JNEWS – Tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan, ada candi Buddha yang berdiri kokoh dan anggun selama berabad-abad lamanya, Candi Sojiwan. Penemuan candi ini menunjukkan bahwa di masa lampau, umat Hindu dan Buddha hidup berdampingan.
Bentuk arsitektur candi ini seperti candi Buddha pada umumnya. Namun, yang menjadi magnet dari candi ini adalah relief yang ada di bawah kaki candi. Relief-relief tersebut menunjukkan kepiawaian orang-orang di masa lampau dalam menuangkan ragam kisah moral dalam ajaran agama Buddha.
Jejak Sejarah Candi Sojiwan
Kerajaan Mataram Kuno banyak meninggalkan artefak bersejarah yang menarik, salah satunya adalah Candi Sojiwan. Diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-9 sampai awal abad ke-10 Masehi.
Nama Sojiwan, dikaitkan dengan nama dari Rakryan Sanjiwana yang disebut di dalam Prasasti Rukam. Adapun Prasasti Rukam bertarikh 829 Saka (907 M) ditemukan di Temanggung, Jawa Tengah. Dalam prasasti tersebut menyebutkan tentang upacara peresmian perbaikan Desa Rukam yang hancur akibat letusan gunung berapi. Upacara tersebut dilakukan oleh Nini Haji Rakryan Sanjiwana.
Warga Desa Rukam pun diberi kewajiban untuk memelihara bangunan suci di Limwung. Para ahli arkeolog menduga bahwa bangunan suci tersebut adalah Candi Sojiwan dan tokoh pelindung yang disebutkan dalam prasasti tersebut yakni Nini Haji Rakryan Sanjiwana adalah Ratu Pramodhawardhani.
Ratu Pramodhawardhani merupakan permaisuri Rakai Pikatan yang memerintah Mataram Kuno di masa pertengahan abad ke-9. Di masa tersebut, candi dinamai menurut nama ratu tersebut dan dipercaya sebagai candi perdharmaannya.
Candi Sojiwan sempat mengalami kerusakan yang cukup parah seperti candi lainnya akibat faktor alam seperti gempa bumi. Candi ini pun tertimbun dan dilupakan.
Ratusan tahun berlalu, tepatnya di tahun 1813, Kolonel Colin Mackenzie, seorang utusan Raffles, melaporkan penemuan Candi Sojiwan. Kala itu, Colin tengah mendata informasi terkait artefak purbakala di Jawa dan meneliti peninggalan-peninggalan kuno di sekitar daerah Prambanan. Di sinilah kemudian Colin menemukan sisa-sisa tembok yang mengelilingi candi ini.
Dalam laporannya, Colin mengungkap penemuan dua arca dwarapala, 16 relief cerita binatang, candi utama, prasasti dengan huruf devanagari atau aksara India yang digunakan dalam menulis bahasa Sanskerta.
Langkah pemugaran candi ini dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta mulai tahun 1990-an dan selesai di tahun 2011. Memang cukup lama karena harus melalui proses penelitian dari arkeolog terlebih dahulu, lalu rekonstruksi batu-batu yang hilang dan rusak.
Baca juga: Menelusuri Candi Prambanan dan Candi-Candi di Sekitarnya
Arsitektur dan Relief Candi Sojiwan yang Sarat Pesan Moral

Arsitektur candi khas Buddha sangat terlihat jelas pada Candi Sojiwan, yaitu struktur bertingkat dengan stupa di puncaknya. Hal serupa juga bisa dilihat di struktur bangunan Candi Borobudur. Adapun stupa di puncaknya mengacu pada bentuk mandala, lambang kosmologi Buddha. Kendati demikian, unsur khas nusantara pun terukir dalam bentuk ornamen yang menambah keunikan dan kekayaan desain candi.
Selain stupa, arsitektur khas gaya Jawa Tengah abad ke-9 bisa dilihat di bangunan candi ini. Ada tiga bagian candi yaitu atap, tubuh, dan kaki.
Bagian tubuh candi aslinya penuh ukiran sulur-sulur. Sayangnya, karena banyak batu yang hilang sehingga dipasang batu polos, jadi tampilan ukirannya pun tidak utuh lagi. Di bagian ruangan bilik hanya ada relung dan singgasana. Diperkirakan saat awal berdirinya candi, ruangan tersebut menyimpan arca Buddha atau Bodhisattva, tapi kini sudah hilang.
Atap candi bersusun tiga bertingkat-tingkat. Di tingkatan-tingkatan ini, terdapat jajaran stupa-stupa. Dan di bagian puncak candi, ādimahkotaiā dengan stupa yang besar.
Di kaki candi, terdapat ukiran relief-relief yang menggambarkan beragam kisah fabel atau yang berhubungan dengan cerita Pancatantra atau Jataka dari India. Kisah-kisah tersebut mengandung ajaran moral dan bisa menjadi bahan renungan tentang kehidupan agar manusia bisa menjadi bijaksana.
Menurut keterangan yang ada di akun Instagram resmi Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Klaten, total ada 20 relief yang mengelilingi kaki candi. Namun, hingga saat ini, hanya tersisa 19 relief saja. Keseluruhan relief tersebut merupakan kisah keagamaan Buddha yang memiliki makna kebijaksanaan dan bisa dijadikan teladan kehidupan. Berikut ini 12 cerita relief yang populer dan menarik untuk diketahui.
- Relief Dua Ekor Angsa Menerbangkan Kura-Kura, relief ini memiliki makna bahwa sudah sepatutnya mengindahkan peraturan yang ada sehingga hal buruk tidak akan menimpa.
- Relief Seorang Prajurit dan Pedagang, kisah tentang punggawa yang memiliki dua sahabat yakni prajurit dan pedagang. Kisah ini melambangkan kesetiaan dan tolong-menolong dalam hubungan persahabatan.
- Relief Buaya dan Kera, cerita fabel dalam relief ini memiliki makna bahwa bahaya bisa dihindari dengan kecerdikan akal budi.
- Relief Perlombaan antara Garuda dan Kura-Kura, relief ini mengandung makna bahwa ujaran terkait kecerdikan bisa mengalahkan kekuatan.
- Relief Gajah dan Setangkai Kayu, makna dari relief ini adalah persatuan sangat penting dalam mengalahkan kekuatan.
- Relief Perkelahian Banteng dan Singa, dari relief ini tersirat pesan bahwa sepatutnya tidak mudah percaya dengan fitnah karena akan berakibat buruk.
- Relief Seorang Wanita dan Seekor Serigala, dari relief tersebut memiliki makna untuk selalu bersyukur dan jangan mudah tertipu oleh pujian.
- Relief Ketam Membalas Budi, relief ini memiliki makna bahwa perbuatan baik yang dilakukan akan mendatangkan keselamatan dan dalam hidup sebaiknya selalu tolong-menolong.
- Relief Pemburu dan Serigala, dalam relief ini memberikan pesan sepatutnya selalu waspada dengan setiap tindakan dan sebaiknya tidak berambisi berlebihan karena akan mendatangkan sengsara.
- Relief Seekor Burung Berkepala Dua, dari kisah seekor burung bernama Bharanda ini, mengajarkan bahwa tidak boleh serakah dan sebaiknya harus bisa berbagi.
- Relief Kambing dan Gajah, relief ini memiliki pesan moral bahwa apabila tersesat, jangan sungkan minta tolong. Dan memberikan pertolongan pun akan mendatangkan kebaikan.
- Relief Lembu Jantan dan Serigala, relief ini memiliki maka bahwa segala keinginan bisa diwujudkan sesuai dengan kemampuan dan harus ada tindakan yang tepat.
Keseluruhan cerita fabel di atas, bisa menjadi pengingat bagi kita bagaimana bertindak dalam kehidupan. Bahwa kebaikan-kebaikan akan selalu menemukan jalannya dan membantu kita untuk lebih bijaksana.
Panduan Berwisata ke Candi Sojiwan

Kompleks Candi Sojiwan memiliki luas 8.140 meter persegi dengan bangunan utama berukuran 401,3 meter persegi dan tinggi 27 meter. Selain memiliki keindahan struktur dan reliefnya, candi ini pun dikelilingi panorama alam yang asri dan sejuk.
Di sekitar kompleks candi terbentang hamparan sawah hijau yang memberikan suasana menenangkan, damai, dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Dengan kondisi tersebut, Candi Sojiwan adalah pilihan tepat untuk liburan edukatif bersama keluarga.
Candi ini terletak di Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Tidak sulit menemukan candi ini dan bisa dijangkau dari berbagai arah, baik dari Solo dan Yogyakarta.
Apabila berada di kawasan Candi Prambanan, cukup menempuh perjalanan singkat untuk mencapai candi ini. Karena jarak yang tidak jauh, pengunjung bisa menggabungkan kunjungan antara Candi Prambanan dan Candi Sojiwan dalam satu perjalanan.
Adapun harga tiket masuk candi sangat terjangkau sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000 per orang. Tidak perlu khawatir yang datang dengan kendaraan pribadi atau bus, karena tersedia area parkir cukup luas.
Sedikit tip berkunjung ke Candi Sojiwan, wajib mengenakan pakaian yang sopan karena tempat ini memiliki nilai religi. Selain itu, agar lebih memahami tentang candi Buddha ini, sebaiknya menyewa pemandu lokal yang ada di sekitar area candi.
Baca juga: 20 Tempat Wisata di Klaten dari Alam hingga Buatan
Candi Sojiwan adalah bukti autentik bahwa di masa Mataram Kuno dengan dua kepemimpinan dinasti besar, umat Hindu dan Buddha hidup dalam harmonis. Di candi ini, ajaran-ajaran Buddha tentang kebijaksanaan dalam kehidupan sangat kental melalui belasan relief yang tersisa.












