Bagaimana Menyikapi Cobaan dan Musibah?

Pengajian rutin 2 bulanan di Kantor Pusat JNE

Dalam menjalani hidup di dunia, semua anak manusia akan mengalami cobaan dan musibah. Semua cobaan dan musibah yang datang sudah ditulis dalam takdir Allah SWT. Apa pun musibah dan cobaan yang datang harus diterima dan dijalani sebagai ujian keimanan dari Yang Maha Kuasa.

Di penghujung 2021, JNE kembali menggelar pengajian rutin dua bulanan, bertempat di ballroom Kantor JNE Pusat Tomang 11, Jumat (17/12/2021). Dalam pengajian tersebut, hadir penceramah, Ustadz Muhammad Subki Al Bughury. Adapun tema yang dibahas mengenai ‘Menyikapi Cobaan dalam Pandangan Agama.’

Ustadz Subki Al Bughury

Karena masih pandemi, pengajian digelar secara offline dan online, dengan dihadiri para Ksatria dan Srikandi dari berbagai kantor cabang JNE di Indonesia. Turut hadir dalam acara, Presiden Direktur JNE M. Feriadi Soeprapto. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu diadakan santunan anak yatim.

Pengajian digelar secara offline maupun online

Dalam tausiyahnya, Ustadz Subki Al Bughury mengungkapkan, merasa bangga dengan JNE sebagai perusahaan yang sudah lama dikenalnya. “Disaat perusahaan lain banyak yang terpuruk karena pandemi Covid-19, tetapi JNE terus maju dan berkembang. Meski demikian JNE selalu tawaddu (rendah hati) dan bersyukur, serta menganggap bahwa keberhasilannya bukan karena dirinya semata tetapi atas pemberian Allah SWT,” ujar sang ustadz.

Selain tawaddu, JNE juga dinilai selalu bersyukur. Cara bersyukur diimplementasikan dengan berbagi, memberi dan menyantuni para anak yatim, kuam dhuafa, fakir miskin dan juga bantuan-bantuan kemanusiaan lainnya seperti bantuan kepada para korban bencana alam.

Presiden Direktur JNE M. Feriadi memberikan santunan kepada anak yatim

Menurut ustadz yang pernah beberapa kali memberikan tausiyah dalam pengajian maupun acara keagamaan lainnya di JNE ini, contoh nyata cobaan dari Allah pernah menimpa sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Umar bin Khattab. Di mana kala itu Umar dikabari bahwa Nabi Muhammad SAW yang sangat dicintainya wafat. Namun Umar marah dan tidak mempercayai kabar tersebut.

Namun kemudian Abu Bakar, sahabat yang lebih senior menemuinya dan memberi tahu bahwa Nabi Muhammad telah wafat. Baru setelah itu Sayyidina Umar percaya dan menerima cobaan yang dianggap paling berat dalam hidupnya itu.

Menyikapi cobaan yang datang, umat Muslim harus berpedoman pada kitab suci Al Quran dan juga hadist nabi. Di mana dalam Al Quran sendiri ada beberapa ayat, seperti dalam surat Al Baqarah yang mempunyai makna bahwa cobaan harus disikapi dengan tadabbur dengan tujuan agar bisa mengambil hikmahnya.

“Cobaan pernah menimpa para nabi dan rasul Allah. Jadi siapa pun manusia akan mendapat cobaan dan musibah. Misalnya, baru-baru ini terjadi musibah bencana letusan gunung, banjir bandang maupun gempa bumi. Semua bencana yang terjadi harus di-tadabburi, agar bisa mengambil hikmah dari bencana yang terjadi tersebut, agar keimanan kita semakin bertambah,” ungkap Ustadz Subki.

Ia melanjutkan, ketakutan, kelaparan dan merasa kekurangan harta yang akan menimpa anak Adam sudah dikabarkan oleh Allah SWT dalam Al Quran. Bagaimana kita menyikapinya? Selain harus di-tadabburi juga harus dihadapi dengan kesabaran dan tawakal, karena di setiap musibah atau cobaan yang datang maka akan timbul kebaikan.

“Pandemi Covid-19 datang, banyak PHK di mana-mana. Tetapi di balik pandemi juga banyak inovasi dan perbaikan, seperti yang dilakukan oleh JNE dan semua itu kuncinya adalah tawakal,” tutur Ustadz Subki.

“Musibah bisa jadi untuk meningkatkan derajat keimanan. Untuk itu ketika kita terkena cobaan atau musibah harus introspeksi diri. Menghadapi musibah harus sabar, termasuk sabar dalam ketaatan, sabar dalam meninggalkan maksiat dan sabar dalam menerima takdir dan cobaan,” pungkas Ustadz Subki. *

Baca juga : JNE Jadi Ekspedisi Pertama Pengiriman Barang Kargo dari BIJB Kertajati

Exit mobile version