Nostalgia di Perpustakaan Komik Kuratoru: Usung Konsep Rental di Tempat, Baca Sepuasnya Komik Idolamu

Perpustakaan Komik Kuratoru mengusung konsep all you can read. Pengunjung bisa bernostalgia membaca komik favorit dengan tarif Rp 10 ribu per sesi.

JNEWS – Ada banyak cara untuk bernostalgia. Membaca komik salah satunya. Deretan komik tersusun rapi di rak-rak Kuratoru. Ribuan judul komik tersedia di sebuah rumah yang disulap menjadi perpustakaan komik di Jalan Cempedak, Condongcatur, Depok, Sleman tersebut. Kita diajak kembali ke masa lalu. Menyenangkan.

Era 80-90-an adalah masa emas persewaan komik. Hampir semua pelajar membaca komik. Maklum, hiburan masih terbatas. Belum ada teknologi internet. Apalagi gawai. Hanya ada televisi dan radio. Koran dan majalah.

Komik menjadi barang mahal saat itu. Membaca komik dengan menyewa adalah jalan ninja. Pulang sekolah, persewaan komik yang juga menyewakan majalah, selalu disesaki anak-anak muda. Mereka berebut komik sesuai selera. Ada yang memburu genre action, romantis, detektif, misteri atau komedi.

Drama berebut edisi selalu terjadi. Kecewa volume belum balik dari penyewa lain, mereka mengalihkan ke komik berbeda. Begitu seterusnya sampai tamat. Atau bahkan belum sampai tamat karena volume tertentu raib, atau menyisakan lembaran rusak.

Nostalgia ini coba dibawa kembali oleh Kuratoru. Membawa konsep berbeda, rental komik ini mengusung Perpustakaan Komik All You Can Read.

“Kami menyewakan komik, tapi tidak dibawa pulang. Tapi harus dibaca di tempat,” ujar Pengelola Kuratoru, Muhammad Daris Kholishuddin saat ditemui di Kuratoru, Kamis (8/10/2026).

Alasannya sederhana. Daris tidak ingin koleksi komik tersebut hilang atau rusak jika diterapkan sistem sewa yang dibawa pulang. Meski membawa konsep baru, namun ternyata diterima oleh para pecinta komik. Mereka tetap senang membaca di tempat dengan durasi sewa yang telah ditentukan pengelola.

Memulai perjalanan pada akhir Januari 2025, Kuratoru yang dikelola Ruang Obrol ini awalnya hanya membuka layanan dua hari saja pada Sabtu dan Minggu durasi dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Tarif setiap sesi berdurasi dua jam dipatok Rp10 ribu. Saat momentum puasa 2025, pengelola menambah sesi membaca menjadi lima hari dari Rabu-Minggu. Dan, ternyata animonya cukup tinggi.

Hingga akhirnya pada tahun 2026 mereka membuka layanan setiap hari dengan rincian Senin-Jumat Sesi 1 dimulai pukul 13.00-15.00 WIB, Sesi 2: 15.00-17.00 WIB. Adapun Sabtu-Minggu Sesi 1: 11.00-13.00 WIB, Sesi 2: 13.00-15.00 WIB, Sesi 3: 15.00-17.00 WIB dan Sesi 4: 17-19.00 WIB. Tarif sewa tidak berubah Rp10 ribu per sesi. Pengelola juga menyediakan membership dengan tarif Rp100 ribu sebulan. Dengan paket ini pengunjung bebas baca sepuasnya tanpa dibatasi durasi.

Baca juga: Tip Membuat Perpustakaan Pribadi di Rumah, Nyaman untuk Baca dan Koleksi Buku

Daris mengaku, setiap sesi hanya dibatasi untuk 10 orang pengunjung yang sebelumnya telah melakukan reservasi. Ini untuk memberikan kenyamanan bersama. Pengunjung bisa membaca di sekitar perpus. Lesehan dengan bean bag, atau di ruangan lengkap dengan kursi dan meja. Pengunjung juga diperbolehkan membawa tumbler dan makanan ringan dari rumah.

“Asalkan tidak membawa makanan berkuah dan berminyak, atau minuman es kemasan. Takutnya tumpah dan mengotori komik,” sambung Daris.

Kebijakan yang terapkan Kuratoru semata-mata untuk mengedukasi pengunjung. Bahwa ada koleksi komik yang relatif lama, serta termasuk langka sehingga membutuhkan perawatan. Pengunjung juga selalu diminta untuk menaruh komik di meja yang telah disediakan, dan dilarang untuk mengembalikan komik ke rak asalnya.

Koleksi Komik Pribadi

Semua berawal dari kesempatan dan keresahan tatkala Daris diajak rekannya yang juga mengelola toko buku di Yogyakarta untuk membuat toko komik lokal. Daris yang mengelola Ruang Obrol, kanal Youtube yang khusus mengulik tentang komik, akhirnya membuka Kuratoru yang dikemas perpustakaan sekaligus menjual komik lokal.

Mengapa dinamakan Kuratoru, karena Daris merasa komik yang dirental harus dikurasi. Diseleksi. Agar semua kalangan bisa membaca. Dari anak-anak, dewasa hingga orang tua. Tak ayal, dari 12 ribu komik koleksi pribadi yang dikumpulkan sejak sekolah hingga kuliah tersebut berhasil dipajang di rak-rak Kuratoru. Komik tersebut dari Jepang, China, Eropa dan Amerika.

“Ini semua buku komik milik pribadi saya. Dari jumlah itu ada sekitar 3.600 judul. 3.000 komik terjemahan, 600 komik lokal. Toko kami juga menjual 100 judul komik lokal langsung dari komikusnya. Istilahnya titip jual, dan tidak bisa ditemui di toko buku lainnya,” ujar Daris yang pernah nyambi sebagai penjaga toko komik di Yogya.

Selain menjual offline, pengelola juga memasarkannya melalui marketplace. Komik indie cukup digemari pasar luar Pulau Jawa. Mereka kerap mengirim pesanan ke Aceh, Palangkaraya hingga NTT.

“Ada juga yang manual pengin dikirim langsung. Biasanya ngirimnya pakai JNE. Sering banget,” ujar Daris. Menurutnya, gerai ekspedisi JNE mudah dijumpai, dan buka hingga malam. Selain itu, JNE juga tidak terikat dengan region pengiriman.

“Toko kami kan di Sleman. Terkadang kami mengirimnya di Bantul, dan harganya tetap sama dengan lokasi awal. Ini kerennya JNE,” paparnya.

Ia tidak pernah menemui kendala saat komik menggunakan JNE. Selain profesional, paket aman hingga sampai tujuan.

Segmentasi Pembaca Bertumbuh

Daris mengakui, Kuratoru awalnya membidik segmentasi mahasiswa karena letaknya strategis dengan beberapa kampus ternama. Namun dalam perjalanannya, segmentasi tersebut justru bergeser menjadi kalangan keluarga. Pengunjung keluarga kerap ditemui saat akhir pekan. Fenomena ini tak lepas dari nostalgia yang ingin dirasakan orang tua, sembari menularkan kepada anak-anaknya.

“Banyak dari keluarga. Biasanya bapaknya baca Dragon Ball, ibunya baca Candy-candy anaknya baca Doraemon. Rata-rata dengan durasi dua jam,” ungkapnya.

Karena terjadi pergeseran pembaca tersebut, pengelola kemudian membenahi penataan buku sesuai umur. Susunan rak tiga ke bawah dikhususkan untuk komik-komik anak. Sementara di atasnya untuk komik dewasa. Penjaga juga aktif memonitor komik-komik yang dibaca anak agar tidak membaca komik khusus dewasa.

“Biasanya anak-anak sudah tahu harus membaca apa. Orang tua juga bisa mengawasi. Kalau dulu saya tidak pernah ngoleksi komik anak, kini harus beli edisi terjemahan atau komik lokal.

Baca juga: Tukar Poin JLC, Dapatkan Komik ‘Pengantar Kebahagiaan’

Daris tak mempermasalahkan perubahan segmentasi, malah justru senang karena Kuratoru bertumbuh. Dari awalnya hanya dua rak, kini mereka memiliki 8 rak buku. Dari semula 1 karyawan, mereka bisa mempekerjakan 4 penjaga. “Ini kesalahan prediksi yang menyenangkan,” sambungnya sambil tersenyum.

Menurutnya, Kuratoru bisa menjadi alternatif perpustakaan di tengah semakin mahalnya harga komik. Dan, di Yogya hanya tersisa segelintir persewaan komik dengan koleksi yang terbatas karena kondisi rusak dan raib tak kembali.

“Ada pengunjung yang datang ke kami hanya untuk mencari bagian yang hilang,” kenangnya.

 

Exit mobile version