JNEWS – Sekitar seperempat perdagangan minyak dunia yang lewat laut akan melintasi Selat Hormuz. Jalur ini lebarnya hanya sekitar 48 km dan menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Posisi yang sempit membuatnya masuk kategori chokepoint penting dalam pelayaran global.
Arus kapal di sini sangat padat, terutama tanker minyak. Gangguan kecil saja bisa berdampak luas ke harga energi dan rantai pasok dunia. Situasi ini mulai terasa sejak akhir Februari 2026 ketika konflik di Timur Tengah memicu ketegangan di kawasan tersebut.
Keunikan Selat Hormuz secara Geologis

Keunikan Selat Hormuz tidak hanya soal perannya dalam perdagangan, tapi juga kondisi geologinya. Wilayah ini berada di zona pertemuan dua lempeng benua yang saling bertabrakan.
Jejak tabrakan ini terlihat jelas dari bentang alam di sekitarnya. Pegunungan Zagros di Iran Selatan menjadi salah satu bukti aktivitas tektonik tersebut. Di sisi lain, Semenanjung Musandam di Oman menjorok ke arah utara, membentuk titik tersempit selat dengan bentuk yang tajam.
Semenanjung Musandam ini dikenal dengan tebing batu hitam yang curam dan garis pantai yang terpotong-potong. Banyak lembah di kawasan ini yang terendam air laut, membentuk muara alami. Struktur seperti ini muncul akibat kenaikan permukaan laut yang menenggelamkan lembah sungai lama.
Selain itu, kawasan ini menyimpan fenomena geologi langka berupa ophiolite. Jenis batuan ini biasanya berada jauh di bawah kerak samudra. Namun, di sini muncul ke permukaan dalam kondisi yang sangat jelas dan luas.
Kondisi geologi yang ekstrem ini memberi gambaran betapa aktifnya dinamika bumi di wilayah tersebut. Namun di sisi lain, karakter yang sama juga membuat kawasan ini sensitif terhadap gangguan. Kombinasi jalur pelayaran vital dan kondisi alam yang kompleks menjadikan Selat Hormuz bukan hanya penting, tetapi juga rentan terhadap perubahan situasi, baik dari sisi alam maupun geopolitik.
Baca juga: Pesona Palm Jumeirah, Pulau Buatan yang Jadi Kebanggaan Dubai
Terbentuknya Selat Hormuz
Selat Hormuz terbentuk lewat proses geologi yang sangat panjang. Pada dasarnya, selat adalah jalur air sempit yang menghubungkan dua perairan besar, dan banyak di antaranya muncul karena perubahan bentuk bumi selama jutaan tahun.
Proses ini melibatkan pergerakan lempeng tektonik serta perubahan permukaan laut. Jalur seperti ini kemudian dimanfaatkan manusia sebagai rute pelayaran karena lebih singkat dibanding memutar jauh ke laut lepas. Selat Hormuz menjadi salah satu contoh paling jelas dari kombinasi proses tersebut.
Awalnya, sekitar 35 juta tahun lalu, wilayah ini masih dipisahkan oleh samudra kuno bernama Tethys. Di bagian selatan ada lempeng Arab, sementara di utara ada lempeng Eurasia.
Lempeng Arab bergerak ke arah utara dan mulai menyusup ke bawah lempeng Eurasia dalam proses yang dikenal sebagai subduksi. Pergerakan ini tidak berhenti dalam waktu singkat, tetapi terus berlangsung sangat lama. Dorongan yang terjadi perlahan menutup samudra Tethys hingga kedua daratan akhirnya menyatu.
Ketika dua lempeng ini terus saling menekan, kerak bumi di wilayah tersebut mengalami perubahan besar. Lapisan batuan menjadi terlipat, menebal, dan terangkat. Dari proses inilah terbentuk Pegunungan Zagros di Iran.
Tekanan yang sama juga menciptakan efek lain pada lempeng Arab. Bagian tertentu dari lempeng ini melengkung ke bawah, membentuk cekungan besar yang kemudian menjadi cikal bakal Teluk Persia dan jalur Selat Hormuz.
Perubahan belum berhenti di situ. Sekitar 20.000 tahun lalu, saat zaman es mencapai puncaknya, permukaan laut jauh lebih rendah dibanding sekarang. Wilayah Teluk Persia masih dangkal, bahkan di beberapa bagian berupa daratan.
Ketika es mulai mencair, permukaan laut naik drastis dalam waktu ribuan tahun. Air laut perlahan masuk dan mengisi cekungan yang sudah terbentuk sebelumnya. Aliran dari sungai besar seperti Tigris dan Eufrat ikut mempercepat proses pengisian ini.
Gabungan antara cekungan hasil tekanan lempeng dan naiknya permukaan laut akhirnya membentuk Selat Hormuz seperti yang dikenal sekarang.
Lanskap Unik di Sekitar Selat Hormuz
Jika melihat langsung kawasan di sekitar Selat Hormuz, jejak tabrakan dua benua yang dibahas di atas terlihat jelas di kedua sisinya. Di bagian utara, tekanan antar lempeng membuat kerak bumi memendek dan menebal. Dampaknya terlihat pada Pegunungan Zagros di Iran selatan yang tersusun dari lapisan batuan sedimen seperti batu pasir, serpih, dan batu kapur.
Lapisan ini tersusun rapi seperti lipatan besar yang memanjang jauh. Karena batu kapur cukup keras, beberapa lapisannya bisa dilalui hingga jarak kilometer tanpa terputus. Kondisi ini membuat wilayah Zagros sering jadi lokasi studi karena bentuk strukturnya mudah diamati, bahkan dari citra satelit.
Selain lipatan batuan, kawasan ini juga punya fenomena lain yang cukup unik, yaitu kubah garam dan gletser garam. Garam dari dalam bumi terdorong naik akibat tekanan tektonik, lalu membentuk tonjolan atau bahkan mengalir perlahan di permukaan.
Di beberapa titik, aliran garam ini terlihat seperti gletser, hanya saja bukan es. Bentuknya memberi gambaran bahwa tekanan dari dalam bumi masih aktif membentuk permukaan hingga sekarang. Lanskapnya jadi terlihat tidak biasa dan berbeda dari pegunungan pada umumnya.
Di sisi selatan, Semenanjung Musandam di Oman menjadi bagian penting dari bentuk Selat Hormuz. Wilayah ini termasuk dalam rangkaian Pegunungan Al Hajar dan didominasi oleh batuan ophiolite, yaitu material dari dasar samudra yang terangkat ke permukaan. Batuan ini berasal dari samudra Tethys yang sudah lama hilang.
Proses yang sama juga membuat posisi Musandam miring dan menjorok ke arah Iran, sehingga membentuk bagian selat yang sempit seperti sekarang.
Proses geologi tersebut juga berkaitan langsung dengan kekayaan energi di kawasan ini. Sebelum tabrakan terjadi, wilayah lempeng Arab berada di bawah laut dan mengumpulkan material organik yang kemudian berubah menjadi minyak dan gas.
Saat lempeng bertabrakan, lapisan batuan di atasnya menutup dan menjebak cadangan tersebut di dalam bumi. Itulah sebabnya wilayah seperti Iran, Irak, dan sekitarnya memiliki cadangan energi dalam jumlah besar. Skala pembentukannya luas dan berlangsung lama, sehingga menghasilkan ladang minyak yang bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Saat hendak dibawa dan didistribusikan ke bagian lain dari bumi, semua sumber daya itu harus melewati jalur sempit Selat Hormuz. Posisi Semenanjung Musandam membuat jalur ini semakin terjepit.
Menariknya, pergerakan geologi di kawasan ini belum berhenti. Musandam masih perlahan bergerak ke arah utara menuju Pegunungan Zagros. Dalam jangka sangat panjang, pergerakan ini berpotensi membuat selat semakin menyempit. Perubahan itu berlangsung sangat lambat dan diperkirakan akan berdampak dalam jutaan tahun ke depan.
Baca juga: Daftar Tempat Paling Indah di Dunia, dari Alam hingga Kota Megah
Kini semakin jelas, mengapa Selat Hormuz menjadi jalur pelayaran penting. Lanskapnya memang unik, hasil dari proses bumi yang berlangsung sangat lama dan masih terus bergerak.
Perubahan mungkin tetap terjadi, meski dalam skala waktu yang sangat panjang, sementara saat ini selat tersebut tetap menjadi jalur yang sangat krusial bagi pergerakan energi dunia.