalu lanjut ke kombinasi yang lebih berani. Satu menu bisa terasa seperti beberapa hidangan berbeda.
Nilai tambah lain adalah pilihan potongan daging dalam satu set. Dengan begitu, kita bisa mencicipi beberapa jenis daging sekaligus. Rasanya jadi lebih kaya dan tidak monoton. Dari sini, akan bisa dirasakan karakter gyukatsu yang sebenarnya. Tidak cuma kenyang, tapi juga puas.
Baca juga: Ini Dia 7 Kaisar Jepang yang Paling Terkenal akan Pengaruhnya
Gyukatsu adalah contoh bagaimana satu teknik memasak bisa mengubah cara menikmati daging sapi. Dari bahan yang terlihat sederhana, lahir hidangan dengan karakter yang kuat.
Lewat gyukatsu, kita bisa melihat sisi lain dari kuliner Jepang yang tidak selalu rumit. Gyukatsu cocok dinikmati tanpa banyak aturan. Dimakan perlahan atau cepat, tetap terasa nikmat.












