JNEWS – Pemerintah terus gencar menggenjot pertumbuhan sektor pariwisata, tak terkecuali untuk pariwisata bahari. Untuk itu, berbagai program digalakkan oleh Kementerian Pariwisata agar potensi wisata bahari Indonesia kian berkembang dan semakin diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Salah satu gerakan yang sedang dilakukan adalah bagaimana menjaga ekosistem lingkungan bahari tetap terjaga dengan baik, seperti merestorasi terumbu karang yang rusak. Bukan hanya pemerintah, namun juga diperlukan peran serta seluruh warga masyarakat untuk menjaga dan melestarikannya.
Seperti misalnya, keterlibatan warga dalam konservasi memulihkan karang yang sempat terancam akibat praktik penangkapan yang merusak lingkungan. Sinergi pemerintah dan masyarakat menjaga kelestarian tempat wisata bahari, mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata.
“Tentu saja kami mengajak dan mengapresiasi peran seluruh pihak dalam menata ulang wisata bahari Indonesia untuk menuju destinasi kelas dunia dan menjadikan wisata bahari yang berkelanjutan,” ucap Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.
Ia menegaskan, Indonesia tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga komitmen nyata untuk menjaganya. Pemerintah terus memperkuat kebijakan yang mendorong keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan dari pariwisata itu sendiri.
“Indonesia memperkuat keselamatan dan keamanan pariwisata. Komitmen ini membutuhkan kekuatan kolektif untuk membentuk pariwisata bahari yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Selain itu juga memastikan lautan kita terus menginspirasi kemakmuran dan kebanggaan bagi generasi mendatang,” kata Wamenpar Ni Luh Puspa saat menjadi pembicara di acara ‘Bali Ocean Days 2026’.
Sementara itu, aktivis lingkungan sekaligus Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo, menyoroti tentang fenomena sampah yang memenuhi dan merusak keindahan pantai yang ada di Bali dan menjadi sorotan dunia. “Para pelaku pariwisata harus menyadari bahwa keindahan Bali yang luar biasa sebanding dengan usaha yang kita berikan. Kita harus mau repot dan berinvestasi untuk mengurus sampah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran wisatawan dalam menjaga destinasi. Bagi Suzy, operator wisata bahari tidak hanya melayani, tetapi juga membimbing wisatawan agar berperilaku selaras dengan kelestarian alam. “Ini membutuhkan kolaborasi dan struktur yang kuat untuk benar-benar mempertahankan keindahan alam Bali dan Indonesia,” tambahnya.
Baca juga: Pulau Lumba-Lumba NTT: Destinasi Wisata Bahari yang Belum Banyak Dikenal
CEO Wedoo, Valerine Chandrakesuma, menyampaikan bahwa keberlanjutan lingkungan bahari merupakan persoalan yang harus dikerjakan secara bergotong royong. Menurutnya, kesehatan laut adalah jantung dari ekonomi pariwisata.
“Wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi di dunia. Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air yang tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang. Koral dan laut kita adalah salah satu yang terindah di dunia. Menjaganya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk masa depan,” tandasnya. *
