JNEWS – Di era digital, pemerintah terus berinovasi dalam hal pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Baru-baru ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik (RME) sebagai bagian dari transformasi digital kesehatan. SATUSEHAT RME untuk mengintegrasikan data kesehatan pasien dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan secara nasional.
Dengan SATUSEHAT RME, data rekam medis pasien tidak lagi tersimpan secara terpisah berdasarkan fasilitas kesehatan, tetapi terhubung dalam ekosistem SATUSEHAT dan berbasis pada individu. Informasi tersebut dapat diakses tenaga medis sesuai kewenangan dan persetujuan pasien.
Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, integrasi ini akan memberikan manfaat utama bagi pasien karena riwayat kesehatannya dapat tersedia secara berkesinambungan ketika berpindah fasilitas kesehatan.
“Data ini disimpannya bukan berbasis fasilitas kesehatan, tetapi berbasis individu. Jadi ketika seseorang melakukan pemeriksaan di berbagai fasilitas kesehatan, seluruh data tersebut dapat terhubung dalam satu akun kesehatan milik pasien,” ujar Menkes saat peluncuran SATUSEHAT RME.
Data yang terintegrasi mencakup diagnosis, hasil laboratorium, obat, tindakan medis, tanda vital, hingga radiologi. Dengan demikian, pasien tidak perlu lagi membawa berkas rekam medis ketika berpindah atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lain. “Tujuan utama dari sistem SATUSEHAT ini adalah supaya pasien tahu setiap saat kondisi kesehatannya seperti apa. Sama seperti kita bisa melihat kondisi keuangan melalui mobile banking, dengan ini kita bisa melihat kondisi kesehatan kita,” jelas Menkes.
Selain memberikan akses informasi kesehatan kepada pasien, SATUSEHAT RME juga membantu dokter memperoleh informasi medis pasien secara lebih lengkap sebagai salah satu dasar dalam menentukan tindakan medis.
Baca juga: Sehat dan Produktif, Karyawan Operasional JNE Ikuti Cek Kesehatan
Menkes mencontohkan, ketika seorang pasien telah melakukan pemeriksaan laboratorium di satu fasilitas kesehatan, hasil tersebut dapat dilihat oleh fasilitas kesehatan berikutnya apabila pasien memberikan akses. Hal ini dapat menghindari pemeriksaan yang sama dilakukan berulang ketika secara klinis masih relevan.
“Kalau rumah sakit A mau merujuk ke rumah sakit B, tidak perlu lagi semua data dibawa dan dimasukkan secara manual. Data sudah tersambung, sehingga dokter yang menerima di IGD sudah dapat mengetahui kondisi kesehatan pasien,” tandasnya. *











