JNEWS – Memperingati hari Sumpah Pemuda, pertunjukan Gebyar Langen Tayub Pacitan mencatatkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan penari terbanyak.
Pertunjukan bertajuk “Pencatatan Rekor MURI: Pagelaran Tari Langen Tayub oleh Penari Terbanyak” ini diikuti sebanyak 5.288 penari dari 12 kecamatan dan 172 desa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Mereka menjalani latihan selama kurang lebih dua bulan sebelum ikut berpartisipasi.
Langen Tayub sendiri mengandung nilai guyub rukun, gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur. Filosofi tersebut tercermin dalam rangkaian Gebyar Langen Tayub Pacitan 2026, yang diawali dengan Ritual Slametan sebagai ungkapan syukur dan doa memohon kelancaran serta keberkahan, dilanjutkan Tari Gambyong sebagai tarian pembuka untuk menyambut dan menghormati tamu, serta Gedog Pakurmatan melalui pemberian sampur sebagai bentuk penghormatan kepada tamu undangan.
Dalam pertunjukan Tayub, ayunan sampur atau selendang menjadi simbol penghormatan dan keakraban, sementara gerak para penari yang berpadu menggambarkan sikap saling menghargai dan menjaga keharmonisan.
Rangkaian kemudian mencapai puncak melalui Tayuban Massal dalam dua sesi. Gending Dirgahayu menyampaikan doa bagi Indonesia agar panjang umur, makmur, dan sejahtera, sedangkan Mustika Pancasila menegaskan Pancasila sebagai pedoman hidup dan pemersatu bangsa. Sementara itu, Pisang Bali membawa pesan tentang kebijaksanaan dan tanggung jawab, serta Ricik-ricik menggambarkan kegembiraan sederhana, kebersamaan keluarga, dan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari.
Pencatatan Rekor MURI dengan tajuk “Pagelaran Tari Langen Tayub oleh Penari Terbanyak” menjadi capaian bersama masyarakat Pacitan. Keterlibatan 5.288 penari dari 12 kecamatan dan 172 desa, yang telah berlatih selama kurang lebih dua bulan, menunjukkan besarnya semangat masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah. *
Baca juga: Daftar Oleh-Oleh Khas Pacitan untuk Buah Tangan Keluarga










