JNEWS – Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan karena pertempuran heroik pada 1945. Namun, jauh sebelum desing peluru 10 November pecah, kota ini adalah permata kolonial Belanda di timur Jawa.
Sebagai kota pelabuhan yang strategis, Surabaya menjadi saksi bisu bagaimana bangsa Eropa membangun peradaban, ambisi, hingga peristirahatan terakhir yang megah.
Di tengah padatnya pemukiman penduduk di kawasan Peneleh, terdapat sebuah situs yang membawa kita kembali ke tahun 1847, yakni Kerkhof Peneleh. Makam ini bukan sekadar pemakaman biasa, ia adalah salah satu pemakaman modern tertua di dunia yang dibangun pada masanya.
Makam ini cukup istimewa karena memiliki arsitektur yang megah. Berbeda dengan makam pada umumnya, Peneleh dipenuhi dengan nisan raksasa berbahan besi tuang (cast iron) yang didatangkan langsung dari pabrik-pabrik di Belanda (seperti De Prins van Oranje di Den Haag). Gaya arsitekturnya didominasi nuansa Neo-Gothic dan Dorik.
Kemegahan nisannya pun mencerminkan status sosial masyarakat Surabaya kala itu. Semakin besar dan rumit ukiran pada beton atau besi makamnya, semakin tinggi jabatan mendiang semasa hidup.

Di makam Peneleh ini bersemayam ribuan warga Belanda dan Eropa, mulai dari pejabat tinggi, militer, hingga akademisi. Salah satu yang paling terkenal adalah Pieter Merkus, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-47 yang menjabat pada tahun 1841-1844, lalu Herman Neubronner Van de Tuuk (Pencetus Bahasa Indonesia), serta Bayer (pemilik pabrik baja tertua di Hindia), dan masih banyak lagi.
Makam Belanda Peneleh ini dibuka oleh Dr. R van Hoëvell pada 1 Desember 1847 yang dirancang paling luas dan paling mewah se- Hindia Belanda.
Makam Peneleh merupakan pemakanan Eropa kedua di Surabaya setelah pamakaman di Krembangan penuh. Lahan seluas 5,4 hektare ini dianggap cocok karena berada di tepi sungai di mana pada masa itu angkutan penakaman masih melalui transportasi sungai.
Kampung Peneleh sendiri merupakan kawasan bersejarah yang dikenal sebagai tempat tinggal dari berbagai kalangan, etnis, maupun latar belakang. Kampung peneleh sendiri tidak terlepas dari perkembangan Kota Surabaya.
Pada masa Kolonial, kawasan ini menjadi tempat tinggal bagi para pegawai Belanda dan pedagang. Kampung ini juga terkenal dengan arsitektur bangunan tua yang masih tersisa dan mencerminkan gaya kolonial, yang menjadi daya tarik tersendiri.
Beberapa tempat bersejarah kini juga masih terjaga, seperti Sumur Jobong, di mana pernah ditemukan peninggalan kuno seperti fosil manusia dan artefak kuno, sehingga memperkuat identitasnya sebagai kampung tua.
Temuan ini memberikan wawasan mendalam tentang sejarah kawasan tersebut. Penemuan sumur tua di Peneleh yang diyakini berasal dari era Majapahit menunjukkan pentingnya situs ini dalam sejarah. Ini menambah bukti bahwa kampung ini memiliki warisan budaya yang kaya.
Sebagian besar jenazah/sisa tulang belulang di makam Peneleh ini sudah pindahkan oleh keluarganya, dan tersisa bangunan makam yang masih kokoh. Namun sebagian juga masih tersisa jenazah di Surabaya, sehingga menjadi jujugan ziarah keluarganya. Total terdapat 14.355 jiwa yang pernah dimakamkan di sini.
Selain dikunjungi oleh keluarga, makam eksotis ini juga menjadi destinasi wisata sejarah. Rerata terdapat kunjungan wisata sebanyak 200 pengunjung per bulan. Mereka yang datang biasanya wisatawan asing khususnya orang Eropa, lalu rombongan mahasiswa yang sedang belajar sejarah.
“Jika ingin berkunjung ke sini, makam mulai dibuka sejak pukul 08.00-16.00 WIB. Akan ada guide yang akan menemani tamu untuk berkeliling dan menceritakan sejarah di makam itu. Kunjungan tidak berbayar, mereka cukup mengisi buku tamu,” ujar salah seorang guide yang disediakan oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya.
Di sekitar taman makam Eropa ini juga terdapat sejumlah bangunan bersejarah lainnya seperti Rumah Kelahiran Bung Karno Jl. Pandean IV No. 40, Peneleh, Kecamatan Genteng, lalu Museum H.O.S Tjokroaminoto Jl. Peneleh gang VII, serta tak jauh dari kawasan Tugu Pahlawan, dan Kota Tua Surabaya.
Seusai berkeliling di kawasan wisata sejarah, kita bisa singgah untuk menikmati minuman segar atau aneka kopi di kafe Lodji Besar yang berada di seberang makam Eropa Peneleh, yang bukai mulai pukul 10.00-24.00 WIB. Kafe ini pun mengusung konsep zaman penjajahan Belanda. Harga makanan dan minuman di kafe ini pun cukup terjangkau berkisar antara Rp10.000 – Rp50.000.