JNEWS – Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta kembali berdenyut. Meski tidak seramai dulu, pasar yang menjual barang antik dan loak ini masih menjadi primadona kolektor dan pemburu barang bekas. Kerap menjadi jujugan production house untuk kebutuhan piranti set film sekaliber Netflix.
Pasar Klithikan Pakuncen diresmikan akhir 2007 silam. Pusat barang bekas ini untuk menampung relokasi ratusan pedagang barang bekas yang mangkal di tiga wilayah utama saat itu yakni Jalan Mangkubumi (kini Jalan Margo Utomo), Jalan Asemgede dan kawasan Alun-Alun Selatan. Penataan kawasan tersebut belakangan memang penting untuk mendukung Sumbu Filosofi Yogyakarta yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada 2023.
Relokasi awalnya berjalan alot hingga akhirnya Pemkot Yogyakarta menjanjikan pembuatan pasar tradisional khusus untuk menampung para pedagang tersebut. Pedagang akhirnya boyongan. Di pasar yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto Yogyakarta tersebut, mereka memulai aktivitas lebih luwes karena tidak lagi berjualan di malam hari seperti saat di trotoar jalan.
“Pedagang saat itu merasakan betul jaya-jayanya jualan klithikan, barang bekas dan loak. Pasar selalu penuh pengunjung,” kata Ketua Paguyuban Pasar Klithikan Pakuncen, Whisnu Murti kepada JNEWS di Pasar Klithikan Pakuncen, Sabtu (5/9/2026) malam.
Whisnu yang berjualan barang antik setahun setelah pasar diresmikan mengakui, sebagian besar pedagang benar-benar hanya mengandalkan aktivitas menunggu pengunjung di kios, tanpa membuat strategi cadangan menyiapkan promosi daring atau online. Ketika pasar tatap muka mengalami kejenuhan karena kehadiran marketplace, banyak pedagang kelabakan.
Puncaknya adalah saat bagian belakang pasar mengalami kebakaran pada tahun 2014. Sejak peristiwa tersebut, kunjungan terus menurun. Ditambah lagi dengan pandemi COVID-19. Pasar semakin ditinggal pembeli. Dari hampir 1.000 kapasitas kios yang tersedia, jumlah pedagang aktif menyusut hingga kisaran 200-300-an. Ada yang memilih bertahan. Banyak pula yang memilih berhenti. Mereka yang bertahan, berupaya membangun solidaritas internal yang erat dan sistem gotong royong antarkios.

“Jika ada pelanggan datang berbelanja dalam jumlah banyak, pedagang akan saling belanja ke rekan sesama yang dagangannya sedang sepi. Sistem ekonomi kekeluargaan inilah yang menjaga roda pasar tetap berputar,” ujar Whisnu.
Tetap Menjadi Incaran Kolektor
Sekitar dua jam JNEWS berbincang dengan Whisnu Murti, terdapat dua transaksi yang berhasil didapatnya malam itu. Transaksi pertama datang dari sesama pedagang barang antik yang membeli jam dinding jadul buatan sekitar tahun 1970-an. Tawar-menawar, akhirnya laku Rp500 ribu.
“Rencananya mau diambil kotaknya saja mas. Untuk mesinnya nanti coba dihidupin lagi, sepertinya masih bisa,” kata Joni, pelanggan asal Yogyakarta.
Baca juga: Keindahan Candi Banyunibo, Candi Kuno di Pinggir Yogyakarta
Joni kerap mencari barang-barang antik di Pasar Klithikan Pakuncen karena cenderung lebih lengkap. Sesekali ia juga menawarkan barang dagangannya untuk ditawarkan lagi kepada pedagang lain yang berminat.
Ketika hendak menutup kiosnya, Whisnu kedatangan wisatawan mancanegara asal Brasil yang mencari uang kuno rupiah berbagai pecahan. Bule tersebut mengumpulkan uang dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Duit lama,” ujarnya singkat yang hendak meninggalkan Yogya menuju Jakarta.
Dari transaksi singkat itu, Whisnu mengantongi Rp750 ribu. “Tidak ditawar. Dia nyari lembaran yang masih bagus untuk dikoleksi,” imbuhnya.
Whisnu mengakui, banyak kolektor maupun wisatawan mancanegara yang mengetahui Pasar Klithikan Pakuncen dari pihak hotel, tempat di mana mereka menginap. Ia kerap bertransaksi dengan pedagang luar negeri yang membawa koleksi uang lama dari negara asalnya. Uang tersebut lantas ditukar dengan uang kuno rupiah.
“Saya juga menerima pecahan mata uang asing jika money changer tidak mau menerima. Misalnya, karena rusak,” sambungnya.
Optimis Bisa Berkembang
Paguyuban masih memiliki optimisme, semangat dan harapan bahwa Pasar Klithikan Pakuncen bisa kembali ramai. Geliat ini tampak melalui penataan zonasi dan revitalisasi los. Saat ini, pasar dibagi ke dalam zona-zona spesifik seperti zona antik dan klithikan di lantai satu dan dua, zona onderdil motor di Blok B, hingga zona pakaian dan sepatu.
Selain memperbanyak event, paguyuban berhasil merangkul pedangang baru untuk mengisi lapak-lapak kios yang kosong. Sebanyak 45 pedagang baru khusus barang antik dan keris yang diharapkan dapat menghidupkan komunitas dan pecinta barang antik di Yogyakarta dan sekitarnya.
Langkah ini menjadi bagian untuk mengembalikan trah asli Pasar Klithikan Pakuncen sebagai pusat barang bekas berkualitas sekaligus menjadikannya destinasi wisata belanja yang unik di Yogyakarta.
“Kalau di Jakarta klithikan identik dengan barang loakan, di Surabaya barang rongsokan, kalau di Yogyakarta klithikan itu identik dengan wisata,” ujar Wisnu.
Pedagang menyiasati persaingan digital dengan memadukan kekuatan offline dan online. Keterlibatan anak-anak muda dari kalangan mahasiswa dan ibu rumah tangga dimanfaatkan untuk memotret dan memasarkan barang secara daring, didukung dengan kekuatan basis toko fisik untuk membangun kepercayaan konsumen.
Selain itu, pasar ini juga kerap menjadi lokasi rujukan kru produksi film, sinetron, hingga FTV dari berbagai production house yang mencari properti artistik maupun lokasi syuting. Pihak Netflix, lanjutnya, bahkan sering membeli atau menyewa set perlengkapan film dari pedagang Klithikan Pakuncen.
“Potensinya masih besar. Di sini juga sering jadi tempat syuting film. Netflix sering. Setnya bisa sewa atau beli sewa. Barang-barang yang dibutuhkan dibeli dulu jaga-jaga ada yang rusak, setelah dikembalikan baru dikenakan biaya sewa sesuai kesepakatan. Barang semi rusak pun juga laku, untuk adegan laga yang merusak barang,” imbuhnya.
Baca juga: JJLS Kelok 23, Ikon Eksotik Yogyakarta dengan Panorama Pantai Selatan
Paguyuban sangat serius mengedukasi pedagang Pasar Klithikan Pakuncen agar terus memperbaiki mindset pedagangnya dan dagangannya. Pedagang harus menyesuaikan pasar online yang terbuka lebar. Namun begitu, sebagai penjual barang antik dan bekas, paguyuban terus menekankan menjaga kepercayaan pelanggan.
“Trust-nya itu akan lebih tinggi kalau kita itu punya toko offline. Jadi, misalkan kita posting barang, tokonya di mana? Oh, saya jualan di rumah. Itu trust-nya kurang, Mas. Oh, saya hanya jualin barangnya orang. Trust-nya juga kurang, tapi kalau saya punya toko offline gitu kalau mau datang silakan ya,” ujarnya. *