JNEWS – Pura Tirta Empul berada di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pura ini dikenal karena tata bangunannya yang khas dan keberadaan mata air alami di dalam area pura. Kombinasi keduanya membuat Tirta Empul ramai dikunjungi, baik oleh wisatawan luar negeri maupun wisatawan lokal.
Kalau berangkat dari Bandara Ngurah Rai, jaraknya sekitar 52 kilometer. Waktu tempuhnya kurang lebih satu setengah jam, tergantung kondisi lalu lintas. Meski tidak terlalu dekat, akses menuju Tirta Empul relatif mudah dan sering masuk dalam rute wisata kawasan Gianyar dan sekitarnya.
Sejarah Pura Tirta Empul dan Mitologinya

Asal mula pura ini menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu kala, Raja Mayadenawa digambarkan sebagai penguasa yang bertindak sewenang-wenang. Ia melarang rakyatnya melakukan upacara keagamaan untuk memohon perlindungan kepada para dewa.
Tindakan ini akhirnya memancing kemarahan para dewa yang dipimpin oleh Bhatara Indra. Terjadilah pertempuran, dan Mayadenawa kalah lalu melarikan diri ke arah utara Desa Tampaksiring.
Saat dikejar, Mayadenawa menggunakan kesaktiannya untuk menciptakan mata air beracun. Air ini diminum oleh pasukan Bhatara Indra dan membuat mereka gugur.
Melihat kondisi itu, Bhatara Indra menancapkan tombaknya ke tanah hingga memunculkan mata air baru. Air inilah yang dikenal sebagai Tirta Empul. Air suci tersebut kemudian digunakan untuk menghidupkan kembali para dewa yang sebelumnya terkena racun.
Pura Tirta Empul dibangun mengelilingi sebuah sumber mata air besar pada tahun 962 M. Pembangunannya dilakukan pada masa Wangsa Warmadewa oleh Raja Sri Candrabhayasingha Warmadewa. Nama Tirta Empul diambil langsung dari mata air yang ada di dalam kompleks pura, yang airnya berasal dari Sungai Pakerisan.
Pura Tirta Empul didedikasikan untuk Dewa Wisnu, yang dalam kepercayaan Hindu dikenal sebagai Narayana. Di sisi kiri area pura, terdapat bangunan Istana Tampaksiring. Bangunan ini didirikan pada tahun 1954 sebagai tempat peristirahatan Presiden Soekarno saat berkunjung ke Bali, dan kini digunakan untuk menerima tamu negara.
Pura Tirta Empul juga pernah dikunjungi tokoh internasional. Salah satunya adalah Barack Obama, yang datang pada tanggal 27 Juni 2017. Dalam kunjungan tersebut, ia disambut oleh Bendesa Adat setempat dan sempat berkeliling area pura sebelum meninggalkan lokasi sekitar setengah jam kemudian.
Baca juga: Jenis-Jenis Pura di Bali: Makna, Fungsi, dan Keunikannya
Bagian-Bagian Pura Tirta Empul
Kompleks Pura Tirta Empul cukup luas dan dikelilingi pemandangan dengan suasananya yang tenang. Saat masuk, pengunjung melewati candi bentar lalu sampai di halaman luar atau jaba sisi. Di area ini ada deretan patung Dwarapala berukuran besar, dengan ukiran detail dan sentuhan warna emas yang mencolok.
Masuk ke jaba tengah, suasananya mulai lebih sakral. Di sini terdapat mata air suci yang mengalir ke kolam penyucian. Airnya dipakai untuk ritual melukat, yang dipercaya membantu membersihkan diri secara spiritual. Total ada 30 pancuran, yang masing-masing memiliki fungsi berbeda, seperti Pengelukatan, Pebersihan, Sudamala, serta satu pancuran yang dikenal sebagai Pancuran Cetik atau pancuran racun.
Di bagian paling belakang ada jeroan, area yang biasanya tidak banyak diperhatikan wisatawan. Tempat inilah yang menjadi pusat kegiatan ibadah. Di dalamnya terdapat mata air besar dengan ganggang hijau, ikan-ikan kecil, dan berbagai bangunan suci yang tertata rapi dan penuh warna.
Upacara Melukat di Pura Tirta Empul
Pura Tirta Empul terkenal sebagai salah satu lokasi untuk melakukan upacara melukat. Upacara melukat adalah ritual penyucian diri khas Bali yang menggunakan air suci. Tujuannya untuk membersihkan tubuh, pikiran, dan batin dari energi negatif supaya terasa lebih tenang dan seimbang.
Bagi umat Hindu Bali, ritual ini penting karena dianggap sebagai proses pemulihan, penyegaran diri, dan permohonan keselamatan.
Pelaksanaan melukat biasanya dipandu oleh pemandu lokal yang sudah terbiasa mendampingi ritual. Prosesnya diawali dengan doa, lalu dilanjutkan membasuh diri di pancuran mata air suci. Setiap tahapan punya makna tersendiri dan dipercaya membantu meredakan beban pikiran, stres, serta memberi ketenangan. Banyak juga yang meyakini ritual ini bisa membantu masalah kesehatan, urusan kerja atau usaha, sampai persoalan pribadi.
Wisatawan non-Hindu juga diperbolehkan mengikuti melukat, selama mematuhi aturan yang berlaku di area pura. Pengunjung wajib mengenakan kain sarung untuk menutup bagian bawah tubuh dan memakai selendang di pinggang. Khusus perempuan, tidak diperkenankan mengikuti ritual jika sedang datang bulan. Selama aturan dipatuhi, wisatawan bisa mengikuti prosesi dengan tertib dan hormat.
Baca juga: Apa Itu Melukat? Simak Tata Cara dan Syaratnya
Tiket Berkunjung dan Jam Operasional
Mulai 1 Januari 2025, harga tiket masuk Pura Tirta Empul mengalami penyesuaian, seperti yang dijelaskan melalui situs resminya. Tiket untuk pengunjung dewasa dipatok Rp75.000, anak usia 5–12 tahun Rp50.000, dan gratis untuk anak di bawah 5 tahun. Biaya ini digunakan untuk perawatan area pura, menjaga kelestarian bangunan, serta mendukung renovasi yang berjalan. Pura dibuka setiap hari pukul 08.00–18.00 WITA, dan tiket bisa dibeli langsung di lokasi.
Perlu dicatat, tiket masuk standar hanya berlaku untuk kunjungan umum. Tiket ini tidak termasuk akses ke kolam mata air suci atau mengikuti ritual melukat. Pengunjung tetap bisa berkeliling area pura, melihat detail arsitektur, dan menikmati suasana yang tenang tanpa ikut prosesi penyucian.
Pura Tirta Empul dikenal sebagai destinasi wisata, sekaligus juga sebagai ruang hidup bagi tradisi dan kepercayaan yang masih dijalani sampai sekarang. Lewat sejarah, ritual penyucian, dan aturan yang dijaga dengan rapi, tempat ini memberi gambaran sederhana tentang bagaimana spiritualitas tetap hadir dalam keseharian masyarakat Bali.