JNEWS – Kalau bicara soal oleh-oleh khas Kudus, kebanyakan orang langsung kepikiran jenang. Padahal Kudus punya banyak camilan dan produk lokal lain yang karakter rasanya kuat dan cukup berbeda dari daerah sekitar.
Sebagian bahkan masih dibuat dengan cara sederhana oleh warga setempat, jadi rasanya tidak berubah dari dulu. Ada yang gurih, manis, sampai yang agak unik karena bahan bakunya tidak biasa.
Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Kudus Selain Jenang

Jenang Kudus memang legend. Tapi terkadang orang ingin juga membawa pulang produk lain sebagai alternatif supaya lebih variatif. Berikut beberapa rekomendasi oleh-oleh khas Kudus selain jenang yang juga bisa dengan mudah ditemukan.
1. Kopi Muria
Kopi Muria berasal dari lereng Gunung Muria, terutama di Desa Colo dan Desa Japan. Jenis yang paling banyak ditemui adalah robusta dengan karakter rasa yang kuat, meski sekarang beberapa petani juga mulai mengembangkan arabika.
Kopi ini sudah ditanam sejak masa kolonial Belanda sekitar tahun 1825 dan pernah dipasarkan hingga ke Eropa. Sampai sekarang, banyak kebunnya masih dikelola secara turun-temurun oleh warga setempat.
Untuk membeli, pilihannya cukup beragam. Goodang Kopi Muria di Desa Colo dikenal sebagai pusat pengolahan sekaligus penjualan hasil petani lokal. Ada juga Kopi Muria Wilhelmina yang sudah lama dikenal wisatawan. Kopi Muria Zayna juga bisa jadi pilihan dengan menawarkan kopi murni tanpa campuran. Sementara itu, Anarkopi di Desa Japan fokus pada kopi petik merah dengan kualitas lebih tinggi. Tersedia dalam bentuk biji sangrai maupun bubuk.
Baca juga: Mengenal Kopi-Kopi Termahal di Dunia dan Asal Usulnya
2. Getuk Nyimut
Berbeda dari getuk biasa yang dikukus, Getuk Nyimut justru digoreng. Bagian luar jadi renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut. Camilan ini berasal dari Desa Kajar, Kecamatan Dawe, yang berada di lereng Gunung Muria.
Awalnya hanya tersedia rasa gula jawa, tapi sekarang oleh-oleh khas Kudus satu ini sudah berkembang dengan berbagai isian seperti cokelat, keju, durian, hingga selai alpukat yang memang banyak dihasilkan di daerah tersebut. Sepanjang jalan di Desa Kajar, banyak penjual yang membuatnya langsung saat dipesan, jadi masih hangat saat disantap.
Beberapa tempat yang cukup dikenal antara lain Warung Gethuk Mbah Min di Jatisoro yang sudah lama berjualan, serta Pondok Gethuk Nyimut yang sering jadi tujuan pengunjung setelah dari Makam Sunan Muria.
3. Geplak Sari
Geplak Sari termasuk oleh-oleh khas Kudus yang sekarang mulai jarang ditemui. Walaupun namanya sama dengan geplak dari Bantul, Yogyakarta, tampilannya cukup berbeda. Versi Kudus tidak berwarna-warni, biasanya hanya putih atau kecokelatan alami.
Teksturnya juga punya karakter sendiri. Bagian luar lebih kering dan sedikit garing, sementara bagian dalamnya tetap empuk. Ini berbeda dengan geplak Jogja yang cenderung lebih lembap dan padat.
Saat ini, produksi Geplak Sari masih bisa ditemukan di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog. Sebagian besar dibuat secara rumahan dan resepnya masih dipertahankan seperti dulu.
4. Madu Mongso
Sekilas tampilannya mirip jenang, tapi rasanya cukup berbeda. Madu Mongso dibuat dari tape ketan, sehingga ada kombinasi rasa manis, asam, dan sedikit gurih dari proses fermentasi.
Proses memasaknya juga cukup lama, bisa berjam-jam sampai teksturnya lembut dan agak berminyak. Karena itu juga, oleh-oleh khas Kudus ini bisa bertahan cukup lama, sekitar tiga bulan tanpa tambahan pengawet.
Di Kudus, Madu Mongso cukup mudah ditemukan di pusat oleh-oleh. Pusat Jenang Karomah di Kaliputu biasanya menjualnya sebagai pelengkap jenang. Ada juga Madu Mongso Saputra di sekitar Jalan Sunan Muria, serta Pusat Jenang Mubarok yang menyediakan berbagai ukuran kemasan.
5. Keripik Kulit Pisang Tanduk
Camilan ini termasuk inovasi yang cukup menarik karena menggunakan kulit pisang tanduk, bukan daging buahnya. Di kawasan Muria, pisang tanduk atau pisang byar memang melimpah, jadi dimanfaatkan agar tidak terbuang. Kulitnya diolah menjadi keripik dengan tekstur renyah dan rasa gurih. Hasilnya cukup berbeda dari keripik pisang pada umumnya.
Keripik ini banyak dijual di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Colo. Kemasannya sederhana, tapi cukup tahan lama sehingga aman dijadikan oleh-oleh.
6. Keciput
Keciput sering disebut onde-onde mini, meski sebenarnya teksturnya jauh berbeda. Bagian luarnya kering dan renyah, tidak kenyal seperti onde-onde. Varian yang umum adalah keciput wijen, tapi ada juga keciput hitam. Rasanya ringan dan cocok untuk camilan sehari-hari.
Keunggulan lainnya ada pada daya tahannya. Jika disimpan dalam wadah kedap udara, keciput bisa bertahan hingga dua sampai tiga bulan tanpa bahan pengawet.
7. Jangklong
Jangklong adalah sebutan lokal untuk umbi ganyong yang banyak dijual di kawasan Colo, terutama di jalur menuju Makam Sunan Muria. Cara penyajiannya ada dua. Versi rebus adalah yang paling tradisional, dengan tekstur kenyal dan rasa manis ringan. Selain itu, ada juga versi keripik yang lebih praktis, diiris tipis lalu digoreng hingga renyah. Keduanya masih mudah ditemukan dari pedagang sekitar, terutama di area tangga menuju lokasi ziarah.
8. Kerupuk Rambak Kulit Kerbau
Rambak di Kudus punya latar belakang budaya yang cukup kuat. Sejak masa Sunan Kudus, masyarakat dianjurkan tidak menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu. Karena itu, kerbau menjadi alternatif utama, termasuk untuk olahan rambak.
Dari segi tampilan, rambak kerbau biasanya berwarna lebih kekuningan dibandingkan rambak sapi. Teksturnya juga lebih padat, sedikit lebih keras saat digigit, tapi tetap renyah. Beberapa merek yang cukup dikenal antara lain Rambak Kerbau Cap Sapi, Eyang Kriuk Indonesia, Tjap Kelinci, dan Rambak Kerbau Super Premium.
9. Keripik Pakis
Di kawasan Gunung Muria, daun pakis tidak hanya diolah jadi sayur, tapi juga dijadikan keripik. Bahan ini cukup mudah ditemukan karena tumbuh liar di area pegunungan.
Keripik pakis punya rasa gurih ringan dengan tekstur renyah. Ciri keripik yang bagus biasanya masih memperlihatkan warna hijau daun di balik lapisan tepung, tanda pakisnya masih segar saat diolah. Produk ini banyak dijual di sekitar kawasan Colo dan jadi salah satu camilan yang cukup khas.
10. Intip Ketan
Berbeda dari intip di daerah lain, versi Kudus dibuat dari beras ketan, bukan nasi. Prosesnya dimasak di wajan hingga membentuk lapisan tipis. Hasil akhirnya punya tekstur luar yang renyah, tapi bagian dalamnya tetap empuk.
Oleh-oleh khas Kudus satu ini mudah ditemukan saat tradisi Dandangan menjelang Ramadan, terutama di sekitar Menara Kudus, dijual di pinggir jalan.
11. Kacang Bawang Sumber Gelis
Kacang bawang ini sudah dikenal sejak tahun 1980-an dan sampai sekarang masih jadi favorit. Di Kudus, kacang ini hampir selalu ada saat Lebaran sebagai suguhan tamu.
Varian yang tersedia cukup beragam. Kacang bawang putih adalah yang paling umum. Ada juga kacang kulit atau tore dengan rasa lebih khas, serta kacang mete sebagai pilihan premium. Produk ini bisa ditemukan di beberapa toko oleh-oleh seperti Toko Sinar Tiga-Tiga, Pusat Oleh-Oleh Kirana, maupun melalui toko pusatnya, Sumber Gelis.
12. Roti Sisir Kudus
Roti sisir termasuk oleh-oleh khas Kudus yang relatif baru, tapi cepat dikenal. Varian rasanya cukup banyak, mulai dari klasik, keju, cokelat, hingga roombutter yang lebih kaya rasa. Ada juga varian garlic untuk pilihan gurih.
Nahla Bakery jadi salah satu produsen yang paling dikenal, dengan lokasi di Taman Bojana, dekat Alun-Alun Kudus.
13. Buah Parijoto
Parijoto tumbuh di lereng Gunung Muria, terutama di Desa Colo, pada ketinggian sekitar 800–1.000 mdpl. Buah ini berbentuk kecil bergerombol dengan warna ungu kemerahan.
Selain dikenal karena tampilannya, parijoto juga sering dikaitkan dengan berbagai kepercayaan lokal. Karena buah segarnya tidak tahan lama, sehingga biasanuya diolah menjadi produk lain.
Olahan yang umum antara lain sirup, teh celup, keripik, hingga permen. Bentuk ini lebih awet dan lebih mudah dibawa sebagai oleh-oleh.
14. Batik Kudus
Dikutip dari website Pemkab Kudus, batik Kudus punya karakter yang cukup berbeda dari batik Solo atau Jogja. Termasuk batik pesisiran, tampilannya lebih bebas dengan warna yang lebih beragam.
Ciri khasnya ada pada isen-isen yang detail dan halus. Motif yang sering ditemui antara lain Parijoto, Menara Kudus, Beras Tumpah, dan Buketan yang dipengaruhi budaya luar.
Untuk melihat langsung prosesnya atau membeli, bisa ke beberapa sentra seperti Batik Muria Kudus di Gebog, Batik Kudus Alpha Shoffa di Perum Muria Indah, Griya Batik Alfa di Bakalan Krapyak, atau Batik Kudus Sekar Mulyo di Langgardalem.
Baca juga: Oleh-Oleh Khas Magelang Selain Getuk, Apa Saja?
Pilihan oleh-oleh khas Kudus ternyata tidak sesempit yang sering dibayangkan. Pilihannya ada banyak dan masih cukup mudah ditemukan di berbagai sudut kota.