Tren Logistik 2026, Pengamat Ekonomi Sebut Hal Ini yang Perlu Dicermati Pelaku Usaha

Tekan Biaya Logistik dan tarif logistik Dengan Ekosistem Pelabuhan

Ilustrasi logistik. Foto: Istimewa

JNEWS – Pengamat Ekonomi Unpad, Wardhana menyebut tren logistik 2026 yang ditandai oleh otomasi, robotika, drone, dan smart warehouse mencerminkan arah transformasi industri menuju sistem yang lebih cerdas dan berbasis data.

Namun, kata dia, bagi pelaku lokal di Indonesia, narasi ini perlu dibaca secara kritis dan kontekstual, baik dari sisi operasional maupun keuangan.

Dari sisi operasional, teknologi seperti Autonomous Mobil Robot (AMR), Warehouse Execution System (WES), dan sistem gudang cerdas terbukti dapat meningkatkan throughput dan akurasi. Tapi keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan proses, kedisiplinan operasional, kualitas data inventori, stabilitas volume, dan standardisasi Stock Keeping Unit (SKU).

“Banyak inisiatif otomasi tidak memberikan hasil optimal karena organisasi belum siap secara proses dan tata kelola, sehingga gudang menjadi sekadar terdigitalisasi, bukan benar-benar cerdas,” ucapnya.

Menurut Wardhana, penggunaan drone dan analitik canggih juga sebaiknya ditempatkan secara proporsional pada kasus tertentu yang bernilai tinggi seperti area terpencil dan inventory audit. Namun belum tentu ekonomis untuk operasi massal.

Dari sisi keuangan, transformasi ini membawa implikasi capex besar, pergeseran struktur biaya dari variabel ke biaya tetap teknologi, risiko underutilization aset, serta ketergantungan vendor dan biaya integrasi yang sering diremehkan.

“Karena itu, keputusan investasi tidak cukup berbasis tren, tapi harus ditopang analisis Return on Investment (ROI), payback period, dan skenario risiko permintaan,” kata Wardhana.

Bagi pelaku lokal, kata dia, pendekatan yang lebih bijak adalah transformasi bertahap berbasis risiko, yakni mulai dari perbaikan data dan WMS, standarisasi proses, pilot project otomasi skala kecil, serta skema pembiayaan fleksibel seperti sewa atau automation-as-a-service.

“Pada gilirannya, adopsi teknologi menjadi langkah strategis yang terukur, bukan sekadar mengikuti gelombang, sehingga meningkatkan daya saing tanpa membebani kinerja operasional dan kesehatan keuangan perusahaan,” kata Wardhana.

Baca juga: 15 Tren E-Commerce yang Harus Kamu Tahu di 2026: Fulfilment, Data, dan Logistik Jadi Penentu

Exit mobile version