JNEWS – Pemerintah terus mengejar pertumbuhan ekonomi berbasis AI. Berbagai upaya terus dilakukan, termasuk dalam hal pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Digital mempercepat roadmap jaringan 5G agar mampu menopang kebutuhan ekonomi digital generasi baru.
Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, Ismail mengatakan konektivitas kini tidak lagi dipandang sekedar sebagai sarana komunikasi, tetapi menjadi fondasi produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional di era AI. “Roadmap 5G harus kita percepat. Kita berharap pada 2029 cakupan 5G di Indonesia terus berkembang sampai ke pelosok-pelosok Tanah Air. Ini penting karena dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis AI, sehingga infrastruktur digital harus mampu mengimbangi kebutuhan tersebut,” ujar Ismail dalam acara Digital Transformation Indonesia Conference and Expo (DTI-CX) 2026 di Jakarta baru-baru ini,
Menurut Ismail, Indonesia telah memiliki fondasi infrastruktur digital yang kuat. Jaringan serat optik nasional telah membentang lebih dari satu juta kilometer, termasuk kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai pulau di Indonesia. Jaringan 5G sendiri adalah teknologi seluler generasi kelima yang menawarkan kecepatan internet jauh lebih cepat, latensi sangat rendah, dan kapasitas jauh lebih besar daripada 4G.
Dalam hal pembangunan infrastruktur telekomunikasi berikutnya kini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan ketahanan jaringan agar mampu mendukung layanan digital generasi baru. “Tantangan kita bukan lagi sekedar memperluas jaringan dasar. Yang kita bangun sekarang adalah infrastruktur yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI,” katanya. Ia menjelaskan perkembangan AI juga mengubah cara membangun industri telekomunikasi.
Baca juga: Mengenal AI Generatif, Teknologi Canggih di Balik Gambar dan Teks Otomatis
Bila sebelumnya operator berfokus menyediakan kapasitas bandwidth, kini jaringan harus mampu menopang layanan AI cloud, komputasi berkinerja tinggi, Internet of Things, serta berbagai aplikasi digital yang meningkatkan produktivitas masyarakat dan dunia usaha. “Dulu operator menjual bandwidth. Sekarang infrastruktur harus mampu mendukung layanan AI cloud dan berbagai aplikasi produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri,” jelas Ismail.
Infrastruktur digital, tambah Ismail, tidak lagi hanya menyediakan konektivitas, tetapi juga harus menjadi penggerak solusi digital di berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, pertambangan, manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga sektor keuangan dan juga dunia logistik atau rantai pasok. *
