JNEWS – Promosi lewat media sosial sekarang memberi UMKM banyak pilihan untuk mengenalkan produk. Salah satunya dengan cara kerja sama dengan influencer. Cara ini paling pas dilakukan kalau UMKM ingin menjangkau calon pelanggan yang sudah berkumpul dalam komunitas atau niche tertentu.
Influencer tidak selalu harus punya jutaan pengikut. Kreator dengan audiens yang lebih kecil pun bisa memberi dampak besar jika pengikutnya memang sesuai dengan target pasar produk.
Meski begitu, membayar influencer bukan jaminan pasti penjualan akan langsung melonjak begitu saja. Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan sebelum memilih kreator, mulai dari karakter audiens, gaya konten, bentuk promosi, sampai cara mengukur hasilnya.
Dengan perencanaan yang rapi, biaya promosi bisa digunakan secara lebih terarah dan konten yang dibuat influencer juga punya peluang lebih besar untuk menarik calon pembeli.
Panduan Kerja Sama dengan Influencer untuk UMKM agar Promosi Lebih Tepat Sasaran

Bagi UMKM yang baru ingin mencoba, strategi kerja sama dengan influencer ini sebaiknya dimulai dari tujuan promosi, bukan hanya sekadar jumlah followers. Tentukan dulu apa yang ingin dicapai, kemudian cari kreator yang punya hubungan kuat dengan target pasar.
Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.
1. Tentukan Tujuan Promosi Sejak Awal
Sebelum menghubungi influencer, tentukan dulu hasil seperti apa yang ingin didapat. Tujuan promosi bisa berupa meningkatkan jumlah orang yang mengenal merek, memperkenalkan produk baru, mendatangkan kunjungan ke marketplace, memperoleh pesanan, atau membangun akun media sosial agar memiliki lebih banyak pengikut.
Tujuan ini akan memengaruhi bentuk kampanye. Jika targetnya meningkatkan awareness, konten video pendek yang memperkenalkan produk bisa menjadi pilihan. Kalau targetnya penjualan, kode promo, tautan pembelian, atau program affiliate dapat digunakan supaya hasilnya lebih mudah dilacak.
Penentuan tujuan juga membantu UMKM menghindari pengeluaran yang kurang terarah. Tanpa target, performa kampanye akan sulit dinilai karena tidak ada patokan untuk menentukan apakah biaya yang dikeluarkan sepadan dengan hasil yang diperoleh.
Baca juga: Peran Jenis Iklan Influencer dalam Membangun Brand Awareness UMKM
2. Cari Influencer Berdasarkan Audiens, Bukan Sekadar Jumlah Followers
Jumlah followers memang menarik untuk dilihat, tetapi angka tersebut belum cukup untuk menentukan apakah seorang influencer cocok untuk sebuah produk. Perhatikan siapa yang mengikuti akun tersebut, jenis konten yang dibuat, lokasi audiens, rentang usia, serta topik yang sering mendapat respons.
Dalam kerja sama dengan influencer, kecocokan antara produk, kreator, dan audiens menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian.
Misalnya, UMKM yang menjual produk makanan sehat belum tentu memperoleh hasil bagus dari influencer dengan followers besar tetapi mayoritas kontennya berfokus pada otomotif. Kreator dengan followers lebih sedikit namun memiliki audiens yang memang tertarik pada gaya hidup sehat bisa menghasilkan respons yang lebih baik. Lihat pula komentar pada konten sebelumnya. Dari sana, UMKM dapat mengetahui apakah audiens benar-benar aktif atau hanya sekadar memberikan tanda suka.
3. Pilih Bentuk Konten yang Sesuai dengan Produk
Setiap produk membutuhkan cara penyampaian yang berbeda. Produk makanan, misalnya, bisa diperkenalkan lewat video mencicipi atau proses pembuatan. Produk fashion dapat ditampilkan melalui mix and match. Sementara produk perawatan rumah bisa diperlihatkan melalui video penggunaan sebelum dan sesudah.
UMKM juga perlu memberi ruang bagi influencer untuk menggunakan gaya komunikasi mereka sendiri. Kreator biasanya sudah memahami karakter audiensnya. Jika seluruh isi konten dibuat terlalu kaku seperti iklan, hasilnya bisa terlihat kurang natural dan penonton malah jadi skip kontennya.
Brief tetap diperlukan, tetapi isinya cukup mencakup informasi inti seperti keunggulan produk, harga, promo, akun yang harus ditandai, tautan pembelian, serta hal-hal yang perlu dihindari. Selebihnya, biarkan kreator mengemas pesan dengan gaya mereka masing-masing.
4. Buat Kesepakatan yang Jelas Sebelum Konten Dibuat
Masalah dalam kerja sama promosi sering muncul karena kedua pihak memiliki pemahaman berbeda mengenai hasil yang diharapkan. Karena itu, semua detail sebaiknya disepakati sejak awal.
Beberapa hal yang perlu disepakati di awal antara lain jumlah konten, jenis konten, jadwal unggah, durasi tayang, biaya, produk yang dikirim (jika ada), mekanisme pembayaran, revisi, penggunaan ulang konten, serta laporan performa.
Jika UMKM ingin menggunakan video influencer untuk iklan berbayar, misalnya, hal tersebut juga perlu disampaikan sejak awal. Hak penggunaan konten dapat memiliki ketentuan dan biaya tambahan.
Dalam kerja sama dengan influencer, kesepakatan tertulis membantu kedua pihak mengetahui tanggung jawab masing-masing. Tidak perlu rumit, dokumen singkat yang mencantumkan poin-poin utama pun sudah jauh lebih aman dibanding hanya mengandalkan percakapan lewat chat.

5. Siapkan Penawaran yang Menarik bagi Audiens
Promosi influencer akan lebih mudah menghasilkan tindakan jika calon pelanggan mendapat alasan untuk mencoba produk. UMKM dapat memberikan kode diskon khusus, gratis ongkir, bonus produk, bundling, atau penawaran terbatas.
Kode promo juga punya fungsi lain karena bisa membantu UMKM mengetahui penjualan yang datang dari masing-masing influencer. Misalnya, satu kreator menggunakan kode INFLUENCERA, sementara kreator lain menggunakan INFLUENCERB. Setelah kampanye selesai, jumlah penggunaan setiap kode dapat dibandingkan.
Cara ini membuat kerja sama dengan influencer tidak berhenti pada jumlah views atau likes. UMKM bisa melihat apakah konten tersebut benar-benar menghasilkan kunjungan, pertanyaan, leads, atau transaksi.
6. Ukur Hasil Kerja Sama dengan Metrik yang Sesuai
Jangan menilai kampanye hanya berdasarkan jumlah followers influencer. Ada banyak angka lain yang bisa digunakan untuk melihat performa, seperti views, reach, engagement, klik tautan, jumlah penggunaan kode promo, pertambahan followers, sampai penjualan.
Contohnya, sebuah konten memperoleh 50.000 views tetapi hanya menghasilkan dua transaksi. Sementara konten lain hanya mendapat 10.000 views tetapi menghasilkan 30 transaksi. Jika tujuan utamanya penjualan, konten kedua tentu perlu mendapat perhatian lebih.
UMKM juga bisa mencatat biaya yang dikeluarkan dan hasil yang diperoleh setiap influencer. Data tersebut dapat menjadi acuan ketika ingin menjalankan kampanye berikutnya.
7. Bangun Relasi Jangka Panjang dengan Influencer yang Performanya Bagus
Jika ada influencer yang berhasil membawa respons positif, hubungan kerja sama tidak perlu berhenti setelah satu konten. UMKM bisa mempertimbangkan kampanye lanjutan, peluncuran produk baru, program affiliate, atau kolaborasi konten secara berkala.
Kerja sama berulang juga memberi keuntungan dari sisi kepercayaan. Audiens sudah pernah melihat produk tersebut sebelumnya sehingga promosi berikutnya tidak terasa seperti kemunculan merek yang benar-benar baru.
Namun, evaluasi tetap perlu dilakukan setiap kampanye. Influencer yang berhasil mempromosikan satu produk belum tentu menghasilkan performa serupa untuk semua jenis produk. Data dari kampanye sebelumnya tetap menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya.
Baca juga: 10 Strategi Marketing Murah untuk UMKM agar Jualan Makin Laris
Kerja sama dengan influencer bisa menjadi pilihan promosi yang efektif bagi UMKM selama dilakukan dengan perencanaan yang tepat. Pilih kreator berdasarkan kecocokan audiens, tentukan tujuan sejak awal, sepakati bentuk konten dan biaya secara jelas, lalu ukur hasilnya menggunakan data yang sesuai.
Dengan cara tersebut, influencer bukan hanya menjadi tempat memasang iklan, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran yang membantu produk menjangkau calon pelanggan dengan lebih tepat.












