Sebanyak 9,2 Juta UMKM Sudah Masuk Platform Digital

Ilustrasi Online Seller.

 

Asosiasi E-Commerce Indonesia atau idEA mencatat, sampai dengan sekarang ini sudah ada 9,2 juta UMKM yang masuk ke ekosistem digital via program Bangga Buatan Indonesia (BBI).

Menurut Bima Laga, selaku ketua idEA menjelaskan, sejak program BBI diluncurkan pada Mei tahun lalu oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), pemerintah melihat peluan bila sektor digital jadi sebuah solusi untuk membangkitkan UMKM, terutama yang terdampak Covid-19.

Selama dua tahun terakhit, pemerintah bersama dengan idEA pun terus gencar mendorong para pelaku UMKM guna memasarkan produk-produk andalannya melalui platform digital, salah satunya e-commerce.

BACA JUGA : Tingkatkan Performa Penjualan, Ini 5 Tips Bersaing di Pasar Digital

smartphone gadget favorit untuk belanja online

“Di masa pandemi sektor yang bisa dimanfaatkan adalah digital, sehingga kami dorong UMKM untuk masuk ke sektor digital. Sampai akhir 2021 datanya itu 9,2 juta yang on board ke platform digital,” kat Bima.

Menurut Bima, jumlah UMKM yang masuk atau on board ke platform digital mengalami peningkatan yang juga drastis, yakni 3,1 juta UMKM bila dibandignkan data akhir pada pertengahan tahun lalu.

Hal ini tentunya membuktikan bila penjualan online jadi sebuah kesempatan pelaku UMKM untuk meningkatkan dan mengembangkan bisnis usahanya. Lantaran itu, usai masuk ke ekosistem digital, para UMKM juga harus bisa beradaptasi.

BBI sendir juga senantiasa membeikan dukungan para UMKM yang sudah masuk ke ranah platform digital untuk bisa cepat beradaptasi dan memasarkan produknya melaui kelas dan materi yang bisa diikuti secara cuma-cuma.

BACA JUGA : Alasan Kenapa Valentine Identik dengan Cokelat

Lebih lanjut Bima juga menjelaskan,pihaknya bersama pemerintah sedang menyusun kurikulum untuk BBI. Adapun kurikulum itu akan menjadi acuan dalam memberikan pelatihan dan standarisasi bagi kelas UMKM agar setara dengan UMKM di negara-negara lain.

“UMKM bisa manfaatkan ilmu sebanyak-banyaknya di BBI, ada program pelatihan. Kami ingin kurikulum ini bisa bersaing dengan UMKM di negara lain, jadi nanti beginner sampai advance itu ada kurikulumnya. Itu bisa kita lakukan standarirasinya,” ujarnya.

Exit mobile version