Tak Sekadar Sepatu: Kisah Sneakon Menembus Pasar Global dari Workshop Lokal

Foto: Website Sneakon

JNEWS – Di sebuah sudut kreatif Bandung, perjalanan sebuah merek alas kaki lokal tumbuh pelan namun pasti. Namanya Sneakon, akronim dari sneakers dan slip-on.

Dalam hampir satu dekade, brand ini tidak sekadar menjual sepatu dan sandal, tapi juga merawat ide sederhana: satu alas kaki untuk banyak gaya hidup.

“Waktu mulai tahun 2016, itu lagi musim sepatu sneaker. Kami terinspirasi dari model sneaker berbasis slip-on, lalu lahirlah nama Sneakon,” tutur Founder Sneakon, Definta Ria yang membangun brand ini bersama suaminya, Muhammad Adi Mulya Pranata, dalam wawancara Kamis (26/2/2026).

Diakuinya, Sneakon lahir dari gagasan praktis: alas kaki yang bisa “sat-set” atau fleksibel dipakai formal maupun santai. Konsep ini kemudian berkembang menjadi ciri khas 2-in-1, sepatu yang bisa digunakan dengan atau tanpa tali, serta sandal dengan backstrap lipat tanpa perlu dibongkar.

Di tengah perubahan tren mode yang cepat, Sneakon justru menekankan desain timeless basic. Saat ini produk yang ada sekitar 10 hingga 20 artikel. Produknya menyasar pengguna dewasa dengan komposisi pasar sekitar 70 persen perempuan dan 30 persen pria. Dua lini yang menonjol adalah Sneakon Urban dan Sneakon 2in1.

“Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, sandal berkisar Rp150 ribu hingga Rp300 ribu, sementara sepatu berada di rentang Rp200 ribu hingga Rp500 ribuan. Seluruh bahan diproduksi dari material dalam negeri, sebuah komitmen pada rantai produksi local,” kata Definta.

Perjalanan hampir 10 tahun tidak selalu mulus. Ria mengakui Sneakon tumbuh dari proses jatuh bangun yang membentuk karakter bisnisnya.

Baca juga: Kisah Sukses Adrina Mulyani Bangun Produk Sepatu Bordir Handmade

“Awalnya kami tidak pernah menyangka bisa sejauh ini. Banyak hikmah dari perjuangan membangun bisnis ini. Alhamdulillah, ternyata kami bisa memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar,” ujarnya.

Foto: Website Sneakon

Kini Sneakon mempekerjakan sekitar 12 karyawan dan mengoperasikan toko di Bali serta Bandung. Dalam waktu dekat, brand ini berencana membuka showroom baru di kota kelahirannya.

Partner Internasional

Salah satu titik balik Sneakon terjadi ketika mereka justru dilirik mitra internasional. Tanpa pengajuan proposal, brand ini mendapat tawaran kolaborasi dari Disney dan BT21.

“Rasanya senang sekali bisa diajak bergabung dengan partner internasional. Kerja sama ini bukan kami yang menawarkan, justru mereka yang menghubungi,” kata Definta.

Kolaborasi tersebut tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga meningkatkan kredibilitas brand lokal di mata industri global.

Disinggung soal inovasi yang dilakukan Sneakon, Definta menjelaskan inovasi harus terus dilaksanakan dalam pengembangan produknya. “Inovasi jelas harus ada. Tanpa inovasi, brand tidak akan bertahan,” tegas Definta.

Ke depan, Sneakon berencana memperluas lini produk ke segmen anak-anak, sebuah langkah strategis untuk memperluas basis konsumen tanpa meninggalkan identitas desainnya.**

Di balik meluasnya jangkauan pasar Sneakon, ada peran penting sistem distribusi yang menopang ritme produksi dan penjualan. Definta mengakui dukungan logistik menjadi faktor krusial, terutama saat permintaan meningkat pada periode kolaborasi internasional.

“Dalam pemasaran kami juga memanfaatkan e-commerce, dan JNE menjadi salah satu yang paling mendukung. Terutama saat peluncuran produk kolaborasi internasional, distribusinya sangat terbantu,” ujarnya.

Kehadiran jaringan pengiriman yang stabil memungkinkan Sneakon menjaga konsistensi kualitas layanan kepada pelanggan di berbagai kota.

 

Exit mobile version