JNEWS – Banua Wuhu berada di perairan sebelah barat Pulau Mahengetang, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Gunung api ini berbeda dengan gunung api pada umumnya, karena berlokasi di bawah laut dan tingginya menjulang lebih dari 400 meter dari dasar laut.
Dari atas, kawasan ini mungkin tampak seperti perairan biasa. Namun, di bawah permukaannya terdapat aktivitas geologi yang masih bisa diamati melalui gelembung gas, air hangat, serta suara yang muncul dari dasar laut.
Lokasi ini menjadi salah satu bagian menarik dari lanskap vulkanik Kepulauan Sangihe. Aktivitas gunung api di bawah laut membuat kondisi perairan di sekitarnya punya karakter tersendiri.
Sejarah Vulkanik Banua Wuhu

Catatan erupsi Banua Wuhu mulai muncul pada 1835. Aktivitas pada 23–26 April tahun tersebut menghasilkan aliran lava dari pusat kawah dan membentuk sebuah pulau baru.
Pulau sementara itu mencapai ketinggian sekitar 90 meter. Namun, bentuk daratan tersebut tidak bertahan lama. Pada 1848, pulau itu telah terkikis hingga hanya menyisakan beberapa batu.
Aktivitas vulkanik kembali tercatat pada September 1889. Erupsi tersebut menghasilkan pulau baru yang kemudian mencapai ketinggian sekitar 50 meter pada 1894. Aktivitas vulkaniknya berlanjut sampai 1895. Setelah itu, bentuk daratan yang muncul dari laut kembali mengalami perubahan akibat proses erosi.
Pada 1904, erupsi kembali terjadi dan lima kawah dilaporkan terbentuk. Aktivitas berikutnya berlangsung pada 1918 dan 1919. Erupsi pada periode tersebut menghasilkan sebuah pulau sementara. Catatan sejarah menyebut pulau itu memiliki panjang sekitar 70 meter dan tinggi sekitar 12 meter. Daratan tersebut akhirnya menghilang pada 1935.
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana gunung api bawah laut dapat membangun daratan baru dalam waktu tertentu. Material vulkanik yang keluar dari bawah laut menumpuk hingga mencapai permukaan. Ketika suplai material berhenti dan gelombang laut terus mengikisnya, pulau yang terbentuk perlahan menyusut.
Jejak aktivitas itu kini berada kembali di bawah laut. Puncak kerucut vulkaniknya berada sangat dangkal, sementara struktur gunungnya sendiri menjulang ratusan meter dari dasar laut. Kondisi tersebut membuat kawasan sekitar Mahengetang memiliki karakter bawah laut yang kuat dipengaruhi aktivitas vulkanik.
Baca juga: Pulau Lihaga: Surga Kecil Berpasir Putih di Sulawesi Utara
Daya Tarik dan Karakteristik Unik Banua Wuhu
Keunikan Banua Wuhu tidak berhenti pada kisah pulau yang pernah muncul lalu tenggelam kembali. Kawasan bawah lautnya memperlihatkan aktivitas geologi yang masih bisa diamati penyelam, mulai dari gelembung gas, air hangat, suara dari bawah laut, sampai kehidupan laut yang berkembang di sekitar batuan vulkanik. Lokasi ini juga menjadi salah satu tujuan penyelaman di Kepulauan Sangihe.
1. Gelembung Gas dari Dasar Laut
Salah satu pemandangan yang paling mudah menarik perhatian penyelam berupa gelembung gas yang keluar dari sela-sela batuan di dasar laut. Gelembung tersebut muncul akibat aktivitas hidrotermal dan vulkanik di bawah permukaan.
Ketika dilihat dari atas kapal, aktivitas itu dapat tampak seperti permukaan air yang terus beriak pada satu area. Kalau dilihat dari bawah air, gelembung terlihat naik melewati batuan vulkanik sebelum pecah di dekat permukaan.
Sumber ilmiah Smithsonian Global Volcanism Program mencatat adanya laporan penyelam mengenai gelembung dan bau sulfur di kawasan ini. Citra satelit juga kerap menunjukkan perubahan warna air pada area sekitar gunung api.
2. Suhu Air yang Hangat
Aktivitas vulkanik juga memengaruhi kondisi air di sekitar dasar laut. Beberapa bagian kawasan Banua Wuhu memiliki air yang lebih hangat akibat keluarnya fluida panas dari bawah permukaan.
Perbedaan suhu dapat ditemukan ketika penyelam bergerak mendekati area sumber gelembung. Air laut di sekitarnya tetap dipengaruhi kondisi perairan terbuka, sehingga sensasi hangat muncul terutama pada titik-titik tertentu.
Fenomena ini berkaitan dengan sistem hidrotermal. Air laut yang masuk ke celah batuan dapat dipanaskan oleh sumber panas di bawah dasar laut, lalu keluar kembali melalui rekahan.
3. Suara Gemuruh Bawah Laut
Aktivitas vulkanik tidak hanya bisa dilihat secara langsung. Suaranya juga dapat didengar jika kita mendekati area ini.
Catatan sejarah erupsi 1918 menyebut adanya suara hebat yang terdengar bersamaan dengan bau belerang kuat. Peristiwa itu juga dilaporkan menyebabkan sejumlah ikan mati di perairan sekitar lokasi.
4. Kehidupan Bawah Laut
Kawasan di sekitar Banua Wuhu, dan umumnya di Kepulauan Sangihe, memiliki kekayaan ekosistem laut dengan terumbu karang dan beragam jenis ikan. Saat menyelam, keberadaan ikan dan organisme laut dapat diamati di sekitar formasi batuan.
5. Spot Menyelam
Banua Wuhu merupakan salah satu spot penyelaman yang populer di sekitar Pulau Mahengetang. Kedalamannya yang relatif dangkal di bagian puncak membuat aktivitas vulkanik bawah laut dapat diamati dari dekat.
Penyelaman di lokasi tersebut memberi kesempatan untuk melihat langsung jejak aktivitas gunung api yang masih berada di bawah permukaan. Pemandangan bawah lautnya juga tidak hanya berupa batuan. Ikan dan biota laut hidup di sekitar formasi vulkanik, sehingga penyelaman memadukan unsur geologi dengan kehidupan laut dalam satu kawasan.
Baca juga: Mengenal Gunung Anak Krakatau, Gunung Api yang Tumbuh dari Laut
Banua Wuhu memperlihatkan sisi lain Kepulauan Sangihe yang tidak bisa dilihat dari daratan. Gunung api yang pernah membangun pulau lalu kehilangan bentuknya itu kini meninggalkan jejak di bawah laut berupa gelembung gas, air hangat, batuan vulkanik, serta ekosistem laut yang hidup di sekitarnya.