JNEWS – Kesultanan Tidore merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah berjaya di kawasan timur Indonesia. Jejak peradaban kesultanan ini bisa dilihat dari megahnya Istana Tidore yang masih berdiri hingga saat ini.
Istana yang dikenal juga dengan sebutan Kadato Kie atau Kedaton Tidore ini menjadi pusat pemerintahan dan kediaman resmi para sultan Tidore selama berabad-abad. Bangunan ini adalah simbol kejayaan Kesultanan Tidore, salah satu kekuatan besar dan ditakuti oleh penjajah di kawasan Maluku Utara pada masa lampau.
Istana Tidore: Menelusuri Jejak Sejarah Kesultanan Tidore
Maluku Utara memiliki empat kesultanan besar yang disebut Moloku Kie Raha (persatuan empat kerajaan), yakni Ternate, Tidore, Makian, dan Moti. Di masa lampau, keempat kesultanan tersebut memiliki pengaruh yang kuat di kawasan timur Indonesia dan berperan penting dalam jalur perdagangan rempah-rempah serta penyebaran Islam.
Di abad ke-14 Masehi, terjadi Perjanjian Moti. Isi perjanjian itu membuat Kerajaan Makian pindah ke Bacan (Halmahera Selatan) dan Moti pindah ke Jailolo (Halmahera Barat). Dua kerajaan lainnya yakni Kesultanan Tidore dan Kesultanan Ternate, tetap berdiri utuh dan berdampingan walaupun sering bersaing dalam berbagai bidang, khususnya perdagangan rempah-rempah.
Kesultanan Tidore didirikan pada tahun 1081 M oleh Muhammad Naqil. Letak kesultanan ini tercatat beberapa kali mengalami pemindahan ibu kota. Adapun letak ibu kota yang terakhir berada di Limau Timore, yang kemudian berganti nama menjadi Soa Sio hingga saat ini.
Sebelum menjadi kesultanan bercorak Islam, Tidore memeluk kepercayaan Symman yakni memujua roh-roh leluhur nenek moyang. Peradaban Islam pertama kali masuk ke kesultanan ini saat masa Ciriliyati yang bergelar Sultan Jamaluddin (1495-1512 M).
Kejayaan Kesultanan Tidore terjadi di masa pemerintahan Sultan Saifuddin (1657-1689 M). Sultan Saifuddin berhasil membawa kemajuan yang pesat di Tidore dan membuatnya disegani oleh kesultanan lainnya di Maluku Utara.
Masa kejayaan Kesultanan Tidore pun berlanjut di era kepemimpinan Sultan Nuku di awal abad ke-19. Di masa tersebut, Sultan Nuku berhasil memperluas wilayah kekuasaan Tidore sampai ke Papua bagian Barat, Kepulauan Aru, Kepulauan Pasifik, dan Kepulauan Kei.
Semasa hidupnya, Sultan Nuku pun berjuang mengusir penjajah. Beliau dikenal memimpin Kesultanan Tidore dalam menumpaskan VOC. Di setiap pertempuran, barisan prajurit Sultan Nuku tidak pernah kalah.
Pada tahun 1805, Sultan Nuku tutup usia. Kondisi tersebut dimanfaatkan Belanda untuk merebut Tidore. Di internal kesultanan pun terjadi banyak polemik sehingga akhirnya Tidore jatuh ke tangan Belanda.
Kesultanan Tidore akhirnya lepas dari tangan penjajah seiring kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kesultanan ini pun memutuskan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kendati demikian, struktur kesultanan tidak sepenuhnya hilang walaupun tidak memiliki kekuasaan politik formal. Kesultanan Tidore tetap bertahan sebagai entitas budaya dengan Istana Tidore sebagai pusatnya.
Baca juga: 11 Tempat Wisata di Tidore: Alam, Bahari, dan Sejarah
Pesona Istana Tidore, Saksi Bisu Kejayaan Kadato Kie di Maluku Utara

Istana Tidore berdiri megah di perbukitan Kota Tidore. Pemandangan dari istana ini sangat memesona karena menghadap ke arah timur laut, jadi bisa melihat laut lepas dan selat Tidore. Sedangkan latarnya, ada Gunung Kie Matubu, gunung tertinggi di Tidore.
Lokasi dari istana yang strategis ini menunjukkan sisa-sisa kejayaan maritim dari Kesultanan Tidore. Di Kadato Kie ini juga menjadi tempat diplomasi dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Awal mula pendirian Istana Tidore ini terjadi ketika Sultan Saifuddin, atau dikenal dengan nama Kaicil Golofino, memindahkan ibu kota ke Limau Timore. Hal tersebut dilakukan karena konflik dengan Portugis dan Spanyol telah usai.
Di Limau Timore, dibangunlah kedaton dengan nama Kadato Ijo, yang lebih dikenal dengan sebutan Fola Ijo. Penamaan tersebut dilatari karena bangunannya berwarna hijau.
Istana Tidore ini dibangun lebih luas dan permanen pada masa kepemimpinan Sultan Mutahuddin Muhammad Tahir. Dari beberapa literatur ada yang menulis di tahun 1810, ada juga yang menuliskan tahun 1812. Namun yang pasti, istana tersebut dibangun di pemerintahan Sultan Mutahuddin yang berlangsung dari tahun 1810-1821.
Pembangunan Istana Tidore dilanjutkan hingga tahun 1856 di masa Sultan Ahmad Syaifuddin. Nama Limau Timore lalu berganti menjadi Soa Sio hingga saat ini.
Dari segi arsitektur, Kadato Kie tergolong unik. Bentuknya menyerupai kalajengking jantan. Seluruh bangunan didominasi warna putih, hijau, merah, hitam, dan kuning yang melambangkan lima waktu salat dalam Islam. Putih untuk Subuh, kuning untuk Zuhur, hijau untuk Asar, merah untuk Magrib, dan hitam untuk Isya.
Bangunan megah ini terdiri dari dua lantai dan dibangun di atas lahan seluas 150×100 meter. Di bagian dalam istana, ada beragam ruangan yang ditujukan untuk berbagai keperluan. Mulai dari urusan pemerintahan, upacara adat, dan kegiatan sehari-hari sultan bersama keluarganya.
Kemegahan Istana Tidore mengalami keruntuhan karena gejolak internal kesultanan pada tahun 1912. Kondisi tersebut pun makin diperburuk oleh kolonial Belanda yang menerapkan politik divide et impera.
Kurang lebih hampir satu abad, istana dalam kondisi runtuh. Di tahun 1997, atas dorongan sultan ke-36 Kesultanan Tidore, Sultan Djafar Syah, Kadato Kie pun memulai proses pemugaran.
Proses rekonstruksi berlangsung hingga tahun 2010. Kadato Kie pun kembali berdiri megah dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Tidore. Sekarang ini Kesultanan Tidore di bawah kepemimpinan sultan ke-37 yakni Husain Alting Sjah.
Kadato Kie kembali difungsikan sebagai pusat pariwisata dan ragam kegiatan budaya. Istana ini terbuka bagi siapa saja yang datang untuk mempelajari tentang sejarah dan budaya Kesultanan Tidore. Acara adat dan upacara kebudayaan juga kerap diadakan di istana, sehingga menjadikannya sebagai pusat pelestarian budaya dan tradisi lokal.
Peninggalan Bersejarah di Istana Tidore

Memasuki bagian dalam Istana Tidore, pengunjung akan menemukan berbagai peninggalan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang kesultanan ini berabad-abad lalu. Berikut ini ulasannya.
1. Takhta Sultan
Walaupun pernah mengalami keruntuhan, ada beberapa peninggalan bersejarah Kesultanan Tidore masih lestari hingga sekarang, salah satunya adalah takhta sultan.
Desain takhta sultan Kadato Kie terlihat sederhana tapi megah. Terbuat dari kayu, singgasana sultan berwarna hitam dengan corak menonjolkan elemen khas Kesultanan Tidore. Untuk warna penyangganya didominasi warna hijau. Sedangkan lantainya ditutupi dengan karpet warna merah.
2. Artefak
Berbagai artefak masih tersimpan rapi di Istana Tidore, seperti peralatan perang (tombak dan pedang), perabotan istana, juga pakaian pakaian tradisional yang dikenakan oleh sultan dan permaisuri di acara adat maupun resmi.
3. Makam Sultan Nuku
Tidak jauh dari area Istana Tidore, ada makam Sultan Nuku yang dikenal sebagai pembawa kejayaan di Kesultanan Tidore. Area makam ini selalu ramai oleh pengunjung berbagai daerah yang datang untuk berziarah.
Baca juga: Istana Ternate: Jejak Kejayaan Kesultanan di Maluku Utara
Istana Tidore tidak hanya bangunan yang megah, tapi cerita-cerita perjuangan yang melekat di setiap sudut menunjukkan bahwa Kesultanan Tidore adalah bagian penting dalam sejarah Nusantara.












