JNEWS ONLINE
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
JNEWS Online
No Result
View All Result
Home Traveling

Reog Ponorogo: Sejarah dan Makna Simbolis di Baliknya

by Penulis JNEWS
6 November 2024
Reog Ponorogo: Sejarah dan Makna Simbolis di Baliknya
Share on FacebookShare on Twitter

JNEWS – Reog Ponorogo adalah salah satu kesenian tradisional Indonesia, terkenal karena biasanya dipertunjukkan dengan jumlah personel yang banyak, megah, dan penuh kekuatan. Tarian ini berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, dan telah menjadi simbol budaya yang sangat kuat bagi masyarakat setempat.

Pertunjukan Reog Ponorogo memang selalu berhasil memikat penonton dengan nuansa mistis dan energinya yang luar biasa. Rasanya memang pantas, Reog Ponogoro diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada tahun 2022, dan akan ditentukan kepastiannya dalam sidang di akhir tahun 2024. Sejarah Reog Ponorogo ini menyimpan kisah tentang keberanian, perjuangan, dan budaya yang terus dipertahankan hingga saat ini.

Sejarah Reog Ponorogo

Ada 3 kisah yang sering dikaitkan dengan sejarah atau asal-usul reog Ponorogo, yaitu sebagai berikut.

1. Asal-usul Reog Ponorogo

Sejarah Reog Ponorogo berawal dari niat Raja Kelana Suwandana dari Kerajaan Bantarangin (sekarang Ponorogo) melamar Dewi Ragil Kuning atau Putri Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Di tengah jalan, rombongan Raja Ponorogo dicegat oleh Raja Kediri yang bernama Singabarong dan terjadilah pertempuran.

Saat itu Raja Ponorogo dikawal oleh wakilnya yang bernama Bujanganom dan para warok. Sedangkan Raja Kediri membawa bala tentara yang berupa burung merak dan singa. Pertempuran berlangsung lama, bahkan mengeluarkan ilmu hitam, namun belum juga ada yang menang. Akhirnya mereka memutuskan untuk berdamai.

Dalam acara pernikahan Raja Kelana Suwandana dan Putri Sanggalangit, dipersembahkan tarian perang-perangan antara warok, burung merak dan singa yang dinamakan reog. Meski sudah tidak bertempur, namun ilmu hitam tetap digunakan sehingga selalu ada yang kesurupan.

2. Penyebaran Reog Ponorogo

Pada abad ke-15, reog digunakan oleh Ki Ageng Kutu atau Ki Ageng Suryongalam sebagai alat untuk melawan rajanya sendiri yang korup, yaitu Raja Bre Kertabumi dari Kerajaan Majapahit. Awalnya Ki Ageng Kutu mendirikan perguruan pencak silat. Namun karena dihancurkan raja, maka reog digunakan  untuk menyindir dan memprovokasi raja.

Dalam reog versi Ki Ageng Kutu ini, Raja Kertabumi disimbolkan dengan singa barong dengan hiasan bulu-bulu merak yang melambangkan kekuatan yang membabi-buta. Terdapat penari jatilan atau gemblak yang merupakan representasi pasukan kerajaan. Sedangkan Ki Ageng Kutu dilambangkan dengan warok yang mengenakan topeng badut merah.

Akhirnya Ki Ageng Kutu ditangkap dan dihukum. Namun pengikutnya tetap meneruskan pertunjukan dengan menambahkan beberapa cerita rakyat.

3. Versi Lain

Ada versi yang menyebutkan bahwa reog merupakan ciptaan Ki Ageng Suryongalam sendiri. Kesenian ini dibawa dari Bali dengan nama awal Barongan sehingga mirip dengan barongan yang ada di Bali.

Baca juga: Ragam Tarian Jawa Timur dan Makna di Baliknya

Makna Simbolis Reog Ponorogo

Ragam Tarian Jawa Timur Reog Ponorogo

Para penggiat seni dan masyarakat memaknai reog Ponorogo dari berbagai sudut pandang, antara lain sebagai berikut:

  • Simbol perdamaian, yaitu penyelesaian yang indah dari perseteruan antara Raja Kelana Suwandana dari Bantarangin dan Raja Singobarong dari Kediri.
  • Simbol perlawanan terhadap kezaliman, yaitu perlawanan Ki Ageng Kutu terhadap kezaliman Raja Bhre Kertabumi dari Majapahit.
  • Simbol perjuangan, yaitu dengan diteruskannya pementasan reog setelah Ki Ageng Kutu dihukum meski harus melakukan beberapa penyesuaian.
  • Simbol semangat, yang ditandai dengan gerakan-gerakan yang agresif dan dinamis.
  • Simbol penghargaan, yaitu penghargaan terhadap seni dan budaya nenek moyang sehingga masih dipertahankan hingga sekarang, bahkan sedang diusahakan untuk diakui UNESCO.

Pertunjukan Reog Ponorogo

Secara umum pertunjukan reog Ponorogo dibagi menjadi 3 babak, yaitu pembukaan, inti, dan penutup. Babak pembukaan terdiri dari 3 tarian, yaitu tarian Warok, Jatilan, dan Bujang Ganong. Setelah itu, ditampilkan tarian inti yang disebut Klana Sewandono. Pertunjukan ini ditutup dengan Barongan.

Secara detail, berikut adalah para penari atau penampil di pertunjukan reog Ponorogo, yang dikutip dari laman Indonesia Baik.

Reog Ponorogo: Sejarah dan Makna Simbolis di Baliknya

1. Warok

Warok digambarkan sebagai pria berbadan kekar, galak, dan sakti. Bahkan di kehidupan nyata, warok dihormati oleh warga.

Properti utama warok dalam pertunjukan reog adalah pecut atau cambuk. Pecut ini juga digunakan untuk mengendalikan jalannya pertunjukan ketika tarian makin agresif. Gerakan tari warok tidak banyak koreografi namun menonjolkan sikap gagah berani.

Sedangkan kostum utama warok terdiri dari celana kombor hitam, kaus reog alur merah putih, penadon (atasan) hitam polos, blangkon, sabuk othok, dan tali kolor. Ketika pertunjukan memanas di ruang terbuka, kadang warok bertelanjang dada.

2. Jathil atau Jatilan

Dahulu jatil ditarikan oleh laki-laki berwajah tampan dengan gerakan feminin, yang disebut gemblak. Sekarang banyak dilakukan secara berpasangan atau wanita saja. Musik yang mengiringinya lebih ritmis dengan gerakan berulang, rapi, dan indah karena melambangkan prajurit.

Kostum jatilan terdiri dari sempyok manggar, jarik kawung putih, centing, udeng, cakep (gelang tangan), sampur, boro-boro, sabuk, celana, dan baju.

3. Bujang Ganong

Tari bujang ganong diandalkan untuk memeriahkan reog karena mempertontonkan gerakan-gerakan akrobatik. Penari bujang ganong haruslah pria yang dapat bergerak lincah ke seluruh area tari. Biasanya mereka bertubuh kecil dan langsing karena sering jungkir balik. Namun gerakan mereka tidak sepenuhnya random. Ada gerakan-gerakan yang diatur dengan koreografi. Salah satu koreografer terkenalnya adalah Hartono Leke Pakunden.

Kostum bujang ganong terdiri dari celana, rompi, embong depan, embong belakang, cakep (gelang tangan), binggel (gelang kaki), sampur, dan topeng ganongan.

4. Klono Sewandono

Tarian ini menggambarkan sosok Raja Kelana Suwandana sehingga ditarikan oleh pria bertubuh bagus dengan sikap badan tegak. Penari menggunakan mahkota raja dan topeng dengan mata melotot karena menggambarkan kemarahan raja yang dihadang ketika akan melamar Putri Sanggalangit.

Pernak-pernik kostum klono sewandano cukup banyak dibandingkan kostum lainnya, yaitu cinde, pecut, sampur, kace dasi, boro-boro, srempang, binggel, cakep, klat bahu, uncal, topeng, epek timang, keris, celana, dan probo. Pecut atau cambuk dengan nama Kyai Samandiman ini digunakan untuk menundukkan Singo Barong.

5. Barongan

Barongan adalah klimaks sekaligus penutup dalam pertunjukan reog. Ini merupakan bagian paling seru dan selalu membuat anak-anak kecil kocar-kacir karena ketakukan. Gerakan tari barongan memang terlihat buas dan sering berputar-putar sambil mengibaskan mahkota burung merak ke semua arah tanpa peduli siapa yang ada di sekitarnya.

Singo Barong merupakan lambang para raja yang zalim dan tidak peduli dengan rakyatnya. Penari barongan mengenakan topeng harimau yang besar dengan hiasan dhadhak merak. Dhadhak merak terbuat dari bulu ekor merak yang lebar dan panjang, serta disusun tinggi mengelililingi kepala Singo Barong.

Berat topeng harimau dan dhadhak merak bisa mencapai 40-50 kg. Konon, para penari menggunakan gigi untuk menggerakkan barongan.

Baca juga: 4 Tempat Terbaik untuk Menikmati Serabi Kuah Khas di Kota Ponorogo

Reog Ponorogo merupakan warisan budaya Indonesia yang mempesona karena penuh dengan makna simbolis, bermacam-macam penari, beragam kostum hingga aneka gerakan. Reog menampilkan banyak aspek dalam sekali pertunjukan. Belum lagi usaha yang dilakukan untuk mempersiapkannya. Reog pantas mendapatkan dukungan untuk memperoleh pengesahan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia.

Tags: Kabupaten Ponorogopertunjukan reog ponorogosejarah reog ponorogotari reogWarisan Budaya Tak Benda Dunia UNESCO
Share271Tweet170
Next Post
Gaya Hidup FIRE: Pensiun Dini dan Bebas Finansial

Gaya Hidup FIRE: Pensiun Dini dan Bebas Finansial

TERKINI

Negara Paling Bahagia di Dunia 2025 menurut PBB

10 Negara Paling Bahagia di Dunia yang Sering Jadi Panutan

16 March 2026
Cara Mengatur THR agar Tidak Habis Sebelum Lebaran

Cara Mengatur THR agar Tidak Habis Sebelum Lebaran

16 March 2026
memantau jalur mudik

Pantau Jalur Mudik, Pemerintah Sediakan Platform Mudik.pu.go.id

16 March 2026
pelaku umkm sukabumi andalkan jne untuk pengiriman

Pelaku UMKM Sukabumi Andalkan JNE Untuk Kiriman Jelang Lebaran

16 March 2026
Karyawan/ti JNE Bogor ajak anak yatim belanja baju dan sepatu baru untuk Lebaran

JNE Bogor Wujudkan Mimpi Anak Yatim, Punya Baju dan Sepatu Baru Untuk Lebaran

15 March 2026
kiriman pempek

Kiriman Pempek dari JNE Palembang ke Pulau Jawa Capai Belasan Ton

15 March 2026

POPULER

Tempat Wisata di Palopo yang Menarik Dikunjungi

Daftar Tempat Wisata di Palopo yang Menarik Dikunjungi

by Penulis JNEWS
17 February 2026

Kota Terkecil di Indonesia, Ada yang Jadi Tujuan Wisata Terpopuler

7 Kota Terkecil di Indonesia dan Fakta Menarik di Baliknya

by Penulis JNEWS
19 February 2026

Tips Sahur Sehat dan Praktis untuk Aktivitas yang Padat

5 Tips Sahur Sehat dan Praktis untuk Aktivitas yang Padat

by Penulis JNEWS
27 February 2026

Oleh-Oleh Khas Pangandaran untuk Buah Tangan Liburan

19 Pilihan Oleh-Oleh Khas Pangandaran untuk Buah Tangan Liburan

by Penulis JNEWS
24 February 2026

Bukber Hemat, Cara Siasati agar Tidak Boros

7 Cara Cerdas Menyiasati Ajakan Bukber agar Tidak Boros

by Penulis JNEWS
25 February 2026

JNEWS Online

©2020 - Your Trusted Logistic Portal

Navigate Site

  • About
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2

©2020 - Your Trusted Logistic Portal