JNEWS – Istana Bogor merupakan salah satu istana kepresidenan yang menyimpan jejak panjang sejarah Indonesia, mulai dari masa kolonial hingga pemerintahan modern. Istana ini sangat istimewa. Di dalamnya tersimpan arsip sejarah, koleksi seni, serta ruang-ruang yang pernah menjadi saksi keputusan besar negara.
Lokasi Istana Bogor berada di pusat kota, tepatnya di Jl. Ir. H. Juanda, RT.04/RW.01, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah. Pintu utamanya terletak di Jl. Ir. H. Juanda No.68, Sempur, yang biasanya menjadi akses resmi saat ada acara kenegaraan atau kunjungan terbuka.
Kawasan ini menyatu dengan area Kebun Raya Bogor sehingga lingkungannya terasa hijau dan tertata. Akses menuju lokasi juga mudah, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum seperti KRL dengan turun di Stasiun Bogor yang jaraknya cukup dekat. Letaknya yang strategis membuat istana ini berada tepat di jantung aktivitas Kota Bogor.
Jejak Sejarah Istana Bogor dari Era Kolonial hingga Republik
Istana Bogor mulai digagas pada Agustus 1744 oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, dan awalnya dinamakan Buitenzorg. Artinya kurang lebih “bebas dari urusan” atau “tanpa kekhawatiran”. Baron van Imhoff saat itu membangun istana ini karena ia ingin tempat yang lebih sejuk dan tenang untuk beristirahat sekaligus bekerja di luar Batavia yang dinilainya panas dan sumpek.
Pada tahun 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memperluas bangunan tersebut agar lebih representatif. Saat Inggris berkuasa di Jawa pada 1811–1816, Thomas Stamford Raffles ikut memberi sentuhan berbeda. Halaman istana diubah menjadi taman bergaya Inggris yang lebih tertata.
Bangunan Istana Bogor yang asli sempat hancur akibat gempa besar pada 10 Oktober 1834 yang dipicu oleh letusan Gunung Salak. Struktur tiga lantai saat itu runtuh dan tidak bisa dipertahankan.
Pembangunan ulang dilakukan beberapa tahun kemudian pada masa Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmaer van Twist. Desainnya diubah menjadi satu lantai agar lebih aman terhadap gempa, dengan gaya arsitektur Eropa abad ke-19 yang lebih kokoh. Bentuk inilah yang bertahan hingga sekarang.
Tahun 1870, Istana Bogor resmi dijadikan kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Setelah melalui masa pendudukan Jepang dan Inggris, bangunan ini akhirnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia pada akhir 1949.
Sejak 1950, fungsi Istana Bogor lantas berubah menjadi salah satu istana kepresidenan Republik Indonesia. Presiden Soekarno dikenal sangat menyukai tempat ini dan menjadikannya kediaman resmi sampai 1967. Salah satu peristiwa penting yang terjadi di sini adalah penandatanganan Supersemar pada 11 Maret 1966.
Dalam perkembangannya, fungsi istana terus menyesuaikan kebutuhan pemerintahan. Sejak Februari 2015, Presiden Joko Widodo menjadikan Istana Bogor sebagai kediaman utama sekaligus pusat aktivitas kepresidenan.
Selain untuk urusan kenegaraan, tempat ini juga kerap digunakan untuk menerima tamu negara dan menyelenggarakan berbagai agenda resmi. Dari rumah peristirahatan kolonial hingga pusat kegiatan presiden, perannya berubah, tetapi bangunannya tetap menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.
Baca juga: 10 Wisata Murah Meriah di Bogor yang Cocok untuk Liburan Santai
Gaya Arsitektur dan Adaptasi Tropis Istana Bogor

Arsitektur Istana Bogor menampilkan gaya klasik Eropa yang disesuaikan dengan kondisi tropis Indonesia. Secara umum, bangunannya bergaya Indische Empire, turunan dari arsitektur Neoklasik yang populer di Eropa pada abad ke-18 dan ke-19. Ciri khasnya terlihat dari bentuk bangunan yang simetris, penggunaan deretan kolom besar bergaya Doric, serta tampilan fasad yang tegas dan rapi.
Pada versi awalnya, desain istana bahkan disebut terinspirasi dari Blenheim Palace di Inggris. Meski begitu, bentuk akhirnya tidak sepenuhnya meniru, karena harus menyesuaikan dengan lingkungan lokal.
Penyesuaian terhadap iklim tropis terlihat jelas pada detail bangunannya. Istana memiliki teras depan (voor galerij) dan teras belakang (achter galerij) yang luas. Bagian ini bukan sekadar elemen estetika, melainkan berfungsi menahan panas matahari langsung dan mengurangi tampias hujan.
Setelah gempa besar tahun 1834, selain struktur bangunan diubah menjadi satu lantai, langit-langit juga dibuat lebih tinggi. Jendela besar dipasang di berbagai sisi, sehingga sirkulasi udara bisa lebih baik.
Kompleks Istana Bogor tidak hanya terdiri dari satu bangunan utama. Gedung induk dipakai untuk kegiatan resmi kenegaraan sekaligus ruang kerja pribadi Presiden. Di sisi kiri dan kanan terdapat paviliun yang biasanya digunakan untuk menginap tamu negara atau pejabat yang mendampingi.
Pada masa Presiden Soekarno juga dibangun bangunan khusus bernama Dyah Bayurini yang difungsikan sebagai tempat beristirahat keluarga. Seluruh area istana menyatu dengan hamparan taman luas yang terhubung dengan Kebun Raya.
Perpaduan antara bangunan besar dan ruang hijau inilah yang membuat kawasan Istana Bogor terasa terbuka, tetapi tetap berwibawa.
Fakta-Fakta Menarik tentang Istana Bogor yang Belum Banyak Diketahui
Di balik bangunan megah dan halaman luasnya, Istana Bogor menyimpan banyak detail menarik yang jarang dibahas secara lengkap.
1. Asal-Usul Rusa Totol di Halaman Istana
Rusa totol yang sekarang jadi pemandangan khas di halaman Istana Bogor awalnya hanya ada enam pasang atau 12 ekor. Rusa-rusa ini didatangkan pada tahun 1808 oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dari wilayah perbatasan India dan Nepal.
Rusa-rusa tersebut dipelihara sejak awal agar suasana istana terlihat lebih hidup. Dikutip dari website Kementrian Sekretarariat Negara, kini, dari hanya 12 ekor, rusa-rusa tersebut telah berkembang biak menjadi ratusan ekor. Mereka dibiarkan berkeliaran bebas di halaman luas istana dan sudah menjadi bagian dari identitas tempat ini.
2. Patung Pemanah dan Si Denok
Di area halaman istana, ada dua patung yang cukup dikenal. Patung Pemanah merupakan karya seniman asal Hungaria, Zsigmond Kisfaludi Strobl, dibuat pada 1919. Bentuknya menggambarkan sosok pemanah dengan detail anatomi yang luar biasa. Sementara itu, ada juga patung Si Denok karya pematung Indonesia, Trubus Soedarsono.
3. Lukisan dan Karya Seni Legendaris
Istana Bogor juga menyimpan ratusan lukisan dengan beragam tema, termasuk karya-karya yang bernuansa budaya dan mistis.
Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah lukisan Nyi Roro Kidul karya Basoeki Abdullah. Lukisan ini cukup ikonik karena mengangkat sosok yang lekat dengan cerita rakyat Jawa. Selain itu, terdapat pula reproduksi patung terkenal The Hand of God yang menjadi hadiah dari pemerintah Swedia.
4. Lima Cermin yang Bertahan dari Era Kolonial
Sebagian besar koleksi asli peninggalan masa kolonial tidak lagi utuh. Pada masa Perang Dunia II, banyak benda di dalam istana yang hilang atau dijarah oleh tentara Jepang maupun Sekutu.
Dari sekian banyak barang, hanya lima cermin kristal besar yang masih tersisa hingga sekarang. Cermin-cermin ini tetap terpasang dan dirawat sebagai bagian dari sejarah bangunan.
5. Punya Halaman Belakang yang Spesial
Tidak semua orang tahu bahwa Kebun Raya Bogor dulunya merupakan halaman belakang istana. Pada awalnya, area tersebut masih berada dalam satu pengelolaan. Namun pada tahun 1817, lahan itu dipisahkan dan difungsikan sebagai pusat penelitian tanaman tropis.
Sejak saat itu, Kebun Raya berkembang menjadi institusi ilmiah yang berdiri sendiri. Pemisahan ini membuat fungsi istana dan kebun menjadi berbeda, meski lokasinya tetap berdampingan, sampai sekarang.
6. Museum Kepresidenan Balai Kirti
Di dalam kompleks istana terdapat Museum Kepresidenan Balai Kirti. Museum ini menyimpan berbagai dokumentasi tentang perjalanan para Presiden Indonesia. Pengunjung bisa melihat galeri foto, koleksi buku, hingga replika ruang kerja presiden terdahulu.
Baca juga: Istana Cipanas: Keindahan dan Sejarah di Kaki Gunung Gede
Masyarakat umum bisa berkunjung ke kompleks Istana Bogor melalui Museum Kepresidenan RI Balai Kirti untuk melihat dokumentasi dan koleksi yang disediakan. Akses langsung ke gedung utama hanya diperuntukkan bagi tamu negara atau agenda kenegaraan tertentu.
Namun, bagi yang ingin menikmati suasana sekitar dan melihat rusa totol dari dekat, cukup berjalan di jalur pedestrian sepanjang pagar luar di Jl. Ir. H. Juanda atau Jl. Jalak Harupat. Dari sana, orang tetap bisa merasakan atmosfer kawasan istana tanpa harus masuk ke area bangunan inti.