Menelusuri Jejak Keagamaan dalam Wisata Religi di Solo

JNEWS – Kota Solo terkenal kaya akan warisan budaya dan spiritualnya. Ada sejumlah destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi di kota dengan julukan Kota Batik ini, salah satunya wisata religi Solo.

Wisata religi bisa diartikan sebagai destinasi wisata yang berhubungan dengan tempat ibadah, sejarah maupun tokoh. Melakukan wisata ini memiliki banyak manfaat baik bagi mental dan spiritualitas. Seperti meningkatkan keimanan, menambah wawasan budaya dan sejarah kota tersebut hingga mengisi kembali energi spiritualitas.

Wisata religi Solo tidak pernah sepi pengunjung yang berasal dari warga setempat, luar daerah hingga mancanegara. Bahkan ketika bulan Ramadan tiba, jumlah pengunjung yang datang melonjak drastis.

Sejumlah destinasi wisata ini memiliki daya tarik seperti latar belakang sejarah, arsitektur bangunan dan pesona budayanya. Apa saja wisata religi yang bisa dikunjungi di Kota Batik? Berikut ulasannya.

Wisata Religi Solo, Menelusuri Jejak Keagamaan dan Mengisi Kembali Energi Spiritualitas

wisata religi solo Masjid Agung Surakarta

1. Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta terletak di alun-alun utara Keraton Kasunanan. Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram dan menjadi salah satu masjid tertua di kota Solo. Pembangunan Masjid Agung Surakarta pada era Paku Buwono III ini memiliki beberapa kriteria seperti Masjid Agung pada umumnya. Mulai dari terletak dekat Keraton sebagai pusat pemerintahaan saat itu dan tempat tinggal raja, pasar sebagai pusat ekonomi dan alun-alun sebagai pusat aktivitas masyarakat setempat.

Gaya arsitektur masjid ini mengusung konsep Jawa Kuno dan Belanda. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan bahan kayu yang mendominasi di beberapa bagian masjid. Keseluruhan bagunan ini berbentuk tajug dengan atap tumpat tiga serta berpuncak mustaka (kubah). Adapun makna tajug bertumpang tiga adalah pokok tuntunan Islam yaitu iman, Islam dan ihsan.

Bagian luar bangunan masjid ada gapura yang bergaya Arab Persia, sedangkan interiornya kental dengan budaya Jawa. Di sisi utara dan selatan gapura, ada pagongan yaitu tempat menyimpan berbagai macam gamelan keraton yang khusus digunakan untuk acara sekaten.

Alamat: Jl. Masjid Agung No.1, Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta.

2. Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Selain Keraton Kasunanan, di Kota Solo terdapat Pura Mangkunegaran. Hadirnya Pura ini adalah hasil dari Perjanjian Giyanti yang menetapkan bahwa Raden Mas Said atau Mangkunegaran I memimpin sebagian wilayah Keraton Kasunanan.

Tidak jauh berbeda dengan keraton, Pura Mangkunegaran pun memiliki Masjid Al Wustho. Masjid ini terletak berseberangan dengan kompleks Pura.

Masjid Al Wustho dibangun oleh Raja Mangkunegaran di awal abad ke-20. Menariknya, masjid ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh masjid lain. Hal ini tercermin dari bagian pagar hingga bagian dalamnya.

Di bagian depan, ada pagar tebal kokoh yang berdiri dengan motif kepala gapura mengelilingi masjid. Bagian pelataran masjid cukup luas dan ditanami pepohonan. Untuk arsitektur dan bangunannya, bisa dikatakan meniru pola dari Masjid Agung Demak yaitu memiliki atap tumpang atau tingkat dan berserambi. Berbagai perlengkapan seperti bedug, mustaka dan kentongan diletakkan di bagian puncak dari atap masjid.

Ciri khas lain yang menonjol dari masjid ini adalah tulisan kaligrafi yang berupa nukilan dari ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. Penyebaran kaligrafi ini bisa dilihat mulai dari depan gapura, tiga sisi gapura, pintu masuk, jendela serta empat sokoguru.

Alamat: Jl. Kartini No.3, Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta.

Baca juga: Menyusuri 3 Pasar Tradisional Solo: Tempat Terbaik Mencari Oleh-Oleh Autentik

3. Masjid Laweyan

Masjid Laweyan juga merupakan masjid tertua di kota Solo yang telah berusia lebih dari empat abad. Bisa dikatakan masjid ini adalah masjid pertama yang ada di kota Solo. Untuk tahun pendiriannya tidak bisa dipastikan karena belum ada prasasti atau bukti autentik yang menunjukkannya. Namun, yang pasti dibangun saat masa kejayaan Kerajaan Pajang, sekitar tahun 1550 M.

Awal mula Masjid Laweyan ini dimulai dari hijrahnya Kiai Ageng Anis dari Selo ke Pajang. Menurut Babad Tanah Jawi, beliau mulai bermukim di Laweyan pada tahun 1540, lalu pendirian masjid ini berlangsung selang beberapa tahun sesudahnya.

Siapa Kiai Ageng Anis?

Kiai Ageng Anis termasuk tokoh yang penting di Kerajaan Mataram. Putranya yakni Ki Ageng Pemanahan adalah pendiri Dinasti Mataram. Sayangnya, entah alasan apa, sejarah ayahnya kurang terungkap.

Secara umum, bentuk dari masjid ini menyerupai Pura, memiliki atap tumpang dan serambi. Namun, uniknya, letak bangunan masjid ini berada sekitar dua meter dari atas tanah. Tak hanya itu saja, ada dua belas pilar utama dari kayu jati kuno yang masih kokoh berdiri. Masjid Laweyan masih ada hingga saat ini dan makam Kiai Ageng Anis berada di depannya.

Alamat: Jl. Liris No1. Pajang Laweyan, Kampung Batik Laweyan, Dusun Belukan, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Surakarta.

Sumber foto: surakarta.go.id

4. Astana Oetara

Tahun 2021, Pemerintah Kota Surakarta menetapkan Astana Oetara sebagai cagar budaya. Namun, apa sebenarnya Astana Oetara?

Astana Oetara merupakan kompleks pemakaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegaran VI beserta keluarganya, kerabat, dan abdi dalem. Makam ini telah ada sejak tahun 1928 saat jenazah Mangkunegaran VI dikebumikan. Konon, disebutkan Ir. Soekarno adalah arsitek dari Astana Oetara.

Di kompleks ini juga terdapat pendopo yang sudah berusia 200 tahun. Jadi, saat melakukan wisata religi Solo, pengunjung juga bisa belajar mengenai sejarah Mangkunegaran IV melalui arsip-arsip serta foto yang masih tersimpan rapi di tempat tersebut.

Selain terdapat kompleks pemakanan, di Astana Oetara juga terdapat pendopo yang sudah berumur 200 tahun. Jadi saat mengunjungi tempat ini, pengunjung tak hanya berwisata religi tetapi juga bisa belajar mengenai sejarah Mangkunegaran VI melalui arsip-arsip serta foto yang sampai sekarang masih tersimpan rapi.

Fasilitas di Astana Oetara cukup memadai. Ada tempat parkir cukup luas, kedai, area piknik, toko cinderamata, masjid, taman, dan toilet.

Sayangnya, tempat ini tidak buka setiap hari. Dikutip dari laman resmi Astana Oetara, kompleks ini dibuka setiap Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Jam operasionalnya pukul 09.00-15.00 WIB, untuk pendaftarannya secara online.

Alamat: Jl. Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta.

5. Masjid Raya Sheikh Zayed

Masjid Raya Sheikh Zayed merupakan wisata religi Solo yang paling banyak dikunjungi setahun belakangan ini. Diresmikan pada bulan Februari 2023, masjid ini menjadi bangunan terbesar dan termegah di kota Solo.

Masjid ini adalah hibab dari Putra Mahkota UEA serta menjadi simbol persahabatan antara negara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA). Bangunan masjid ini merupakan replika dari Syeikh Zayed Grand Mosque yang ada di Abu Dhabi.

Dibangun dengan 82 kubah yang berhiaskan batu alam dan satu kubah utama, membuat masjid ini terlihat menyala dan megah. Di malam hari, pancaran sinar berwarna kebiruan menghiasi masjid ini dan terlihat begitu memesona.

Fasilitas masjid ini lengkap mulai dari area parkir, area wudu serta toilet di bagian bawah yang luas, ada nursing room, perpustakaan hingga ruang VIP. Di salah satu bagiannya, ada sebuah mushaf Al-Qur’an raksasa karya dari Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) yang diberi nama Ir. H. Joko Widodo.

Baca juga: 7 Hotel di Solo dengan Rating Google Tertinggi

Menjelajahi wisata religi Solo tidak cukup sehari, sediakan waktu lebih untuk bisa mengunjungi berbagai destinasi di atas. Namun, pastikan untuk mematuhi peraturan yang ada di tempat tersebut agar tidak mengganggu ketertiban umum.

Exit mobile version