JNEWS – Merencanakan perjalanan ke Eropa untuk pertama kali bisa cukup membingungkan bagi yang baru pertama kalinya, terutama saat harus menentukan rute dan durasi perjalanan. Itinerary Eropa yang terlalu padat bisa membuat liburan cepat melelahkan, sementara rencana yang terlalu longgar sering membuat waktu terasa tidak terkelola dengan baik.
Karena itu, rencana perjalanan ke Eropa untuk pertama kali sebaiknya disusun dengan alur yang tidak terlalu melebar. Fokus pada rute yang umum dipilih akan dapat sedikit membantu menghemat waktu, tenaga, dan biaya, tanpa mengurangi pengalaman liburan itu sendiri.
Itinerary Eropa untuk 14 Hari Liburan
Perjalanan pertama ke Eropa bisa disusun dengan durasi sekitar 10–14 hari agar tetap nyaman dijalani. Dalam rentang waktu tersebut, memilih rute klasik Eropa Barat yang menghubungkan beberapa kota besar dengan akses transportasi yang mudah sangat disarankan. Perpindahan antarkota dapat dilakukan menggunakan kereta atau budget bus yang lebih praktis dan relatif efisien.
Bagi pemula, Belanda bisa dipilih sebagai titik awal perjalanan karena proses visanya relatif lebih mudah dan sistem transportasinya sangat canggih. Rute Amsterdam–Paris–Swiss–Roma menjadi pilihan populer karena menghadirkan variasi suasana tanpa jarak antarkota yang terlalu berjauhan.
Berikut contoh itinerary Eropa 14 hari untuk pemula yang bisa dipertimbangkan, dengan beberapa rekomendasi atraksi wisata yang bisa dieksplorasi di masing-masing negara.
1. Belanda: Amsterdam (Hari 1–3)
Amsterdam cocok dijadikan pintu masuk pertama ke Eropa, terutama untuk pemula yang baru pertama kali menginjak kawasan Schengen. Kota ini relatif ramah, sistem transportasinya rapi, dan penunjuk arah hampir semuanya jelas dalam bahasa Inggris.
Hari 1
Setelah mendarat di Bandara Schiphol, perjalanan ke pusat kota bisa langsung dilanjutkan dengan kereta tanpa perlu berpindah-pindah transportasi, sehingga hari pertama tidak terasa terlalu melelahkan. Waktu awal kedatangan sebaiknya dimanfaatkan untuk orientasi ringan, seperti berjalan santai di sekitar kanal dan area penginapan.
Hari 2
Canal tour lebih pas dilakukan di hari kedua. Beberapa destinasi yang bisa dikunjungi di antaranya:
- Anne Frank House, yakni tempat Anne Frank dan keluarganya bersembunyi selama sekitar dua tahun. Di dalamnya terdapat ruang-ruang asli tempat persembunyian, termasuk kamar Anne, serta dokumentasi tentang kehidupannya, keluarganya, dan situasi Yahudi di Eropa pada masa itu. Tiketnya sebaiknya sudah dipesan jauh-jauh hari karena sering habis
- Zaanse Schans, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Di kawasan ini, pemandangan kincir angin, rumah kayu khas Belanda, dan suasana desa terasa kontras dengan hiruk-pikuk kota.
Hari 3
Itinerary Eropa hari ketiga di Amsterdam bisa menyewa sepeda untuk berkeliling. Amsterdam memang dikenal dengan budaya bersepeda, sehingga menyewa sepeda bisa menjadi pengalaman menarik jika kondisi fisik mendukung.
2. Prancis: Paris (Hari 4–7)

Perjalanan dari Amsterdam ke Paris paling nyaman menggunakan kereta cepat karena waktunya singkat dan tidak perlu ribet dengan bagasi seperti di pesawat. Transportasi umum di Paris efisien, tapi jam sibuk cukup padat, jadi atur waktu bepergian dengan bijak. Empat hari memberi ruang untuk menikmati kota ini tanpa harus terburu-buru pindah tempat. Berikut rekomendasi itinerary Eropa berikutnya di Paris.
Hari 4
Setibanya di Paris, jangan langsung menjejalkan terlalu banyak agenda di hari pertama. Kota ini padat, ramai, dan butuh waktu untuk membiasakan diri dengan ritme transportasinya. Hari keempat itinerary Eropa bisa dihabiskan untuk mengeksplorasi lokasi-lokasi yang dekat saja dengan penginapan.
Paris juga enak dinikmati dengan duduk-duduk di taman sambil makan roti atau camilan lokal.
Hari 5
Menara Eiffel bisa dikunjungi dari luar saja jika ingin hemat waktu dan tenaga, karena antre naik ke atas sering panjang. Namun, tak ada salahnya juga untuk mengeksplorasi lebih jauh jika memungkinkan.
Baca juga: Menara Eiffel: Fakta Unik di Balik Ikon Paris yang Tidak Banyak Diketahui Orang
Hari 6
Museum Louvre sebaiknya disiapkan khusus satu hari, tanpa diselipkan di sela-sela agenda lain, karena ukurannya besar dan mudah melelahkan. Kalau memang tidak memungkinkan, tidak perlu memaksakan melihat semua koleksi, cukup fokus ke area yang memang ingin dilihat.
Hari 7
Notre Dame bisa dinikmati dari luar sambil berjalan santai di sekitarnya, karena kawasan sekitarnya cukup hidup. Menyusuri Sungai Seine pada sore hari juga menarik, bahkan tanpa perlu tiket mahal.
3. Swiss: Lucerne / Interlaken (Hari 8–10)

Setelah dua kota besar yang ramai, Swiss akan terasa seperti jeda yang menenangkan di tengah perjalanan. Dari Paris, kita bisa menuju Swiss dengan kereta yang pemandangannya sudah indah sejak mendekati perbatasan.
Hari 8
Lucerne dan Interlaken sama-sama cocok untuk pemula, tinggal pilih berdasarkan minat pemandangan dan jalur transportasi. Kota-kota di Swiss relatif kecil dan rapi, jadi tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi.
Aktivitas utama di sini bukan kejar objek wisata, tapi menikmati alam dan suasana. Danau Lucerne misalnya, bisa dinikmati dengan berjalan kaki atau naik perahu tanpa agenda yang padat.
Hari 9
Hari kesembilan itinerary Eropa, kunjungan ke area pegunungan seperti Jungfraujoch bisa jadi pilihan. Perhatikan cuaca karena kabut sering turun.
Tiket kereta gantung di Swiss cukup mahal, jadi sebaiknya pilih satu aktivitas utama saja di hari ini. Tidak perlu memaksakan semua spot Instagram karena perjalanan ke sana sendiri sudah memakan waktu. Swiss juga terkenal dengan ketepatan waktu transportasi, jadi perhatikan jadwal kereta agar tidak tertinggal.
Hari 10
Itinerary Eropa hari terakhir di Swiss lebih pas diisi dengan kegiatan santai sebelum melanjutkan perjalanan ke Italia. Richard Wagner Museum bisa menjadi pilihan yang oke. Museum ini berada di area yang tenang dengan suasana rumah tinggal
4. Italia: Roma dan Vatikan (Hari 11–14)

Roma punya karakter yang sangat berbeda dibanding kota-kota yang lain; lebih ramai, lebih berisik, dan terasa sangat hidup. Dari Swiss atau Paris, perjalanan ke Roma dapat menggunakan pesawat untuk menghemat waktu.
Saat tiba, jangan kaget dengan suasana kota yang lebih semrawut dibanding Eropa Barat lainnya.
Hari 11
Di hari kesebelas itinerary Eropa, bisa mengunjungi Colosseum dan Roman Forum dengan tiket terusan agar lebih efisien dan tidak perlu antre panjang. Area ini luas, jadi gunakan sepatu yang nyaman dan siapkan air minum.
Baca juga: Colosseum Roma: Sejarah, Arsitektur, dan Fakta Menarik The New Wonders of The World
Hari 12
Vatikan selalu penuh dengan pengunjung, jadi datang pagi hari jauh lebih nyaman. Basilika Santo Petrus bisa dikunjungi gratis, tapi tetap perlu antre dan mengikuti aturan berpakaian.
Hari 13
Kembali ke Roma, hari ketiga belas bisa dinikmati dengan berjalan kaki. Banyak sudut kota yang menarik tanpa harus masuk tempat wisata berbayar. Transportasi umum ada, tapi berjalan kaki sering kali justru lebih praktis untuk jarak dekat.
Di hari-hari terakhir ini, sisakan waktu untuk makan dengan santai tanpa agenda ketat. Makanan Italia relatif lebih mudah diterima lidah Indonesia, sehingga hari ini jadi momen yang pas untuk menikmati kuliner tanpa terlalu banyak penyesuaian.
Hari 14
Sebelum kembali pulang, hari terakhir di Roma bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ringan seperti membeli oleh-oleh. Area Via del Corso bisa dipilih karena lokasinya di pusat kota dan mudah dijangkau, dengan banyak toko yang menjual produk khas Italia.
Untuk oleh-oleh makanan, ada Campo de’ Fiori yang dikenal sebagai pusat penjualan pasta kering, minyak zaitun, rempah, dan produk lokal dalam kemasan praktis. Jika ingin tempat yang lebih rapi dan modern, ada La Rinascente Roma Tritone.
Waktu belanja sebaiknya tidak terlalu mepet dengan jam keberangkatan agar tetap santai. Sisa waktu bisa digunakan untuk makan terakhir atau sekadar duduk menikmati suasana kota.
Dengan itinerary Eropa yang disusun rapi seperti ini, perjalanan pertama ke Benua Biru bisa dinikmati dengan ritme yang lebih tenang tanpa rasa dikejar waktu. Rute yang terfokus, durasi yang seimbang, dan pilihan kota yang saling terhubung membantu liburan berjalan lebih rapi sekaligus memberi ruang untuk menikmati setiap tempat secara utuh.











