Suku Bajo: Sejarah, Keunikan, dan Kehidupan Suku Pengembara Laut di Indonesia

JNEWS – Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan laut. Selama ratusan tahun, laut menjadi ruang tempat mereka mencari penghidupan, berpindah, dan membangun komunitas. Kehidupan masyarakat yang akrab dengan laut ini bahkan ikut menginspirasi penciptaan dunia Metkayina dalam film Avatar: The Way of Water.

Jejak kehidupan maritim itu masih bisa ditemukan di berbagai wilayah pesisir Indonesia, terutama di kawasan Indonesia Timur. Sebagian masyarakatnya kini sudah menetap dan hidup berdampingan dengan kelompok masyarakat lain, tetapi sejumlah tradisi serta pengetahuan tentang laut masih diwariskan antargenerasi.

Asal Usul Suku Bajo

Suku Bajo: Sejarah, Keunikan, dan Kehidupan Suku Pengembara Laut di Indonesia

Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat pelaut yang memiliki hubungan erat dengan kawasan perairan Asia Tenggara. Asal-usulnya masih menjadi perdebatan, tetapi banyak kajian mengaitkan sejarah awal mereka dengan komunitas pelaut Austronesia dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan.

Sejak ratusan tahun lalu, mereka berpindah mengikuti jalur laut dan membangun kehidupan di berbagai wilayah pesisir. Perpindahan masyarakat Bajo diperkirakan berlangsung dalam beberapa gelombang, terutama sekitar abad ke-18 dan ke-19.

Namun, sejarah migrasi mereka tidak berlangsung dalam satu jalur atau satu periode saja. Pergerakan tersebut membuat masyarakat Bajo tersebar hingga Filipina, Sabah di Malaysia, dan sejumlah wilayah Indonesia.

Nama Bajo sendiri memiliki beberapa sebutan lain, seperti Bajau, Badjaw, Sama, dan Same. Istilah Sama bahkan digunakan oleh sebagian masyarakatnya untuk menyebut identitas mereka sendiri.

Dalam perjalanan sejarahnya, kehidupan yang semula sangat nomaden perlahan berubah. Sebagian masyarakat Bajo mulai menetap dan membangun rumah panggung di atas perairan dangkal atau kawasan pesisir.

Meski tidak lagi sepenuhnya hidup berpindah-pindah dengan perahu, ketergantungan terhadap laut tetap kuat. Banyak di antara mereka masih bekerja sebagai nelayan dan penyelam, sekaligus mempertahankan berbagai pengetahuan serta tradisi maritim yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca juga: Mengenal Desa Torosiaje: Keindahan Kampung Laut di Sulawesi

Kehidupan Suku Bajo di Indonesia

Saat ini, masyarakat suku Bajo tersebar di berbagai wilayah Indonesia, terutama di kawasan pesisir Indonesia Timur. Persebarannya antara lain mencakup Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Kepulauan Sapeken di Sumenep, Jawa Timur.

Di Kalimantan Utara, komunitas Bajo dapat ditemukan di Nunukan, Tana Tidung, Tarakan, dan Bulungan. Sementara itu, di Kalimantan Timur, mereka tersebar di sejumlah wilayah seperti Berau, Bontang, dan Balikpapan.

Di kawasan Sulawesi, masyarakat suku Bajo antara lain mendiami Selayar di Sulawesi Selatan dan sejumlah wilayah pesisir Sulawesi Tenggara. Komunitas ini juga bisa ditemui di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Persebarannya berlanjut hingga Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, termasuk Pulau Bungin di Sumbawa serta Pulau Boleng, Seraya, Longos, dan kawasan sekitar Pulau Komodo.

Di Maluku Utara, komunitas Bajo juga ada di Desa Bajau, Kepulauan Sula. Salah satu kawasan dengan populasi suku Bajo yang cukup besar berada di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Pola permukiman suku Bajo tidaklah selalu sama. Sebagian tinggal di rumah panggung yang dibangun di atas laut dangkal, sementara lainnya telah bermukim di wilayah pesisir atau daratan. Kedekatan dengan laut tetap terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama karena banyak masyarakat Bajo masih menggantungkan penghasilan pada kegiatan menangkap ikan dan hasil laut lainnya.

Rumah panggung di atas perairan menjadi salah satu bentuk permukiman yang paling banyak ditemukan. Bangunannya dibuat menyesuaikan kondisi lingkungan laut, dengan tiang-tiang yang menopang rumah di atas air dan material yang relatif mudah diperoleh dari lingkungan sekitar.

Permukiman semacam ini juga memungkinkan masyarakat tetap dekat dengan perahu dan lokasi mereka mencari hasil laut.

Budaya dan Tradisi Suku Bajau yang Unik

Ada beragam budaya dan tradisi suku Bajo yang menarik untuk diikuti. Kebanyakan mencerminkan identitas mereka yang lekat dengan laut. Berikut beberapa di antaranya.

1. Lepa-Lepa

Lepa-lepa merupakan perahu tradisional masyarakat Sama-Bajau. Ketika sebagian masyarakat suku Bajo masih menjalani kehidupan nomaden di laut, lepa tidak sekadar digunakan untuk mencari ikan atau berpindah tempat. Perahu ini juga dapat berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga.

Seiring banyak orang Bajo yang mulai menetap, fungsi lepa lebih banyak bergeser menjadi sarana melaut dan menangkap ikan.

2. Palilibu

Dalam budaya Bajo di kawasan Wakatobi, terdapat istilah palilibu, yaitu kegiatan melaut di sekitar pulau-pulau terdekat dan kembali pada hari yang sama. Hasil tangkapan kemudian dibawa ke daratan untuk dijual.

3. Pongka

Berbeda dengan palilibu, pongka dilakukan secara berkelompok, biasanya sekitar empat hingga enam orang, dan dapat berlangsung setidaknya selama 10 hari. Nelayan tinggal sementara di sekitar lokasi penangkapan ikan dan membangun tempat berteduh sederhana.

4. Sakai dan Lamma

Masyarakat suku Bajo juga mengenal pola melaut dengan jarak yang jauh. Sakai merujuk pada perjalanan menangkap ikan hingga wilayah yang sangat jauh, bahkan dalam catatan mengenai Bajo Sampela mencakup perjalanan lintas wilayah hingga luar negeri. Sementara lamma berkaitan dengan kegiatan merantau untuk mencari ikan dan bekerja sebagai nelayan di daerah lain.

5. Pamali

Pamali adalah berbagai pantangan yang harus dipatuhi ketika melaut. Contohnya seperti larangan membuang benda ke laut atau melakukan tindakan yang dianggap mengganggu keseimbangan alam. Dalam sejumlah komunitas Bajo, pamali tidak sekadar dipercaya sebagai aturan adat, tetapi juga berfungsi mengatur pemanfaatan sumber daya laut.

6. Batatha

Kegiatan melaut suku Bajo juga disertai batatha, yaitu mantra atau doa yang didaraskan secara lisan. Batatha dapat dibacakan sebelum atau sesudah menangkap ikan sebagai bentuk permohonan izin, perlindungan, dan rasa syukur

7. Duata

Duata merupakan salah satu tradisi yang dikenal dalam masyarakat Bajo, khususnya Mantigola. Ritual ini dilakukan ketika ada anggota suku yang mengalami sakit berat dan tidak kunjung sembuh melalui pengobatan biasa. Yang berwenang untuk melaksanakan ritual ini adalah para tetua adat. Perlengkapan ritualnya meliputi beras berwarna-warni, daun sirih, kelapa, pisang, dan lain-lain.

8. Kemampuan Menyelam

Kemampuan menyelam masyarakat Bajo sangat luar biasa. Mereka bisa menyelam bebas dalam waktu yang lama, menangkap ikan, membaca kondisi laut, hingga mengenali lokasi sumber daya laut.

Penelitian menunjukkan bahwa kehidupan sebagai penyelam selama banyak generasi bahkan berkaitan dengan adaptasi fisiologis pada sebagian populasi Bajo. Salah satunya, ternyata mereka umumnya memiliki limpa yang rata-rata lebih besar dibandingkan orang pada umumnya.

Baca juga: Mengenal 7 Suku Terpencil di Dunia yang Masih Hidup dengan Cara Tradisional

Suku Bajo memperlihatkan bahwa laut dapat membentuk cara hidup, pengetahuan, dan budaya sebuah masyarakat selama berabad-abad. Perubahan zaman memang membuat banyak komunitasnya mulai menetap di daratan, tetapi jejak kehidupan maritim masih kuat dalam tradisi, pekerjaan, dan hubungan mereka dengan laut.

Mengenal Suku Bajo berarti melihat bagaimana sebuah kebudayaan terus bertahan sambil mengikuti perubahan kehidupan di sekitarnya.

 

Exit mobile version