JNEWS – Isra Mikraj adalah peristiwa penting dalam agama Islam. Karena di peristiwa inilah, Nabi Muhammad saw. mendapatkan wahyu untuk menunaikan salat lima waktu dalam sehari.
Bagi pemikiran umat manusia dan ilmu pengetahuan, tidak ada yang bisa menempuh perjalanan ke sidratal muntaha atau langit ketujuh. Tapi, tidak dengan Allah Swt. Atas kuasa-Nya, Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan panjang bersama Malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dilanjut ke langit ketujuh. Dan semuanya dilakukan dalam satu malam.
Peristiwa besar dalam agama Islam ini kemudian diperingati oleh umat muslim di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Bahkan, ada tradisi perayaan yang telah ada dari masa lampau masih lestari hingga saat ini.
Mengenal 9 Tradisi Isra Mikraj di Berbagai Daerah Indonesia yang Unik
Dikutip dari website Baznas Kabupaten Jombang, perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Rasulullah ini sangatlah berarti karena mengukuhkan pentingnya salat sebagai kewajiban dan tiang agama. Tak hanya itu saja, Isra Mikraj menjadi bukti keajaiban dan kasih sayang dari Allah Swt pada umat manusia.
Ribuan tahun berlalu, Isra Mikraj terus diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Di Indonesia sendiri, tradisi peringatan ini telah dilakukan sejak lama. Bahkan tradisi di tiap daerah berbeda-beda dan unik. Kendati zaman semakin maju, tapi masyarakat masih melakukannya dengan cara sederhana.
Berikut ini ulasan beragam tradisi Isra Mikraj yang unik di berbagai kota di Indonesia.

1. Rejaban Peksi Buraq – Yogyakarta
Dikutip dari website Kraton Nyayogyakarta Hadiningrat, Hajad Dalem Yasa Peksi Burak diadakan pada tanggal 27 Rajab tahun Jawa. Yasa memiliki arti mengadakan, peksi adalah burung. Sedangkan burak adalah buraq, makhluk hidup yang dipercaya menjadi kendaraan Rasulullah saat melakukan perjalanan Isra Mikraj.
Tradisi ini dimulai dengan membuat peksi burak yakni pohon buah dan empat pohon bunga dari buah serta kulit jeruk bali. Kulit tersebut dibentuk dan diukir menyerupai burung. Masing-masing peksi burak diletakkan di atas susuh atau sarang. Susuh dan peksi burak tersebut kemudian ditaruh di bagian atas pohon buah dan disangga dengan ruas bambu.
Tradisi ini dilakukan sejak pagi dan dipimpin oleh permaisuri atau putri sulung. Pembuatan peksi burak, miniatur pohon buah, merangkai bunga melati dan kantil hanya boleh dilakukan oleh kerabat dekat sultan. Sedangkan pembuatan pohon bunga atau taman dilakukan oleh abdi dalem wanita. Proses pembuatan tersebut dilakukan hingga menjelang waktu salat zuhur.
Selepas salat Asar, peksi burak akan diarak menuju Masjid Gedhe, tapi sebelum memulai prosesi, ada doa bersama yang dipimpin oleh Abdi Dalem Punokawan Kaji di Bangsal Sekar Kedhaton.
Baca juga: Daftar Tradisi dan Upacara Adat di Indonesia yang Masih Bertahan Hingga Kini
2. Ambengan – Jawa Tengah dan Jawa Timur
Bagi masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, perayaan Isra Mikraj dilakukan secara sederhana dengan tradisi ambengan. Tradisi leluhur turun temurun ini adalah makan bersama memperingati hari besar agama Islam.
Dalam bahasa Jawa, ambeng artinya nasi yang disajikan di wadah talam ukuran besar dan dilapisi daun pisang. Di dalam wadah tersebut, ada nasi dan lauk seperti ayam, telur, kentang, daging, ikan, bihun, serundeng, peyek, dan mi goreng.
Tradisi ambengan biasanya dimulai setelah salat Magrib dan diawali dengan doa atau pengajian, lalu makan bersama.
3. Marhaban – Bogor
Masyarakat Bogor khususnya Desa Malasari juga memiliki tradisi Isra Mikraj yang masih dilakukan hingga sekarang, marhaban. Tradisi ini berupa zikir bersama dan pengajian.
Acara akan dimulai dengan zikir bersama oleh imam masjid, kiai, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Lalu dilanjutkan dengan kajian seputar kisah perjalanan Rasulullah. Hal yang menarik dari kajian tersebut adalah ceritanya dikemas dalam bentuk puji-pujian atau qasidah. Selesai acara, dilanjutkan dengan makan bersama. Kemudian melakukan salat Isya berjamaah.
4. Nyadran – Jawa Tengah
Di Jawa Tengah seperti Surakarta, setiap menjelang Isra Mikraj kerap melakukan tradisi nyadran. Tradisi ini memiliki makna berdoa pada leluhur. Biasanya yang dilakukan adalah membersihkan makam leluhur dan diikuti doa bersama.
Namun berbeda dengan Nyadran di Desa Sirawak. Tradisi Nyadran di desa ini lebih mengarah ke kirab budaya. Dalam kirab tersebut, masyarakat membuat replika menyerupai burung sirawak yang terbuat dari buah dan sayuran. Lalu, replika tersebut diarak keliling desa dan dimeriahkan dengan iringan musik tradisional seperti thek-thek dan lesung.

5. Khatam Kitab Arjo – Temanggung
Di Kota Temanggung, memperingati Isra Mikraj dilakukan dengan khataman Kitab Arjo. Kitab ini adalah kitab dengan bahasa Jawa tulisannya menggunakan Arab pegon karangan KH Ahmad Rifai al-Jawi. Dalam kitab tersebut, dituliskan secara detail kisah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram hingga ke langit ketujuh.
Tradisi ini dimulai dengan pembacaan kitab oleh kiai atau ulama setempat. Masyarakat yang datang akan duduk mendengar dan menyimak pembacaan kitab tersebut. Kegiatan ini menarik banyak minat masyarakat yang ingin memahami tentang peristiwa besar tersebut.
6. Pawai Obor – Bandung
Di Bandung, perayaan Isra Mikraj dilakukan secara sederhana dengan mengadakan pawai obor. Kegiatan ini rutin dilakukan di Taman Tegalega. Pawai ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan saking antusiasnya, jumlah peserta bisa mencapai ribuan.
Acara dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan melewati rute-rute tertentu. Untuk rute, biasanya dari pihak panitia akan mengumumkan beberapa hari sebelum acara berlangsung. Ketika pawai dimulai, para peserta menyerukan berbagai yel-yel sebagai cara untuk saling menyemangati.
7. Nganggung – Bangka Belitung
Dari suku Melayu Bangka Belitung, tepatnya di Pulang Bangka, ada tradisi memperingati Isra Mikraj yang masih lestari yakni Nganggung. Tidak jauh berbeda dengan Ambengan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tradisi ini dilakukan oleh masyarakat dengan membawa makanan dari rumah masing-masih menuju satu tempat pertemuan besar.
Umumnya masyarakat menyediakan aneka makanan seperti nasi, lauk lengkap sayuran, buah, dan kue. Semua makanan dimasukkan ke dalam wadah seperti rantang, dikumpulkan, dan dimakan bersama.
Rangkaian tradisi ini dimulai dengan doa-doa dan ceramah agama oleh ustaz. Tak hanya memberikan makna tentang keagamaan, tradisi ini juga memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antar masyarakat.
8. Ngurisan – Lombok
Di Lombok ada tradisi Ngurisan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Ngurisan atau cukur rambut bayi dilakukan secara khusus untuk bayi yang baru lahir atau berusia di bawah enam bulan. Tradisi ini dilaksanakan di masjid atau musala sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar bayi tersebut mendapatkan keberkahan dalam hidup.
Dalam prosesi ngurisan, seluruh undangan baik dari tokoh agama dan masyarakat setempat akan melakukan tugas simbolis yakni mencukur atau memegang kepala bayi. Selama acara berlangsung, masyarakat yang hadir akan melantunkan selawat Nabi Muhammad saw.
Tradisi ini tidak hanya dilakukan saat bulan Rajab saja, tapi di hari besar Islam lainnya juga seperti Idulfitri dan Iduladha.

9. Rajaban – Cirebon
Masyarakat Cirebon memiliki tradisi Rajaban sebagai bentuk peringatan untuk perisitawa besar dalam sejarah umat Islam ini. Tradisi ini akan dimulai dengan berziarah terlebih dahulu ke Plangon, makam Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan yang merupakan dua tokoh penyebar ajaran agama Islam di Cirebon.
Pusat tradisi Rajaban bertempat di Keraton Kasepuhan Cirebon dengan menggelar pengajian dan zikir bersama masyarakat umum. Pihak keraton juga membagikan nasi bogana khas Rajaban yang terdiri dari telur ayam, tempe, kentang, bumbu kuning, parutan kelapa, dan tahu untuk makan bersama setelah selesai pengajian.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Budaya dan Tradisi Masyarakat Adat di Kalimantan Utara
Tradisi Isra Mikraj di berbagai kota di Indonesia tidak sekadar seremonial saja tapi menjadi simbol kebersamaan, kesatuan, mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan ketakwaan pada Allah Swt serta bagian dari toleransi umat beragama.












