JNEWS – Berbagai sektor industri terus mendapat dukungan dari pemerintah demi memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Tidak terkecuali sektor industri bambu yang selama ini belum begitu dilirik padahal memiliki nilai ekonomi dan potensi yang cukup besar.
Untuk itu, pemerintah lewat Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan ekosistem industri bambu nasional secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah untuk mendorong nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing industri, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan ekonomi hijau.
”Sebagai salah satu negara dengan kekayaan bambu terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 125 jenis bambu yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Potensi tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan sumber bahan baku bambu terbesar secara global,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Namun, pemanfaatan bambu di dalam negeri masih didominasi metode konvensional sehingga belum dapat menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Untuk itu, Kemenperin mendukung penguatan industri hilir bambu, khususnya sebagai bahan baku konstruksi, furnitur dan produk bernilai tambah yang berpotensi lainnya seperti pangan fungsional.
“Bambu memiliki potensi besar sebagai alternatif bahan baku substitusi kayu karena bersifat mekanis yang kuat, lentur, dan mudah dibentuk. Bahkan, bambu sangat direkomendasikan untuk wilayah rawan gempa karena lebih tahan terhadap guncangan dibanding material konvensional,” ungkap Menperin Agus Gumiwang. “Saat ini Kemenperin tengah menyusun peta jalan Pengembangan Ekosistem Industri Bambu Hulu–Hilir Terintegrasi,” tambahnya.
Peta jalan ini mencakup penguatan agroforestry, teknologi pascapanen, pembentukan sentra-sentra bambu, pendirian Akademi Komunitas Bambu, hingga pembangunan pusat logistik bambu guna menjamin pasokan bahan baku yang berkelanjutan.
Sementara itu, Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika mengungkapkan, industri bambu nasional memiliki peluang besar di sektor kerajinan, furnitur, konstruksi, hingga bioindustri. Apalagi, permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah terus meningkat.
Baca juga: Pentingnya PIRT untuk UMKM Kuliner dan Cara Membuatnya
“Saat ini, permintaan ekspor lantai kontainer berbahan bambu mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi nasional baru masih sangat kecil. Kesenjangan ini menunjukkan peluang ekspansi industri bambu yang sangat besar,” jelasnya.
Di pasar domestik, permintaan juga meningkat pesat, terutama untuk pembangunan kawasan pariwisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Bahkan, bangunan berbasis bambu memiliki nilai ekonomi tinggi, dengan harga mencapai Rp 12 juta per meter persegi. *
