JNEWS – Konflik di Timur Tengah membuat harga bahan bakar minyak (BBM) dunia ikut melonjak. Di Indonesia kenaikan harga BBM telah mengungkit sejumlah jenis BBM nonsubsidi (kecuali Pertamax Ron 92 dan Pertamax Green 95) naik, dan masyarakat mulai melakukan antisipasi dini dengan melirik kendaraan listrik sebagai alternatif pendukung mobilisasi.
Di tengah gempuran motor berbahan bakar bensin, motor listrik semakin mencuri perhatian. Pelan namun pasti, motor listrik mulai menjamur di jalan raya. Selain lebih hemat di kantong, motor listrik mendukung ekosistem keberlanjutan yang ramah lingkungan.
“Permintaan terus naik sejak Lebaran, bahkan mencapai dua kali lipat,” buka Yanuar Solikhin, owner Big Bos EV, dealer motor listrik yang berlokasi di Monjali, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Yanuar mengatakan, krisis BBM akibat konflik di Timur Tengah membuat masyarakat mulai berpikir untuk meminang motor listrik. Meski kenaikan harga BBM dalam negeri masih simpang siur, namun banyak masyarakat yang memilih membeli sebelum harga-harga lain ikut melambung.

“BBM kita memang belum naik, tapi kita tidak tahu ke depannya, apakah memang benar-benar aman?” ujar Yanuar yang membuka dealer khusus motor dan sepeda listrik tersebut sejak tahun 2022.
Menjual beberapa motor listrik dari pabrikan Alva dan Maka, Big Bos EV juga menjadi jujugan pengemudi ojek online. Ratusan driver ojol yang mengaspal di Yogyakarta, lanjut Yanuar, kebanyakan mengendarai Alva N3 Next Gen.
“Bahkan unit N3 harus inden dari pabrikan,” ujarnya.
Pengemudi ojol dan masyarakat umum memiliki kelonggaran untuk membeli motor tanpa baterai. Harga OTR Alva N3 Next Gen Rp30.750.000, dapat ditebus hanya Rp 15.750.000 tanpa baterai.
Baca juga: 8 Spot Penukaran Baterai Motor Listrik yang Buka 24 Jam di JNE
Driver ojol bisa berlangganan baterai sewa dengan sistem limit kilometer yang ditetapkan dealer. Biaya tersebut terdiri atas biaya berlangganan per bulan Rp 125 ribu, ditambah dengan limit yang ditetapkan per harinya dari Rp 75 ribu untuk 700-1.800 km/bulan atau max 58-60 km/hari dan Rp 225 ribu untuk lebih dari 1.800 km/bulan atau lebih dari 64 km/hari.
Yanuar mengungkapkan, meski subsidi motor listrik sudah distop oleh pemerintah, namun beberapa pabrikan tetap meneruskan subsidi secara mandiri. Langkah ini bertujuan untuk mengkampanyekan motor ramah lingkungan yang efisien dan efektif untuk mobilisasi harian.
Motor listrik saat ini jauh lebih tangguh. Tidak kalah dengan motor konvensional. Jarak tempuhnya bahkan sudah lebih dari 140 kilometer sekali isi baterai penuh. Fitur-fitur teknologi yang disematkan semakin canggih. Ada mode eco hingga sport dengan kecepatan maksimum hingga 90 km per jam.
“Pabrikan memberikan garansi baterai hingga 3-4 tahun. Baterai tidak lagi mahal, bisa diperbaiki dan dimodifikasi, sehingga tidak perlu ragu lagi jika ingin membeli motor listrik,” ujarnya.
Selain memasok unit EV untuk umum dan ojol, Big Bos EV juga pernah digandeng BUMN hingga kampus untuk mendukung moda operasional perusahaan yang ramah lingkungan.
Menurutnya, komunitas pemilik motor listrik juga semakin bermunculan. Mereka kerap membuat event gathering serta touring dengan motor listrik. Touring jarak jauh hingga Dieng, Wonosobo, atau Pangandaran, Jawa Barat tidak lagi masalah. Bahkan, mereka mendapat atensi khusus dari pihak PLN dengan memberikan dukungan pengisian daya baterai di beberapa rute yang dilewati.
Salah satu pengemudi ojol di Yogya, Suharno memilih menggunakan motor listrik dengan sistem sewa. Menurutnya, biaya operasional motor listrik jauh lebih murah dibanding motor konvensional. Ojol juga bisa mengisi daya gratis di charging station yang sudah berteknologi fast charging.
“Saat ini mampunya baru sewa. Semoga suatu saat bisa kredit, atau beli tunai,” ujarnya.
Setyawan, warga Banguntapan Bantul sudah cukup lama memiliki motor listrik. Motor itu dipakainya untuk kerja di kawasan Mlati Sleman dengan jarak tempuh sekitar 13 km, atau sekitar 26 km pergi pulang. Sekali ngecas baterai dapat menempuh jarak hingga 100 km.
Baca juga: 10 Faktor yang Memengaruhi Konsumsi BBM pada Kendaraan
Selama pemakaian, tidak ada kendala. Baterai juga aman-aman saja. Perawatan seperti pada umumnya motor. Hanya saja tidak perlu ganti oli mesin.
“Biasanya seminggu sekali ngecasnya, bahkan bisa lebih kalo gantian pakai motor biasa. Dulu beli pas ada subsidi dari pemerintah, lumayan bisa dapat harga yang terjangkau, pajak tahunan juga murah dibanding motor BBM bensin,” ucapnya.