Ogoh-Ogoh Bali: Tradisi Unik Menjelang Hari Raya Nyepi

JNEWS – Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di Bali akan berubah. Jalanan yang biasanya dipenuhi aktivitas, terutama wisata, akan mulai ramai oleh persiapan adat di berbagai desa. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah mulai munculnya beragam ogoh-ogoh Bali, patung besar yang diarak dalam pawai pada malam sebelum Nyepi.

Bentuk ogoh-ogoh ini macam-macam, ada yang menyerupai raksasa dengan wajah garang, ada juga yang menampilkan tokoh mitologi dengan detail yang rumit. Patung-patung ini dibuat oleh para pemuda di setiap banjar. Prosesnya bisa memakan waktu berminggu-minggu karena setiap bagian dikerjakan dengan teliti.

Apa Itu Ogoh-Ogoh Bali?

Ogoh-Ogoh Bali: Tradisi Unik Menjelang Hari Raya Nyepi

Ogoh-ogoh Bali adalah patung berukuran besar yang dibuat khusus untuk diarak menjelang Hari Raya Nyepi. Patung ini umumnya menampilkan sosok raksasa atau makhluk dengan wajah garang.

Bentuk seperti itu bukan sekadar pilihan artistik atau sekadar biar estetik. Dalam kepercayaan Hindu Bali, sosok raksasa tersebut menggambarkan Bhuta Kala, yaitu unsur kekuatan negatif yang dipercaya dapat mengganggu keseimbangan alam.

Ukuran ogoh-ogoh umumnya cukup besar sehingga mudah terlihat dari jauh. Tingginya bisa mencapai beberapa meter, dengan detail yang dibuat cukup rumit.

Baca juga: Hari Raya Nyepi, Wisatawan di Bali Wajib Paham 5 Aturan Ini

Asal Usul Ogoh-Ogoh

Istilah ogoh-ogoh berasal dari istilah dalam bahasa Bali, yaitu ogah-ogah, yang artinya digoyang atau diguncangkan. Makna ini berkaitan dengan cara patung dibawa saat pawai. Ketika diarak beramai-ramai, ogoh-ogoh digerakkan mengikuti irama musik dan langkah para pengusungnya.

Akar tradisi ogoh-ogoh ini sebenarnya merupakan praktik ritual yang sudah lama dikenal dalam budaya Bali. Dalam beberapa catatan sejarah, penggunaan figur atau patung dalam upacara sudah muncul sejak masa kerajaan kuno, yakni pada periode Raja Balingkang. Figur tersebut digunakan dalam berbagai upacara keagamaan, terutama dalam rangkaian Pitra Yadnya yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur.

Selain itu, masyarakat Bali juga mengenal figur seperti lelakut, orang-orangan yang dibuat dari batang padi atau jerami. Walau dikenal sebagai alat untuk menakuti burung di sawah, bentuk figur ini juga muncul dalam kegiatan ritual tertentu yang berkaitan dengan pembersihan lingkungan. Ada pula Barong Landung, sepasang patung tinggi yang sering ditampilkan dalam upacara adat. Kehadiran figur-figur tersebut menunjukkan bahwa penggunaan patung sebagai simbol dalam ritual sudah dikenal sejak lama.

Pembuatan Ogoh-Ogoh

Pembuatan ogoh-ogoh biasanya dilakukan oleh pemuda di tingkat banjar atau lingkungan adat. Prosesnya dimulai dengan membuat kerangka dari bambu agar struktur patung cukup kuat tetapi tetap ringan saat diangkat.

Setelah kerangka selesai, bagian tubuh mulai dibentuk menggunakan bahan seperti kertas, kain, atau material ringan lain yang mudah dibentuk. Ada juga yang menggunakan styrofoam untuk mempermudah pembuatan detail wajah dan anggota tubuh.

Tahap berikutnya adalah memberi warna dan menambahkan berbagai elemen tambahan. Rambut, kuku, hingga aksesori dibuat agar patung terlihat lebih hidup. Proses ini bisa memakan waktu cukup lama karena setiap bagian dikerjakan dengan teliti. Hasil akhirnya adalah patung besar yang siap dibawa dalam arak-arakan menjelang Nyepi.

Ogoh-ogoh akan diarak keliling kota saat malam Pengerupukan, yaitu sehari sebelum Nyepi. Warga akan berkumpul di jalan untuk menyaksikan pawai ini, yang biasanya akan berlangsung hingga malam. Saat diarak, ogoh-ogoh akan digerakkan dengan cara diputar atau digoyangkan sehingga tampak atraktif.

Setelah arak-arakan selesai, ogoh-ogoh akan dibakar. Tindakan ini memiliki makna simbolis sebagai bagian dari proses pembersihan. Sosok yang sebelumnya mewakili unsur negatif dilepaskan melalui pembakaran, sehingga lingkungan dianggap kembali bersih sebelum masyarakat memasuki Hari Raya Nyepi.

Lokasi Populer untuk Menyaksikan Pawai Ogoh-Ogoh di Bali

Dalam beberapa tahun terakhir, ogoh-ogoh Bali tidak hanya hadir sebagai bagian dari rangkaian ritual menjelang Nyepi. Pemerintah daerah bersama masyarakat juga mulai mengemas pawai ogoh-ogoh sebagai acara budaya yang terbuka untuk publik.

Sejumlah kota di Bali menyelenggarakan festival atau parade yang menampilkan karya terbaik dari berbagai banjar. Kegiatan ini memberi ruang bagi para pembuat ogoh-ogoh untuk menunjukkan kreativitas mereka, sekaligus memperkenalkan tradisi tersebut kepada wisatawan yang datang ke Bali.

Pawai ogoh-ogoh biasanya berlangsung pada malam Pengerupukan, yaitu sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Pada tahun 2026, malam tersebut jatuh pada 18 Maret. Namun, di banyak daerah, sudah ada beberapa agenda pawai ogoh-ogoh bahkan sejak awal Maret.

Di puncak acara, yakni malam Pengerupukan, arak-arakan akan dimulai sejak sore dan berlangsung hingga malam hari. Beberapa ruas jalan utama biasanya ditutup mulai sekitar pukul 16.00 WITA agar parade bisa berjalan dengan lancar.

Berikut beberapa lokasi di Bali yang selama ini dikenal menjadi titik utama pawai ogoh-ogoh. Wisatawan yang ingin menyaksikan ogoh-ogoh Bali bisa datang ke area-area ini karena arak-arakan hampir selalu berlangsung di sini setiap tahunnya.

1. Denpasar

Denpasar dikenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk melihat ogoh-ogoh Bali. Banyak banjar di kota ini membuat patung dengan ukuran raksasa dan detail yang rumit.

Titik yang paling sering menjadi pusat keramaian berada di kawasan Catur Muka dan Lapangan Puputan Badung. Area ini biasanya menjadi tempat berkumpulnya ogoh-ogoh dari berbagai wilayah sebelum diparadekan.

Pada tahun 2026, Denpasar juga mengadakan Kasanga Festival pada 6–8 Maret yang lalu. Festival ini menampilkan sekitar 16 ogoh-ogoh terbaik dari seluruh kota, sehingga pengunjung bisa melihat karya yang sudah melalui proses seleksi.

2. Badung dan Sekitarnya

Wilayah Badung juga menawarkan pilihan lokasi yang cukup beragam. Salah satunya di Canggu, yang biasanya berlangsung di perempatan Catuspata yang menghubungkan Jalan Pipitan, Canggu, dan Tegal Gundul. Arak-arakan umumnya dimulai sekitar pukul 19.00 dan berlangsung hingga malam.

Kuta dan Legian juga menjadi titik populer, terutama di sepanjang jalan utama dekat Pantai Kuta dan perempatan Jalan Legian. Sementara itu di Nusa Dua, ogoh-ogoh Bali biasanya diparadekan di sekitar pintu masuk kawasan ITDC atau di persimpangan jalan utama.

3. Sanur dan Ubud

Bagi yang ingin melihat ogoh-ogoh Bali dengan nuansa yang lebih kental dengan tradisi, Sanur dan Ubud bisa menjadi pilihan. Di Sanur, festival ogoh-ogoh biasanya berlangsung di kawasan Pantai Mertasari. Sementara itu di Ubud, parade biasanya berlangsung di sekitar Istana Ubud dan sepanjang jalan raya utama.

Hal yang Perlu Diperhatikan Kalau Ingin Menonton Pawai Ogoh-Ogoh Bali Jelang Nyepi

Pada malam Pengerupukan, akan ada banyak perubahan pada lalu lintas di beberapa wilayah Bali. Umumnya, jalan utama akan ditutup sejak sore dan kendaraan sering dialihkan ke jalur lain. Karena itu, kalau ingin melihat pawai ogoh-ogoh Bali, disarankan untuk menginap di hotel atau penginapan yang masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari lokasi parade.

Selain di jalan-jalan kota, ada juga sejumlah tempat wisata yang mengadakan pawai ogoh-ogoh yang bisa disaksikan oleh wisatawan. Salah satunya di Garuda Wisnu Kencana Cultural Park. Wisatawan yang tertarik, bisa mencari informasi lebih jauh melalui media sosial.

Baca juga: 5 Tradisi Nyepi yang Dijalani Umat Hindu di Bali dan Maknanya

Ogoh-ogoh Bali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana menjelang Hari Raya Nyepi, ketika patung-patung besar diarak keliling desa sebelum akhirnya dimusnahkan sebagai bagian dari rangkaian tradisi. Arak-arakan ini tidak hanya memperlihatkan kreativitas masyarakat Bali, tetapi juga mencerminkan kebiasaan lama yang terus dijaga dan dijalankan hingga sekarang.

Exit mobile version