JNEWS – Mencari oleh-oleh khas Tanzania bukanlah hal yang sulit. Negara di Afrika Timur ini memiliki beragam buah tangan yang mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi lokal.
Banyak di antaranya dibuat langsung oleh pengrajin setempat, sehingga setiap pembelian juga ikut mendukung perekonomian masyarakat lokal.
Daftar Oleh-Oleh Khas Tanzania yang Wahib Dibawa Pulang

Berikut beberapa oleh-oleh khas Tanzania yang paling populer untuk dibawa pulang.
1. Batu Tanzanite
Tanzanite masuk dalam jajaran batu permata paling langka di dunia. Batu berwarna biru-violet ini hanya ditemukan di kawasan Mererani Hills, dekat kaki Gunung Kilimanjaro, dengan area penambangan sekitar 7 × 2 kilometer. Karena jumlah cadangannya terbatas dan diperkirakan akan habis dalam beberapa dekade mendatang, Tanzanite mendapat julukan one-generation gemstone.
Tempat yang paling direkomendasikan untuk melihat sekaligus membeli Tanzanite ialah The Tanzanite Experience di Arusha. Selain toko resmi yang menjual batu lepas dan perhiasan bersertifikat, tersedia museum interaktif gratis yang mengulas sejarah serta proses penambangan batu permata ini. Cabangnya juga tersedia di Bandara Arusha.
Baca lagi: Itinerary Tanzania 8 Hari 7 Malam: Safari Seru hingga Pantai Zanzibar
2. Manik-Manik Maasai
Manik-manik Maasai atau Enkidongi bukan sekadar aksesori, melainkan bagian dari identitas budaya suku Maasai di Tanzania dan Kenya. Warna, pola, dan susunan manik-manik memiliki arti tersendiri, mulai dari usia, status pernikahan, hingga posisi seseorang di dalam komunitas. Produknya pun beragam, seperti kalung, gelang, anting, sandal kulit, sampai hiasan rumah.
Pilihan paling lengkap dapat ditemukan di Maasai Market Curios and Crafts, Arusha. Pasar ini dipenuhi ratusan stan milik para perajin lokal yang menjual berbagai kerajinan tangan khas Maasai. Menawar harga sudah menjadi kebiasaan saat berbelanja di sini.
3. Kain Kanga
Kanga atau leso merupakan kain katun tradisional yang lekat dengan budaya Swahili. Kain berbentuk persegi panjang ini selalu dijual sepasang, istilahnya doti. Kain ini digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pakaian sehari-hari, gendongan bayi, hingga dekorasi rumah.
Nama kanga sendiri berasal dari bahasa Swahili yang berarti burung mutiara, mengacu pada motif awalnya yang menyerupai corak bulu burung tersebut.
Jika mencari motif yang lebih beragam dengan harga bersahabat, Pasar Kariakoo di Dar es Salaam layak masuk daftar tujuan. Pasar tekstil terbesar di Tanzania ini menawarkan ribuan pilihan Kanga langsung dari produsen lokal.
4. Kain Kitenge
Kitenge, atau chitenge, dikenal sebagai kain bermotif wax print yang banyak dipakai dalam busana formal di Tanzania. Bahannya lebih tebal dibandingkan Kanga, tanpa tulisan pada permukaan kain, dan dipenuhi motif berwarna cerah di kedua sisinya. Kain ini sering dijahit menjadi gaun pesta, pakaian pernikahan, jas, maupun seragam acara resmi.
Salah satu lokasi terbaik untuk membeli kitenge berada di kawasan Uhuru Street, Pasar Kariakoo. Deretan toko grosir di area ini menjual potongan kain standar dengan pilihan motif yang sangat beragam.
5. Shuka Maasai
Shuka Maasai mudah dikenali dari motif kotak-kotaknya yang khas. Kain wol tebal ini telah lama digunakan oleh masyarakat Maasai sebagai pakaian tradisional karena mampu melindungi tubuh dari udara dingin dan kondisi alam sabana. Julukan The African Blanket pun melekat pada kain ini.
Selain bernilai budaya, Shuka juga praktis dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Tanzania. Kain ini dapat digunakan sebagai syal, selimut perjalanan, alas piknik, maupun dekorasi rumah. Maasai Market Curios and Crafts menyediakan banyak pilihan warna dan ukuran.
6. Lukisan Tingatinga
Lukisan Tingatinga identik dengan warna-warna cerah dan ilustrasi satwa Afrika yang penuh karakter. Aliran seni ini lahir di Dar es Salaam pada 1968 berkat pelukis Edward Saidi Tingatinga, lalu berkembang menjadi salah satu ikon seni rupa Tanzania.
Karya asli dapat ditemukan di Tingatinga Arts Cooperative Society. Pengunjung bisa melihat para pelukis bekerja langsung di studio terbuka, bahkan memesan lukisan atau papan nama kayu bermotif satwa sesuai keinginan sebagai oleh-oleh khas Tanzania.
7. Ukiran Kayu Makonde
Ukiran Kayu Makonde merupakan karya seni pahat khas suku Makonde yang berasal dari wilayah tenggara Tanzania hingga utara Mozambik. Keindahannya terletak pada detail ukiran yang rumit, dengan bahan utama kayui ebony yang terkenal keras dan bernilai tinggi. Tidak heran jika karya ini banyak diburu kolektor seni dari berbagai negara.
Untuk mendapatkan ukiran yang asli, kunjungi Mwenge Woodcarvers Market di Dar es Salaam. Pasar ini dipenuhi kios sekaligus bengkel kerja para pemahat, sehingga proses mengubah balok kayu menjadi karya seni dapat disaksikan langsung.
8. Ukiran Batu Sabun (Soapstone)
Ukiran batu sabun, atau soapstone carvings, menjadi salah satu suvenir khas Afrika Timur yang cukup populer. Bahannya berasal dari batu sabun yang bertekstur halus dan lunak, sehingga mudah dipahat menjadi berbagai bentuk, seperti patung satwa, mangkuk kecil, tempat lilin, hingga hiasan meja.
Pilihan produknya sangat beragam di Maasai Market Curios and Crafts, Arusha. Banyak pedagang menawarkan harga yang lebih murah jika membeli beberapa buah sekaligus, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh khas Tanzania.
9. Keranjang Anyaman Kiondoo
Kiondoo, atau kyondo, adalah tas anyaman tradisional yang dibuat secara manual oleh para perajin perempuan di Tanzania dan Kenya. Awalnya keranjang ini dipakai untuk membawa hasil panen, tetapi kini lebih sering digunakan sebagai tas bergaya etnik maupun dekorasi rumah berkat tampilannya yang natural.
Koleksi kiondoo berkualitas mudah ditemukan di Slipway Weekend Market, Dar es Salaam. Setiap akhir pekan, pasar ini dipenuhi perajin lokal yang menawarkan berbagai ukuran, motif, dan warna dengan kualitas anyaman yang rapi.
10. Kopi dan Teh Kilimanjaro
Kopi dan teh dari lereng Gunung Kilimanjaro termasuk oleh-oleh khas Tanzania yang banyak difavoritkan. Tanaman ini tumbuh di ketinggian sekitar 1.200-2.000 meter di atas permukaan laut dengan tanah vulkanis yang subur. Cita rasanya kaya dan punya aroma yang khas.
Produk kemasan resmi lebih disarankan dibandingkan kopi atau teh curah tanpa label. Merek seperti Africafe, Kilimanjaro Plantation, Wild Tracks, dan Tanica mudah ditemukan di supermarket lokal, seperti Shoppers Supermarket, Mlimani City Mall di Dar es Salaam, maupun Fahari Supermarket di Arusha.
11. Rempah-Rempah Zanzibar
Zanzibar telah lama dikenal sebagai The Spice Island berkat hasil rempah-rempahnya yang melimpah. Sejak berabad-abad lalu, wilayah ini menjadi pusat perdagangan rempah di Afrika Timur. Cengkih, vanila, kayu manis, pala, serai, dan kapulaga termasuk komoditas yang paling banyak dicari karena kualitasnya terbaik.
Cara terbaik untuk membelinya adalah mengikuti tur ke perkebunan rempah, seperti Tangawizi Spice Farm atau Jambo Spice Farm. Selain mengenal proses budidayanya, pengunjung juga dapat membeli rempah yang baru dipanen langsung dari petani setempat.
12. Camilan Kashata
Kashata merupakan camilan tradisional khas pesisir Swahili yang sekilas menyerupai enting-enting atau ampyang di Indonesia. Teksturnya renyah dengan rasa manis yang diperkaya aroma rempah. Warga lokal kerap menikmatinya bersama secangkir kopi hitam tanpa gula.
Salah satu tempat terbaik untuk mencicipi kashata adalah Forodhani Gardens di Stone Town, Zanzibar. Menjelang malam, kawasan tepi laut ini berubah menjadi pusat kuliner yang dipenuhi pedagang kaki lima, termasuk penjual kashata segar yang baru dibuat.
Baca juga: Gunung Kilimanjaro: Fakta Menarik tentang Puncak Tertinggi di Afrika
Sebelum membeli oleh-oleh khas Tanzania seperti di atas, luangkan waktu untuk memilih produk yang asli dan berkualitas, terutama jika berasal dari pengrajin lokal atau sentra produksi resmi. Dengan begitu, buah tangan yang dibawa pulang bukan sekadar kenang-kenangan, tetapi juga memiliki nilai budaya dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat yang membuatnya.