JNEWS – Setiap Ramadan, undangan buka bersama datang hampir bersamaan, dari teman lama sampai teman-teman sekantor. Rasanya ingin hadir di semua acara, sekadar menyapa dan menjaga hubungan. Namun ketika jadwal makin padat, pengeluaran pun ikut bergerak naik tanpa terasa. Sekali dua kali mungkin tidak masalah, tetapi jika terlalu banyak, strategi bukber hemat harus segera dijalankan.
Strategi Bukber Hemat supaya Keuangan Tidak Boncos selama Ramadan
Bagaimanapun, bukber alias buka bersama itu penting juga untuk menjaga silaturahmi, tetapi kondisi keuangan juga tidak bisa diabaikan. Menolak mentah-mentah rasanya tidak enak, menerima semuanya pun belum tentu bijak.
Karena itu, perlu ada cara bukber hemat yang lebih terukur agar baik keuangan maupun hubungan baik tetap seimbang. Berikut beberapa langkahnya.

1. Buat “Anggaran Bukber” sejak Awal Ramadan
Undangan buka bersama biasanya datang bertahap lalu menumpuk di pertengahan bulan. Tanpa perencanaan, pengeluaran bisa terasa tiba-tiba membengkak. Karena itu, sebaiknya sejak awal sudah ditentukan batas dana khusus untuk bukber.
Namanya juga bukber hemat, maka nominalnya juga tidak perlu besar, yang penting realistis dan sesuai kondisi keuangan. Misalnya menetapkan anggaran Rp600.000 untuk satu bulan Ramadan khusus bukber. Jika rata-rata satu kali buka bersama menghabiskan sekitar Rp150.000 termasuk makan dan transportasi, berarti dana tersebut cukup untuk empat kali pertemuan. Kalau bgitu, jika ada undangan kelima, bagaimana? Ya, otomatis harus dipilih mana yang paling prioritas.
Dengan angka riil seperti ini, perhitungan terasa lebih konkret dan mudah dipahami. Tidak lagi sekadar “kira-kira cukup”, tetapi sudah jelas batasnya. Cara sederhana ini membantu menjaga pengeluaran tetap masuk akal tanpa harus menghitung ulang setiap kali ada ajakan baru.
Baca juga: 10 Wisata Kuliner di Bulan Puasa: Lokasi Makan Sahur dan Berbuka yang Terkenal
2. Prioritaskan yang Paling Bermakna
Tidak semua undangan memiliki tingkat urgensi yang sama. Ada pertemuan yang memang penting karena berkaitan dengan keluarga inti atau relasi kerja. Ada pula yang sifatnya lebih santai dan bisa ditunda tanpa dampak berarti.
Menyaring ajakan bukan berarti mengurangi nilai pertemanan. Justru dengan memilih yang paling bermakna, waktu dan biaya bisa digunakan secara lebih bijak. Daripada hadir di banyak acara tetapi terasa terburu-buru, lebih baik fokus pada beberapa yang benar-benar ingin dihadiri. Hubungan tetap terjaga karena kehadiran terasa tulus, bukan sekadar formalitas.
Silaturahmi juga bisa dilakukan lewat pesan pribadi atau panggilan singkat jika tidak memungkinkan hadir langsung. Dengan pola pikir seperti ini, bukber menjadi lebih berkualitas, bukan sekadar rutinitas tahunan.
3. Usulkan Tempat yang Lebih Ramah Kantong
Biaya besar sering kali dipengaruhi oleh pilihan lokasi. Restoran hotel atau konsep all you can eat memang menarik, tetapi tidak selalu sesuai dengan semua kondisi keuangan.
Jika merasa keberatan, tidak ada salahnya mengusulkan tempat yang lebih sederhana untuk bukber hemat. Kafe biasa, warung makan nyaman, atau bahkan rumah salah satu teman bisa menjadi alternatif. Sistem potluck atau berbagi makanan juga bisa mengurangi beban biaya.
Sebenarnya, mungkin saja ada yang sebenarnya punya kondisi yang sama—ingin bukber hemat—tapi tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Jadi, kalau ada pemikiran lain, lebih baik sampaikan saja. Asal sopan, santai, dan wajar, bisa jadi usulan malah lebih diterima.
4. Tetapkan Batas Pesanan Pribadi
Pengeluaran sering bertambah bukan hanya karena harga restoran, tetapi juga karena pilihan menu. Karena terbawa suasana, kita bisa saja jadi tergoda memesan lebih dari kebutuhan. Awalnya hanya satu menu utama, lalu menambah minuman, camilan, atau hidangan penutup. Jika tidak disadari, totalnya bisa jauh lebih besar dari perkiraan.
Sebelum datang, sebaiknya sudah menetapkan batas pribadi. Misalnya cukup satu makanan dan satu minuman tanpa tambahan lain. Sikap disiplin ini membantu menjaga pengeluaran bukber hemat tetap on budget.
5. Gabungkan Jadwal agar Lebih Efisien
Dalam satu bulan Ramadan, bisa saja ada beberapa kelompok pertemanan yang saling mengenal. Jika memungkinkan, menggabungkan beberapa ajakan dalam satu acara dapat menjadi solusi praktis. Daripada menghadiri tiga pertemuan terpisah dengan biaya berbeda, satu acara bersama bisa lebih efisien. Memang diperlukan koordinasi tambahan, tetapi hasilnya lebih hemat waktu dan tenaga.
Selain biaya makan, ada juga pengeluaran transportasi yang perlu diperhitungkan. Dengan jadwal yang diringkas, energi tetap terjaga dan tidak merasa kelelahan.
Ramadan sering kali sudah dipenuhi aktivitas lain, sehingga efisiensi menjadi penting. Cara bukber hemat biaya dan hemat energi seperti ini membantu menjaga keseimbangan antara silaturahmi dan pengaturan keuangan.

6. Jangan Terjebak FOMO
Perasaan FOMO sering muncul ketika melihat unggahan foto bukber di media sosial. Seolah semua orang berkumpul dan hanya diri sendiri yang tidak hadir. Padahal setiap orang memiliki kondisi finansial dan prioritas yang berbeda.
Perlu diingat, bahwa tidak datang ke satu atau dua acara bukan berarti hubungan langsung merenggang. Teman yang dewasa biasanya memahami situasi masing-masing. Memaksakan diri hanya demi terlihat hadir justru bisa menimbulkan beban setelahnya.
Keuangan yang stabil jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Ramadan bukan ajang menghitung jumlah undangan yang dihadiri. Dengan sudut pandang yang lebih jelas, keputusan bisa diambil tanpa tekanan.
8. Siapkan Jawaban yang Tegas tapi Sopan
Menolak ajakan memang tidak selalu mudah. Rasa sungkan sering membuat kita akhirnya tetap datang meski sebenarnya keberatan.
Padahal penolakan yang disampaikan dengan baik tidak akan merusak hubungan. Kalimat sederhana dan singkat sudah cukup. Tidak perlu menjelaskan detail alasan keuangan atau kondisi pribadi. Ucapan terima kasih atas undangan, disertai penjelasan bahwa belum bisa hadir, sudah menunjukkan sikap menghargai.
Jika ingin tetap menjaga kedekatan, bisa menawarkan waktu lain yang lebih memungkinkan. Dengan komunikasi yang jelas, tidak ada kesalahpahaman. Sikap tegas namun sopan justru membantu menjaga batas secara sehat.
Baca juga: 5 Kue Buka Puasa Tanpa Oven: Resep Mudah Tanpa Ribet
Bukber hemat tetap bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan kestabilan keuangan. Dengan perencanaan yang realistis dan keputusan yang sadar, silaturahmi terjaga, pengeluaran pun tetap terkendali.











