JNEWS – Hari Tuberkulosis Sedunia bukan sekadar tanggal di kalender. Momen ini jadi pengingat kalau Tuberkulosis masih ada di sekitar dan bisa menyerang siapa saja.
Banyak yang mengira TB sudah bukan masalah besar, padahal penyakit ini masih jadi ancaman di banyak negara, termasuk Indonesia. Sayangnya, informasi yang beredar sering campur aduk antara fakta dan mitos. Akibatnya, banyak orang salah paham dan justru makin sulit mencegah penyebarannya.
Pernah dengar kalau TB cuma menyerang orang miskin? Atau katanya, penyakit ini bisa menular lewat makanan?
Nah, hal-hal seperti ini bikin banyak orang takut tanpa alasan yang jelas. Di sisi lain, ada juga yang terlalu santai dan tidak sadar kalau mereka bisa berisiko. Makanya, penting buat tahu mana yang benar dan mana yang cuma mitos, terutama sekarang di Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap tanggal 24 Maret.
Dengan begitu, bisa lebih waspada tanpa harus panik berlebihan.
Hari Tuberkulosis Sedunia: Fakta dan Mitos yang Perlu Diketahui
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global. Banyak orang belum benar-benar paham tentang penyakit ini. Ada yang menganggapnya tidak berbahaya, ada juga yang percaya mitos yang salah.
Padahal, pemahaman yang benar bisa membantu mencegah penyebaran dan mendukung mereka yang sedang berjuang melawan TB, terutama di Hari Tuberkulosis Sedunia.
1. Fakta: TB Bisa Disembuhkan
Banyak yang takut kalau terkena TB berarti hidupnya selesai. Padahal, TB bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Pasien perlu minum obat selama minimal enam bulan tanpa putus. Kalau berhenti di tengah jalan, bakteri TB bisa kebal obat dan makin sulit diatasi. Itulah sebabnya disiplin dalam menjalani pengobatan sangat penting. Jangan percaya kalau ada obat herbal atau cara instan yang bisa menyembuhkan TB.
Baca juga: Batuk hingga DBD, Ini Penyakit Musim Hujan yang Wajib Diwaspadai
2. Fakta: TB Tidak Hanya Menyerang Paru-Paru
Hari Tuberkulosis Sedunia mengingatkan bahwa TB bukan cuma soal paru-paru. Bakterinya bisa menyebar ke organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, otak, ginjal, dan bahkan mata.
Jika menyerang tulang, bisa menyebabkan nyeri hebat dan gangguan gerak. Jika menyerang otak, risikonya lebih serius, bisa berujung pada meningitis yang berbahaya. Itulah kenapa gejalanya bisa berbeda-beda, tergantung bagian tubuh mana yang terkena.
3. Fakta: Orang dengan TB Bisa Menularkan Sebelum Didiagnosis
TB menyebar lewat udara saat penderita batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Orang yang belum tahu dirinya sakit bisa tetap beraktivitas seperti biasa dan tanpa sadar menularkan penyakit ini ke orang sekitar.
Itu sebabnya, orang yang sering batuk lebih dari dua minggu harus segera periksa ke dokter. Semakin cepat didiagnosis, semakin kecil kemungkinan menularkan ke orang lain. Memakai masker dan menjaga ventilasi ruangan juga bisa membantu mencegah penyebaran.
4. Fakta: Pengobatan TB Harus Tuntas
Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia jadi momen penting untuk mengingat bahwa pengobatan TB butuh waktu dan kedisiplinan. Minum obat harus dilakukan minimal enam bulan, tergantung kondisi pasien. Banyak yang merasa sudah sembuh setelah beberapa minggu dan buru-buru berhenti.
Padahal, itu kesalahan besar karena bakteri TB bisa bertahan dan semakin kebal. Kalau sudah resistan obat, pengobatan jadi lebih sulit, lebih lama, dan lebih mahal. Jadi, jangan anggap enteng aturan minum obat, karena ini soal keselamatan.
5. Fakta: TB dan HIV Saling Berkaitan
TB adalah salah satu infeksi paling berbahaya bagi penderita HIV. Orang dengan HIV memiliki sistem kekebalan yang lemah, sehingga lebih rentan terkena TB. Bahkan, TB adalah penyebab utama kematian pada orang dengan HIV/AIDS di banyak negara.
Penderita HIV yang terinfeksi TB harus mendapatkan pengobatan secepat mungkin. Jika dibiarkan, infeksi TB bisa menyebar lebih cepat dan menjadi lebih mematikan. Makanya, penting untuk melakukan pemeriksaan rutin jika memiliki risiko tinggi.
6. Mitos: TB Hanya Menyerang Orang Miskin
Hari Tuberkulosis Sedunia juga mengingatkan bahwa TB tidak pilih-pilih korban. Memang lebih sering ditemukan di lingkungan dengan ventilasi buruk dan kepadatan tinggi, tapi bukan berarti hanya menyerang orang miskin. Siapa pun bisa terkena, termasuk yang merasa sudah menjalani gaya hidup sehat.
Jika sering berada di tempat tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik, risiko tertular tetap ada. Imunitas tubuh yang lemah juga bisa membuat seseorang lebih rentan. Jadi, jangan sampai salah paham dan menganggap TB hanya masalah kelompok tertentu.
7. Mitos: TB Bisa Menular Lewat Berbagi Makanan atau Sentuhan
Banyak yang takut tertular TB hanya karena berbagi makanan atau menyentuh barang yang dipakai penderita. Faktanya, TB tidak menyebar lewat makanan, minuman, atau sentuhan. Penyebaran utama terjadi lewat udara saat penderita batuk atau bersin.
Jika berada di dekat penderita TB tanpa masker di ruangan tertutup, risiko tertular lebih besar. Tapi jika hanya makan bersama atau bersalaman, itu tidak akan menularkan TB.
8. Mitos: Orang dengan TB Harus Diisolasi Sepanjang Pengobatan
TB memang menular, tapi bukan berarti penderitanya harus dikurung sepanjang pengobatan. Isolasi hanya perlu dilakukan di awal, terutama sebelum pengobatan mulai efektif. Setelah beberapa minggu minum obat secara rutin, risiko penularan menurun drastis.
Penderita tetap bisa beraktivitas seperti biasa, asalkan tetap menjaga etika batuk dan memakai masker di tempat umum. Justru, dukungan sosial sangat penting agar penderita bisa menyelesaikan pengobatan sampai tuntas.
9. Mitos: TB Tidak Bisa Dicegah
Ada banyak cara untuk mencegah TB. Salah satunya dengan vaksin BCG yang diberikan sejak bayi untuk melindungi dari TB berat. Selain itu, menjaga pola hidup sehat, makan bergizi, dan tidur cukup bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
Ventilasi ruangan yang baik juga penting agar bakteri TB tidak bertahan lama di udara. Jika punya kontak erat dengan penderita TB, segera periksa dan konsultasikan dengan dokter.
Baca juga: Antisipasi Udara Tak Sehat di Rumah, Ini Cara Tingkatkannya
10. Mitos: TB Hanya Menyerang Orang Dewasa
Anak-anak juga bisa terkena TB, terutama jika tinggal serumah dengan penderita TB aktif. Sistem imun mereka yang belum sekuat orang dewasa membuat mereka lebih rentan.
TB pada anak sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga sulit didiagnosis. Jika dibiarkan, TB bisa menyebabkan komplikasi serius seperti meningitis atau gangguan tumbuh kembang. Oleh karena itu, anak-anak yang sering batuk lama atau berat badannya sulit naik perlu diperiksa lebih lanjut.
Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia adalah momen penting untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini. Dengan memahami fakta dan membuang mitos yang salah, penyebaran TB bisa ditekan. Jangan ragu untuk mencari informasi yang benar dan mendukung mereka yang sedang berjuang melawan TB.