JNEWS – Jawa Tengah punya cara sendiri soal urusan makan. Banyak di antara deretan makanan khas Jawa Tengah ini tumbuh dari kebiasaan sehari-hari; dari dapur rumah, pasar pagi, sampai warung kecil yang bertahan puluhan tahun.
Cita rasa kuliner khas Jawa Tengah cukup beragam. Ada yang gurih ringan, ada yang manis lembut, ada juga yang sederhana tapi mengenyangkan.
Beberapa makanan dikenal luas sampai keluar provinsi. Ada yang dikembangkan dengan sentuhan baru agar lebih selaras dengan selera masa kini, baik dari sisi penyajian, isian, maupun bumbunya. Sementara itu, banyak pula di antaranya yang tetap bertahan apa adanya, tidak banyak berubah sejak dulu—baik bentuk, cara memasak, maupun bahan-bahan yang digunakan hingga sekarang.
Deretan Makanan Khas Jawa Tengah Legendaris
Setiap daerah di Jawa Tengah membawa ciri pada kuliner masing-masing. Berikut adalah deretan makanan khas Jawa Tengah yang dikenal luas dan tetap bertahan dari waktu ke waktu, baik karena rasanya yang khas, cara memasaknya yang unik, maupun keterikatannya dengan kebiasaan makan masyarakat setempat. Sebagian di antaranya sudah sering ditemui di berbagai kota, sementara lainnya masih lekat dengan daerah asalnya dan terus dijaga bentuk aslinya hingga sekarang.
1. Soto Kudus, Kudus
Kuah soto Kudus bening dan ringan, tanpa santan, dengan porsi yang relatif kecil. Isinya pun sederhana, yakni daging ayam atau kerbau, taoge pendek, seledri, disajikan bersama kuah bening dan nasi putih.
Pemilihan daging ayam atau kerbau bukan tanpa latar belakang. Secara historis, Sunan Kudus pernah melarang penggunaan daging sapi. Larangan ini berkaitan dengan upaya beliau memperkenalkan Islam di tengah masyarakat yang saat itu masih banyak menganut agama Hindu dan memandang sapi sebagai hewan yang disucikan. Karena itulah, soto Kudus hingga kini dikenal menggunakan ayam atau kerbau sebagai bahan utamanya.
Baca juga: 5 Lokasi Terbaik Menikmati Soto Kudus di Kota Asalnya
2. Garang Asem, Kudus
Masakan ini dimasak dengan cara dikukus, bukan digoreng atau disantan kental. Bahan utamanya adalah ayam yang dimasak dalam bungkus daun pisang bersama belimbing wuluh dan cabai. Hasil akhirnya bercita rasa asam segar, ada pedasnya juga. Di Kudus dan sekitarnya, garang asem sering jadi pilihan makan siang.
3. Nasi Grombyang, Pemalang
Di Pemalang, makanan khas Jawa Tengah satu ini identik dengan kuah yang sangat encer. Sampai nasi di mangkuknya terlihat “mengambang”, sesuai namanya. Ada potongan daging sapi, rasanya gurih dengan sentuhan manis khas daerah pesisir utara. Biasanya dijual malam hari.
4. Soto Sokaraja, Banyumas
Yang membedakan soto ini dari soto lain ada di bumbu kacangnya. Kuahnya jadi lebih kental dan rasanya lebih “nendang”. Biasanya dimakan dengan ketupat, bukan nasi. Orang Sokaraja terbiasa makan soto ini dengan kerupuk dan sambal cukup banyak.
5. Nasi Gandul, Pati
Makanan khas Jawa Tengah, lebih tepatnya Pati ini, disajikan di atas daun pisang. Kuahnya santan tapi tidak terlalu kental. Daging sapi dan jeroannya dimasak sampai empuk. Rasanya cenderung manis, sekaligus berempah. Nasi gandul cocok dimakan sore atau malam.

6. Mi Ongklok, Wonosobo
Mi ini dimasak dengan cara dicelupkan ke air panas memakai keranjang kecil. Kuahnya kental karena pakai larutan kanji. Isinya tidak banyak, biasanya kol dan daun kucai dan dimakan dengan tambahan sate sapi. Di daerah dingin seperti Wonosobo, mi ongklok ini pas banget.
7. Tahu Gimbal, Semarang
Satu porsi tahu gimbal isinya campur-campur. Ada tahu goreng, lontong, kol, taoge, dan bakwan udang. Semua disiram bumbu kacang yang kental. Rasanya cenderung manis gurih, khas banget.
8. Nasi Megono, Pekalongan dan Batang
Megono adalah cacahan nangka muda yang dibumbui kelapa. Makanan khas Jawa Tengah satu ini biasanya dimakan dengan nasi putih dan lauk mendoan, ikan asin, atau telur dadar. Banyak orang lokal makan nasi megono untuk sarapan.

9. Tengkleng, Solo
Tengkleng muncul dari kebiasaan memanfaatkan tulang kambing. Kuahnya encer, tapi rempahnya kuat. Dagingnya memang tidak banyak, tapi sensasi makannya ada di tulangnya. Biasanya disajikan panas-panas. Di Solo, tengkleng sering jadi alternatif gulai.
10. Selat Solo, Solo
Selat Solo bukan makanan berat dalam arti harfiah. Isinya daging sapi, sayur rebus, dan saus encer manis-gurih. Dalam makanan khas Jawa Tengah ini, ada pengaruh Eropa, tapi sudah disesuaikan dengan lidah lokal. Tidak pedas, tidak berminyak, enak banget.
11. Nasi Liwet, Solo
Nasi ini dimasak langsung dengan santan dan rempah. Saat matang, aromanya begitu wangi dan gurih. Nasi liwet disajikan dengan ayam suwir, telur, sayur labu, dan areh.
12. Sate Buntel, Solo
Sate buntel dibuat dari daging kambing yang dicincang, lalu dibungkus lemak tipis sebelum dibakar. Karena itu teksturnya jauh lebih juicy dibanding sate biasa. Sate ini disajikan dengan cara yang simpel, hanya dengan kecap dan bawang. Tapi jangan salah, nikmatnya tiada tara.
13. Babat Gongso, Semarang
Kembali ke Semarang, ada babat gongso. Hidangan ini menggunakan bahan utama babat sapi, yakni bagian kulit pada lambung sapi, yang dimasak dengan bumbu kecap, bawang, dan cabai sampai meresap. Teksturnya kenyal tapi empuk. Rasanya manis, gurih, dan pedasnya bisa disesuaikan. Biasanya dimakan dengan nasi putih hangat.
14. Brekecek, Cilacap
Makanan khas Jawa Tengah satu ini merupakan olahan ikan laut. Biasanya menggunakan bagian kepala yang dimasak dengan bumbu pedas dan rempah kuat. Rasanya cenderung asin-gurih, khas daerah pesisir selatan.
15. Terancam, Banyumas
Isinya sayuran segar yang dicampur kelapa berbumbu. Sayurannya tidak dimasak lama, sehingga teksturnya masih renyah. Bahkan ada yang mentah. Dicampur dengan kelapa parut berbumbu, rasanya gurih dan segar. Selain dimakan apa adanya, terancam juga sering dijadikan lauk pendamping nasi.
16. Tahu Telupat, Magelang
Tahu telupat adalah kupat tahu khas Magelang. Isinya terdiri dari ketupat, tahu goreng, dan dadar telur yang dipotong-potong. Semuanya disiram bumbu kacang yang encer, bukan kental seperti pecel atau tahu gimbal. Biasanya juga ditambah tauge dan seledri, rasanya segar.
17. Sate Ambal, Kebumen
Yang membedakan sate ini ada di bumbunya. Bukan kacang, tapi tempe yang dihaluskan. Rasanya gurih dengan sedikit manis. Satenya sendiri biasanya pakai ayam kampung, jadi teksturnya lebih ringan dibanding sate biasanya. Kalau pas berkunjung ke Kebumen, wajib coba makanan khas Jawa Tengah satu ini.

18. Lumpia Semarang
Isinya rebung, telur, dan daging ayam, kadang juga ada yang diisi udang. Bisa digoreng atau bisa juga dimakan basah, semuanya enak. Aromanya khas dari rebung. Disajikan dengan saus kental dan acar. Lumpia ini sudah lama jadi identitas kota Semarang, sehingga mudah ditemukan di banyak sudut kota.

19. Serabi Notosuman, Solo
Serabi ini tidak pakai kuah, beda dengan surabi ala Jawa Barat. Teksturnya lembut dan sedikit creamy. Ada varian polos dan cokelat. Rasanya sederhana, tidak terlalu manis. Biasanya dimakan hangat. Serabi ini sudah lama jadi ikon Solo.
20. Getuk Lindri, Magelang
Getuk lindri ada;ah olahan singkong yang dihaluskan, dibentuk memanjang, dan diberi warna. Pling enak dimakan dengan kelapa parut. Rasanya manis alami, dengan tekstur yang lembut.

21. Mendoan, Banyumas
Siapa yang belum pernah mencicipi makanan khas Jawa Tengah satu ini? Perbedaannya dengan tempe tepung biasa adalah teksturnya yang lembek, bukan renyah. Mendoan enak banget dimakan saat masih panas bareng cabai rawit, ditemani teh hangat kental dan manis.
22. Bandeng Presto, Semarang
Bandeng presto dimasak dengan tekanan tinggi sampai durinya lunak, sehingga bisa dimakan tanpa takut duri. Rasanya gurih dan aromanya khas. Biasanya disajikan dengan sambal. Bandeng presto sering dijadikan oleh-oleh. Praktis dan awet.

23. Es Dawet Ayu, Banjarnegara
Minuman ini berisi cendol hijau, santan, dan gula merah cair. Rasanya manis dan gurih. Biasanya dijual di pasar atau pinggir jalan. Sangat segar diminum siang hari.
Baca juga: 38 Makanan Tradisional dari 38 Provinsi di Indonesia – Yang Mana Favoritmu?
Deretan makanan khas Jawa Tengah di atas menunjukkan bahwa kuliner tidak selalu soal tren atau tampilan. Banyak di antaranya bertahan karena rasanya konsisten, bahannya mudah dikenali, dan cara memasaknya masih mengikuti kebiasaan lama
Dari situ terlihat bahwa kekuatan kuliner Jawa Tengah justru ada pada kesederhanaan dan keberlanjutan, bukan pada perubahan yang berlebihan.












