Kenalan dengan Finalis Abang None Jakarta yang Kini Berkerja di JNE (2)

Erik Syam Pratama, yang kini bekerja menangani Money Remmitance di JNE, menjadi Juara Harapan 1 Abang None Jakarta tahun 2002

JNEWS, Jakarta – Di luar pekerjaan sehari-hari di JNE, ksatria dan srikandi JNE punya kisah dan cerita yang beragam uniknya di luar sana, entah itu pengalaman hidupnya, hobinya, maupun mimpi-mimpinya.

Mungkin belum banyak yang tahu cerita mengenai karyawan JNE yang pernah mengikuti malam final kompetisi Abang dan None Jakarta yang kini bekerja di JNE. Yuk kita telusuri, siapa saja sih mereka?

Erik Syam Pratama: Belajar Berempati di Abang None Jakarta

Dengan perawakan tegap dan postur yang hampir mencapai 180 cm, tidak mengherankan jika pria yang akrab disapa “Pak Erik” ini akan dikira sebagai model dan peragawan, atau setidaknya mantan model dan peragawan. Namun pekerjaan sehari-harinya di JNE jauh dari dunia panggung, kecuali kalau sesekali diminta mengisi acara sebagai MC untuk acara internal. Saat ini ksatria JNE yang bernama lengkap Erik Syam Pratama ini menangani money remittance (pengiriman uang) di JNE.

Bekerja di JNE sejak tahun 2015 ini, sekali-kalinya Erik berlenggak-lenggok di panggung bak seorang model adalah saat mengikuti Abang None Jakarta 21 tahun lalu, yakni tahun 2002.

Baca juga: Bercocok Tanam Hidroponik di Gedung Bertingkat ala Ahmad Zulfikar

Saat masih menempuh kuliah hukum di Universitas Indonesia, Erik mengikuti pemilihan Abang None Jakarta. Awalnya mendaftar untuk sekadar cari pengalaman, Erik justru  terpilih mewakili region Jakarta Utara di Final Abang None Jakarta. “Setelah mendaftar, para peserta dari berbagai region disaring dengan berbagai macam tes, kemudian dikarantina selama seminggu, sampai tersisa 15 pasang finalis Abang None Jakarta,” kenangnya kepada JNEWS.

Erik dalam sebuah acara di Jakarta

Erik mengenang kembali pengalaman lucu saat mengikuti masa karantina. Dalam karantina, sebut Erik, para peserta harus menguasai berbagai materi dan skill yang diwajibkan, seperti pengetahuan umum tentang kebudayaan dan pariwisata Jakarta, seni berbicara di depan orang banyak (public speaking), kemampuan bahasa asing, dan menari. Skil yang terakhir ini membuat Erik kelabakan. “Badan saya kaku seperti robot kalau menari. Instruktur saya sampai gemes melihat saya nggak lancar-lancar narinya. Sampai akhirnya saya dibimbing secara private kayak kursus khusus, kemampuan ‘nari saya agak lumayanlah,” sahut Erik.

Walaupun tidak menjadi juara pertama dalam Final Abang None Jakarta 2002, Erik meraih hasil lumayan dengan terpilih menjadi Juara Harapan 1. Erik mengaku tidak memusingkan hasilnya, karena yang bermanfaat dan masih teringat sampai sekarang adalah pengalaman dan prosesnya. “Interaksinya sangat menyenangkan. Yang menonjol adalah suasana saling menghargai dan berempati satu sama lain. Jadi, misalnya ada beberapa kandidat atau peserta yang skill-nya agak lemah di bidang tertentu, biasanya kita saling support dan toleran. Dan terakhir, disiplin. Di sana kita dipaksa untuk disiplin. Kalau tidak, ada hukumannya,” pungkas Erik.

Baca juga: Kenalan dengan Finalis Abang None Jakarta yang Kini Berkerja di JNE

Exit mobile version