Candi Muaro Jambi: Fakta Menarik tentang Kompleks Candi Terluas di Asia Tenggara

JNEWS – Candi Muaro Jambi merupakan kompleks percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara dengan luas nyaris mencapai 4.000 hektare. Situs ini diyakini sebagai peninggalan penting dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

Lokasinya berada di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, tepat di tepian Sungai Batanghari, sekitar 26 kilometer ke arah timur dari Kota Jambi. Kawasan purbakala ini membentang memanjang dari barat ke timur mengikuti aliran Sungai Batanghari sepanjang kurang lebih 7,5 kilometer.

Candi Muaro Jambi tidak hanya menjadi kompleks candi terbesar di Pulau Sumatra, tetapi juga termasuk yang paling terawat hingga saat ini. Keberadaannya menyimpan nilai sejarah dan budaya yang tinggi, sekaligus menjadi salah satu bukti penting perkembangan peradaban Hindu-Buddha di Indonesia.

Jejak Kejayaan: Saat Candi Muaro Jambi Menjadi Pusat Ilmu Asia

Candi Muaro Jambi: Fakta Menarik tentang Kompleks Candi Terluas di Asia Tenggara

Secara historis, Kerajaan Melayu dan Kerajaan Sriwijaya dikenal memiliki pengaruh yang luas. Tidak hanya di wilayah Nusantara, tetapi juga menjangkau daratan Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, hingga Filipina. Keduanya memainkan peran penting dalam dinamika politik dan ekonomi internasional pada masanya.

Pada masa keemasannya, Candi Muaro Jambi bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga berfungsi sebagai pusat pendidikan besar. Banyak yang menyebutnya sebagai universitas kuno, setara dengan Universitas Nalanda di India. Di tempat ini, para pelajar dari berbagai wilayah Asia datang untuk menimba ilmu. Bidang yang dipelajari cukup luas, meliputi filsafat, bahasa, kesenian, ilmu pengobatan, hingga arsitektur.

Di samping itu, hubungan internasional kawasan ini juga tercatat cukup kuat. Salah satu tokoh besar Buddha dari India, Atisha Dipankara, diketahui pernah belajar di sini selama kurang lebih 12 tahun sebelum melanjutkan perjalanannya ke Tibet untuk menyebarkan ajaran Buddha.

Selain sebagai pusat pendidikan, lokasi Candi Muaro Jambi yang berada di tepian Sungai Batanghari menjadikannya titik strategis dalam jalur perdagangan internasional. Sungai ini menjadi penghubung penting antara India dan Tiongkok, sehingga kawasan ini juga berkembang sebagai pusat ekonomi yang aktif.

Setelah masa kejayaannya berakhir, wilayah ini sempat terlupakan dan tertutup hutan lebat selama berabad-abad. Keberadaannya kembali diketahui pada tahun 1824 oleh seorang perwira militer Inggris, S.C. Crooke, saat melakukan pemetaan wilayah sungai. Penemuan ini kemudian membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut.

Upaya pemugaran secara serius baru dimulai pada tahun 1975 oleh pemerintah Indonesia, dengan keterlibatan arkeolog terkemuka seperti R. Soekmono. Proses ini berlangsung bertahap untuk mengembalikan struktur candi sekaligus menjaga keasliannya.

Saat ini, Candi Muaro Jambi telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dan menjadi salah satu situs penting dalam sejarah Indonesia. Bahkan, kawasan ini telah masuk dalam daftar sementara Warisan Dunia oleh UNESCO sejak tahun 2009.

Baca juga: Panduan Wisata Jambi: Tempat-Tempat Menarik untuk Liburan Seru

Tidak Hanya Candi: Kanal, Artefak, dan Sistem Tata Ruang Kuno

Berbeda dengan candi-candi di Jawa yang umumnya menggunakan batu andesit, Candi Muaro Jambi dibangun dari bata merah tanpa hiasan relief pada dindingnya. Karakter ini membuat tampilannya terlihat lebih simpel, tetapi menegaskan kekhasan gaya arsitektur Sumatra pada masa itu.

Kompleks percandian ini berdiri di atas tanggul alam kuno di sepanjang Sungai Batanghari. Dari keseluruhan area yang ribuan hektare tersebut, sekitar 260 hektarenya merupakan zona inti percandian yang menyimpan banyak struktur penting. Di dalamnya terdapat sekitar 110 bangunan candi, meski sebagian besar masih berupa gundukan tanah yang dikenal sebagai menapo dan belum sepenuhnya digali.

Uniknya, selain bangunan bercorak Buddha, kompleks ini juga memuat beberapa peninggalan yang berkaitan dengan ajaran Hindu, menunjukkan adanya perpaduan kepercayaan dalam satu kawasan. Keberadaan menapo yang masih tersebar menandakan bahwa potensi situs ini sebenarnya jauh lebih besar dari yang sudah terlihat saat ini. Sebagian dari gundukan tersebut bahkan masih berada di lahan milik warga setempat, sehingga penelitian dan pelestariannya membutuhkan pendekatan yang hati-hati.

Candi-candi yang telah dipugar dan dapat dikunjungi wisatawan di kompleks ini antara lain Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, dan Candi Gedong 2, serta kawasan kolam Talaga Rajo.

Tidak hanya candi, kawasan ini juga dilengkapi dengan infrastruktur kuno seperti parit atau kanal buatan, kolam penampungan air, serta struktur bata yang tertimbun di dalam tanah. Temuan ini memperlihatkan bahwa meski dibangun di zaman kuno, kawasan Muaro Jambi dirancang dengan sistem tata ruang yang cukup maju.

Berbagai artefak penting juga telah ditemukan, seperti arca Prajnaparamita, Dwarapala, hingga Gajahsimha. Ada pula benda lain seperti gong perunggu bertulisan Tionghoa, mantra Buddhis pada kertas emas, keramik asing, tembikar, serta mata uang dari Tiongkok. Ragam temuan ini menunjukkan luasnya jaringan interaksi budaya dan perdagangan yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

Menariknya, selain struktur candi dan artefak, ditemukan pula bukit buatan manusia yang dikenal sebagai Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak. Keberadaan bukit buatan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Muaro Jambi tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan, tetapi juga memiliki tata ruang yang kompleks dengan fungsi simbolik maupun praktis.

Tip Berkunjung dan Informasi Tiket Candi Muaro Jambi

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Candi Muaro Jambi adalah saat musim panas, terutama di pagi atau sore hari. Pencahayaan alami di waktu-waktu tersebut membuat pemandangan terlihat lebih indah.

Candi Muaro Jambi buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung dikenakan tiket dengan harga yang cukup terjangkau, yakni Rp9.000 untuk dewasa dan Rp6.000 untuk anak-anak. Harga tiket ini bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai kebijakan pengelola.

Karena area kompleks sangat luas, tersedia juga beberapa pilihan transportasi bagi yang tidak ingin berjalan kaki. Pengunjung bisa menyewa becak motor, sepeda, maupun motor listrik untuk berkeliling kawasan candi dengan lebih praktis.

Baca juga: Candi Muara Takus: Warisan Budaya dari Masa Kejayaan Sriwijaya

Candi Muaro Jambi bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang yang menyimpan jejak panjang peradaban yang pernah berpengaruh di Asia. Karena itu, candi ini sangat layak dijaga sebagai warisan sejarah, sekaligus sebagai pengingat bahwa Indonesia pernah menjadi bagian penting dalam peta peradaban dunia.

Exit mobile version